Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah perubahan secara kualitatif dari fungsi-fungsi pribadi manusia. Perkembangan seorang individu takkan berlangsung begitu saja. Perubahan itu kekal. Semuanya melalui sebuah tahap atau fase-fase perkembangan yang berjalan maju dan takkan pernah berjalan mundur. Perkembangan pada individu melibatkan berbagai factor yang saling bertautan satu sama lain. Selama menjalani perkembangan, seorang individu akan melewati suatu fase-fase menuju kesebuah perubahan.
Menurut beberapa ahli seperti Seifert dan Hoffnung mendefinisikan perkembangan sebagai “long term change in a persons growth, feeling, patterns of thinking, social relationships,and motor skills”. Yaitu perkembangan itu merupakan perubahan panjang pada pertumbuhan manusia, perasaan, pola piker, hubungan social, dan kemampuan motorik.
Sementara itu Chaplin mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai dari lahir sampai mati. Artinya perubahan atau perkembangan  itu terjadi secara berkelanjutan. Bukan dalam artian perkembangan itu berhenti sejenak, lalalu kemudian berlanjut, tapi  terjadi secara berangsur-angsur sesuai dengan levelnya, tahapnya yang disesuaikan dengan mental dan keadaan diri tentunya.
Menurut Reni Akbar Hawadi, perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Artinya, perkembangan itu merupakan proses perubahan yang mulai dari tidak ada menjadi ada, dari kurang menjadi bisa atau lebih dalam konteks kemampuan, sifat dan cirri-ciri.5 |fase-fase perkembangan
Menurut F.J. Monks, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Dengan kata lain, perkembangan itu berubah dari hal yang kurang menuju yang hal yang lebih, atau yang kita sebut sebagai keunikan. Tidak dapat diulang dalam hal ini diartikan bahwa perkembangan itu terjadi secara kontinyu, berkelanjutan, berkesinambungan dan tentunya terorganisir. Pernyataan ini cukup mirip dengan pernyataan yang dinyatakanoleh Reni Akbar Hawadi di atas.
Perkembangan menunjuk kepada sifat yang tetap,kekal dan memang tidak dapat diputar kembali, sebab perkembangan itu identik dengan yang kita sebut sebagai perubahan. Dan hanya perubahan yang bersifat kekal. Tapi bukan berarti perkembangan it terus dan terus terjadi, tapi ada saat-saat mereka cepat dan ada pula saat perkembangan itu mulai melambat atau dapat kita sebut mendekati puncak perkembangan, karena dasar kita berpikir seperti ini adalah manusia itu tidak ada yang sempurna. Dan lewat perubahan itu, manusia atau individu membenahi diri.
         1.     Perkembangan Psikologis anak usia 4 – 8 tahun
Perkembangan psikologis anak merupakan suatu rentetan yang rumit dan sulit dipahami, walaupun manifestasinya terlihat dari luar berupa aksi, sikap dan kepribadian anak. Perkembangan psikologis juga erat hubungannya dengan usaha untuk memiliki pengetahuan, keahlian dan kebutuhan emosional. Kondisi pematangan psikologis dan fisik terjadi berdasarkan rancangan dan urutan yang sesuai dengan bawaan, yang tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang dapat mempercepat perkembangan itu.
Seorang anak tidak dapat dilatih untuk mempunyai tingkah laku tertentu, sebelum ia cukup matang atau sebelum ia sampai pada suatu taraf tertentu yang memungkinkan latihan itu berhasil. Meskipun urutan dan kecepatan proses pematangan ditentukan oleh faktor-faktor keturunan, keadaan lingkungan sekitarnya juga mempunyai peranan sebagai pendorong dan penyesuaian dari tahap-tahap perkembangan. Perkembangan psikologis adalah hasil perpaduan antara kekuatan faktor keturunan yang ada pada diri si anak dan lingkungannya. Keadaan lingkungan yang baik akan mencapai hasil yang optimal terhadap kekuatan yang diperoleh dari keturunan pada seorang anak. Sebaliknya bila keadaan lingkungan tidak baik, dapat menghambat bakat-bakat yang ada.
Ukuran tingkah laku yang normal pada umur 4-8 tahun :
a.       Anak yang berumur 4 tahun
Umur ini disebut juga umur mengapa dan bagaimana (Why and How age) dan merupakan suatu masa bagi anak untuk menyatakan perasaan berdiri sendiri (independent), perlawanan atau reaksi, banyak bicara dan menganggap dirinya serba bisa, dapat bergaul dengan teman sebaya, sudah dapat diberi petunjuk-petunjuk secara lisan dan suka bekerjasama.
b.      Anak yang berumur 5 dan 6 tahun
Pada umur ini, pada umumnya anak sudah bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, suka dipuji dan percaya pada diri sendiri. Pada umur 6 tahun, mulai mau bergaul dengan orang-orang di luar rumahnya terutama anak-anak yang ditemui di sekolah atau tempat bermain, timbul perasaan sosial dengan beraneka ragam dan dalam kelompok, selalu bertanya.
c.       Anak umur pra-remaja (pre-adolescent years)
Pada umur antara 8 tahun dan belasan tahun, kecenderungan ke arah penonjolan hak-hak istimewa seorang dewasa dan kesetiaan terhadap teman-teman  sekolah/kelompok, persaingan dalam olah raga, perlu diberi disiplin dan tanggung jawab.

Tahap-tahap Perkembangan Anak umur 4 – 8 tahun
Menurut Aristoteles sebagai berikut :
Pada usia 4-5 tahun, pola tingkah lakunya yaitu :
·      Sudah menggunakan konsep bahasa
·      Mengenal lingkungan luar rumah atau bermain dengan anak lain
·      Membedakan laki-laki dengan perempuan
·      Berkembang kebutuhan akan pujian dan hadiah
·      Tingkah lakunya mulai menghindarkan celaan dan hukuman
Ciri-ciri perkembangan masa pra sekolah :
a.       Perkembangan motorik/fisik
Anak-anak pada usia ini lebih lincah dan aktif. Terjadi juga perubahan dalam hal ukuran, ketrampilan penggunaan otot, koordinasi motorik.
b.      Perkembangan sosial
c.       Terjadi perubahan dari fungsi ketergantungan ke fungsi ketergantungan ke fungsi mandiri. Pergaulan anak bertambah luas, ingin melakukan berbagai kegiatan, menunjukkan proses pertumbuhan ke arah fungsi mandiri.
d.      Perkembangan intelektual
e.       Fungsi berpikir dan kemampuan berbahasa akan berkembang karena pematangan fungsi berpikir dan organ-organ bicara.
f.       Masa anak sekolah
Masa ini disebut juga masa latent, perlakuan baik pada perawatan gigi yang diberikan pada masa sebelumnya akan bermanfaat untuk waktu yang akan datang. Masa ini berlangsung antara umur 6-12 tahun.
Menurut beberapa ahli yang terdahulu berpendapat masa ini adalah masa kehilangan gigi; masa perubahan fisik yang cepat; masa meraih identitas yang tidak tergantung kepada orang lain; masa untuk mengalami kelakuan dan berpikir realistik. Untuk dokter gigi dapat memanfaatkan periode/masa ini, karena anak menganut tingkah laku untuk melibatkan diri, anak dapat menerima alasan-alasan untuk mengurangi rasa cemasnya.

3) Usia 4-6 tahun
Anak usia 4-6 tahun memiliki karakteristik antara lain:
·         Berkaitan dengan perkembangan fisik,anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan
·         Perkembangan bahasa juga semakin baik
·         Perkembangan kognitif (daya fikir) sangat pesat,ditunjukkan dengan rasa ingin tahu  anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar
·         Bentuk permainan anak masih bersifat individu,bukan permainan sosial

4) Usia 7-8 tahun
Karakteristik perkembangan anak usia 7-8 tahun antara lain:
·         Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat
·         Perkembangan sosial,anak mulia ingin melepaskan diri dari otoritas orangtuanya
·         Anak mulai menyukai permainan sosial
·         Perkembangan emosi

      2.     Perkembangan motorik Anak Berdasarkan Tahapan Perkembangan        Usia 4 – 8 tahun
D. Periode Akhir Pra-Sekolah (Usia 4 Tahun)
·         Mengenali tanda atau tulisan yang sering dijumpai
·         Mengeluarkan kata-kata yang lucu dan bernada sama di akhir kata (contoh main, lain)
·         Mengenali dan menulis huruf dengan benar
·         Menulis dan membaca nama mereka sendiri
·         Mulai membunyikan huruf pertama dari sebuah kata
·         Mampu mencocokkan beberapa huruf dan bunyinya
·         Menggunakan beberapa huruf yang sudah dikenal untuk kemudian dirangkai menjadi kata
E. Periode Taman Kanak-kanak (Usia 5 Tahun)
·         Memahami nada dan permainan nada
·         Mencocokkan beberapa kata yang diucapkan dengan penulisannya
·         Memahami aturan penulisan yang kebanyakan ditulis dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah
·         Menuliskan beberapa kata dan sejumlah angka
·         Mengenali beberapa kalimat yang sering didengar
·         Menebak kisah selanjutnya dalam suatu cerita
·         Mengungkapkan kembali cerita yang baru disampaikan kepada mereka
F. Periode Sekolah Dasar Tahun Pertama dan Kedua (Usia 6-7 Tahun)
·         Mampu membaca beberapa cerita yang terkenal
·         Mampu mengucapkan kata yang belum/baru dikenal
·         Menggunakan gambar atau kata-kata untuk mengungkapkan kalimat yang baru dikenal
·         Menggunakan beberapa tanda baca yang telah dikenal dan huruf kapital dalam tulisannya
·         Mampu mengoreksi sendiri bila ada kesalahan dalam membaca buku
·         Menunjukkan kemampuan menguasai buku lewat menggambar
G. Periode Sekolah Dasar Tahun Ketiga dan Keempat (Usia 7-8 Tahun)
·         Membaca buku lebih lama tanpa bantuan
·         Membaca buku dengan keras disertai mimik dan ekspresi
·         Menggunakan bahasa dan gambar untuk mengungkapkan kalimat yang belum dikenal
·         Memahami konsep paragraf dan mulai diterapkannya dalam menulis
·         Menggunakan tanda baca dengan benar
·         Mengucapkan kalimat sederhana dengan tepat
·         Menuliskan catatan singkat seperti pesan dari telepon atau email
·         Menikmati permainan kata
·         Mengucapkan kalimat, frase, atau pembicaraan yang baru mereka dengar
·         Memperbaiki kesalahan tulisan yang mereka tulis sendiri
         3.     Perkembangan Moral Anak Usia 4 – 8 Tahun
Fase : Patuh Tanpa Syarat (Authority-oriented morality)
Menurut Brofenbrenner fase ini disebut authority-oriented morality (Moralitas Berdasarkan Figur Otoritas), yaitu anak percaya sekali kepada definisi baik dan buruk menurut figure otoritas, seperti orang tua atau guru. Sedangkan Kohlberg mangatakan bahwa fase ini adalah disebut fase “balas membalas” (exchange stage), dimana anak sudah mengerti akan kepentingan orang lain, tetapi masih dalam konteks “apa yang dapat saya peroleh”.
Menurut Thomas Licktona, fase ini berkisaar antara usia 4 ½ sampai 6 tahun, yang disebut fase patuh tanpa syarat. Anak-anak pada usia ini lebih mudah menurut dan diajak kerja sama, sehingga mereka mudah mengerjakan perintah orang tua atau guru. Alasan mereka ingin patuh karena agar terhindar dari masalah atau hukuman. Namun adalakanya anak-anak usia ini masih menunjukan perilaku anak-anak fase 1, yaitu sangat egosentris. Hal ini berarti anak-anak tersebut perkembangan moralnya tidak optimal.
Licktona mengatakan bahwa ciri khas perkembangan moral anak-anak fase ini adalah:
1.   Dapat menerima pendangan orang lain, namun pandangan yang dianggap benar adalah orang dewasa.
2.   Bisa menghormati otoritas orang tua (guru).
3.   Menganggap bahwa orang dewasa adalah maha tahu dan mudah untuk melihat kawannya yang nakal atau melanggar aturan.
4.   Sedang mengadukan kawan-kawannya yang nakal karena menganggap orang dewasa adalah satu-satunya panutan moral. Mereka menganggap bahwa yang melanggar peraturan harus dihukum, dan yang baik harus diberi hadiah.
5.   Walaupun meraka berpikir bahwa mereka harus mematuhi aturan, apabila tidak ada orang dewasa/guru yang melihat, mereka cenderung melanggarnya. Mereka belum mengerti mengapa peraturan dibuat.
Pada fase ini pendidikan karakter dapat diberikan secara kontrol eksternal dimana guru dapat secara otoritatif mengajarkan moral baik atau buruk. Mereka percaya sekali bahwa apa yang dikatakan guru adalah benar adanya, maka penekanan pentingnya perilaku baik dan sopan akan sangat efektif dilakukan pada fase ini. Namun Licktona mengatakan bahwa pendekatan pendidikan karakter harus pula memberikan peluang bagi anak untuk mengerti alasan-alasan lain di luar alasan otoritas guru. (Misalnya, alasan mengapa mencuri tidak baik, anak fase ini pasti memberikan alasan karena takut dihukum, tetapi tidak bisa melihat pada tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu perlu diberikan perspektif misalnya, bagaimana kalau kawan kamu mencuri mainan kesukaan kamu?).
Membangun karakter initiasif atau kreativitas adalah penting pada fase umur 3 sampa usia sebelum 5 tahun, yang disebut Erikson sabagai fase intiative versus guilt (inisiatif lawan rasa bersalah). Mereka harus diberi kesempatan untuk memilih dan menyalurkan kreativitasnya. Mereka dapat dilibatkan dalam diskusi untuk merencanakan kegiatannya. Selain itu mereka dapat diberikan tanggung jawab atas perilakunya, mainan, serta hewan peliharaanya. Tanggung jawan ini akan menumbuhkan initiatif. Apabila mereka merasa mampu untuk berinisiatif untuk melaklukan kegiatan sesuai dengan yang diinginkannya, maka akan menumbuhkan rasa kemampuan diri, kreativitas, dan berani mencetuskan ide-idenya, serta menjalankan ide-idenya. Semua ini adalah modal bagi pertumbuhan kematangan emosional selanjutnya. Sebaliknya, apabila anak banyak dilarang dan tidak diberikan kesempatan untuk mengambil inisiatif, maka mereka akan menjadi pribadi yang apatis tidak mampu mengambil inisiatif, tidak kreatif, dan rendah diri.
Pada usia berikutnya (6 ½ - 8 tahun), Thomas Lickona mengatakan bahwa ada perbedaan cirri perkembangan moral pada tahap sebelumnya (4 ½ - 6 tahun). Walaupun alasan berbuat baik masih dalam tahap egosentris, yaitu untuk kepentingan pribadi juga, selain alasan “saya harus mengontrol diri saya dan berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik kepada saya” (exchange stage).
Ciri khas perkembangan moral anak-anak pada fase usia 6 ½ - 8 tahun menurut lickona adalah :
*      Mereka merasa bahwa anak-anak juga mempunyai hak seperti orang dewasa, dan mempunyai keinginan untuk mandiri.
*      Tidak lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak
*      Mempunyai konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas. Hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik padanya, begitu pula dalam membalas kejahatan.
*      Mengerti perlunya berprilaku baik, agar disenangi orang lain.
*      Sering membanding-bandingkan dan meminta perlakuan adil (“Dia mendapatkan kue yang lebih besar!”).
*      Cenderung melanggar perintah kalau ia tidak dapat bernegosiasi terhadap apa yang ia pikir adil.
*      Mempunyai potensi untuk bertindak kasar yang bermuara pada semakin turunnya otoritas orang dewasa dimata mereka, dan bisa bersikap tidak sensitive terhadap parasaan orang lain. Hal ini terjadi karena pada tahap ini mereka belum bisa melihat dari sisi orang lain atau masih egosentris.
*      Kurang bisa melihat suatu tindakan yang salah kecuali kalau melihat hasilnya yang membahayakan, dan sering beranggapan bahwa berbohong atau curang adalah tidak apa-apa.
*      Lebih banyak telibat perkelahian dan saling meledek antar kawannya karena mereka beranggapan karena mereka beranggapan bahwa segala sesuatu harus dibalas.
Mengajarkan moral kepada anak-anak pada tahap ini dapat memakai kecenderungan prinsip timbal-balik mereka (“kamu harus melakukan itu, kalau kamu melakukan ini untuk saya”). Dapat melakukan negosiasi untuk mendapatkan kesepakatan yang dianggap adil bagi mereka dan adil bagi anda. Namun orang tua/pendidik harus memberikan pengertian agar mereka dapat mencapai perkembangan moral tahap berikutnya. Karena kalau tidak, anak hanya berpikir prinsip timbal-balik, atau balas-membalas sampai dewasa (kita tahu banyak sekali orang dewasa yang tahapan moralnya hanya sampai pada tahap ini).
Lickona mnganjurkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendorong anak berkembang pada tahap selanjutnya :
*      Berikan pengertian akan pentingnya “karena cinta” dalam melakukan sesuatu, tidak semata-mata prinsip keadilan saja (timbal balik).
*      Tekankan nilai-nilai agama yang menjunjung tinggi nilai cinat dan pengorbanan.
*      Ajak mereka untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
*      Bantu mereka untuk berbuat sesuai dengan harapan-harapan anda, tidak hanya karena ingin mendapatkan hadiah/pujian, atau menghindari hukuman.
*      Ciptakan hubungan yang mesra agar mereka peduli terhadap keinginan dan harapan-harapan anda.
*      Ingatkan bahwa mereka antar keluarga harus saling saying, dan perluas rasa sayang ini ke luar
*      keluarga, yaitu ssayang terhadap sesama manusia.
*      Berikan contoh perilaku anda dalam hal menolong dan peduli orang lain.

         4.     PERKEMBANGAN EMOSI)
Menurut Pulaski perkembangan emosi pada usia 4 – 8 tahun berada pada fase :
Tahap II : Pre Operasional ( 2 – 7 tahun)
Perubahan fungsi kognitif pada tahap ini adalah dari sensori motorik menjadi pre operasional. Pada pre operasional anak mampu menggunakan simbol-simbol, yaitu menggunakan kata-kata, mengingat masa lalu, sekarang dan yang akan terjadi segera. Tingkah laku anak berubah menjadi egosentrik.
Tahap III : Konkrit Operasional (7 -11 tahun)
Pada tahap ini anak telah dapat berpikir secara logis dan terarah, mengelompokkan fakta-fakta serta anak telah mampu berpikir dari sudut pandang orang lain. Ia dapat berpikir secara abstarak, dan mengatasi persoalan secara nyata dan sistematis. Contoh : anak dapat menghitung walaupun susunan benda diubah serta mengatahui jumlahnya tetap sama.
         5.     Teori perkembangan Kognitif Piaget (1952)
fase preoperasional (2-7 tahun) yaitu pada tahap :
·                      Pemikiran intuitif (4-7)
Pemikiran intuitif adalah subtahap kedua dalam pemikiran praoperasional, mulai sekitar usia empat tahun dan berlangsung sampai usia tujuh tahun. Pada subtahap ini, anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan. Piaget menyebut tahap ini sebagai "intuitif' karena anak-anak tampaknya merasa yakin terhadap pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi tidak menyadari bagaimana mereka bisa mengetahui apa-apa yang ingin mereka ketahui. Artinya, mereka mengatakan bahwa mereka tahu sesuatu tetapi mereka mengetahuinya tanpa menggunakan pemikiran rasional.
Ada beberapa cirri pemikiran yang lain :
·                      Pemikiran egosentris
Pemikiran ini menyatakan bahwa anak percaya setiap orang itu berpikir sama denganya, dan ialah yang paling benar. Ketika bertemu dengan pandangan yang berlawanan maka ia akan berpikir bahwa orang lain itu salah dan ialah yang benar. fase-fase perkembangan :
Ø                 Adaptasi yang tidak disertai gambaran yang akurat
kemampuan anak untuk menyajikan dan mengingat pengalaman belum terstruktur secara menyeluruh. Misalanya anak disuruh mengambarakan suatu jalan menuju sekolah, ia hanya akan menggambarkan beberapa tempat yang kebetulan dingat dan diminatinya dan itu pun urutannya dapat terbalik- balik.
Ø                  Reversibilitas belum terbentuk
Kemampuan berpikir anak belum mampu mengulangi lagi gambarannya dari belakang kemuka.
Ø                 Pengertian kekekalan belum lengkap
Kekekalan berarti konsep yang menyatakan bahwa jumlah atau kuantitas suatu benda tetap sama meskipun ada perubahan unsure-unsurnya.
Ø                  Klasifikasi figurative
Disini anak mulai mampu menyusun atau mengklasifiaksikan benda berdasarkan pengtahuan figurative. Namun masih belum mampu dalam mengklasifikasikan kesamaan dan perbedaan.   
   Ø  · Relasi ordinal /serial
Disini anak masih bingung dalam  membandinghkan suatu hal. Sehingga dalam penyusunan missal menyususn tongkat sesuai ketinggian sering keliru.
   Ø  · Kausalitas
Anak mulai menyadari adanya konsep sebab-akibat, mulai mempertanyakan dirinya beserta lingkungannya, mekipun belum menangkap keseluruhannya.fase-fase perkembangan :
Menurut Piaget, anak pada tahap pra-operasional juga tidak bisa melakukan apa yang disebutnya sebagai "operasi" (operation). Dalam teori Piaget, operasi adalah representasi mental yang dapat dibalik (reversible). Seperti dalam percobaan gelas kimia tersebut di atas, anak-anak prasekolah biasanya kesulitan untuk memahami bahwa membalikkan suatu tindakan akan menghasilkan kondisi awal dan tindakan tersebut. Dua contoh berikut ini akan membantu Anda memahami konsep operasi menurut Piaget. Seorang anak kecil mungkin tahu
bahwa 4 + 2 = 6, tetapi ia tidak tahu bahwa kebalikannya, yakni 6 - 2 = 4 adalah benar.
Tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun,mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut
berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
         6.   Kesadaran Beragama
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah adalah dia dianugerahkan fitrah (perasaan dan kemmapuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata lain manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama), karena memiliki fitrah ini, kemudia manusia dijuluki sebagai ”homo devians”, yaitu makhluk yang bertuhan atau beragama.
Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembnag. Namun mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, ”setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena orang tuanyalah, anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi”. Hadits ini mengisyaratkan bahwa faktor lingkungan (terutama orang tua) sangat berperan dalam perkembangan fitrah keberagaman anak.

           7.     Teori Perkembangan Psycho-Sosial
Fase perkembangan manusia tidak terlepas dari proses pertumbuhan manusia itu sendiri akan tetapi fase perkembangan pada diri manusia berbeda dari makhluk-makluk lainnya mempunyai fromi yang khusus. Ia mempunyai fungsi mengikat (fungsi mnemic) dan ia memiliki fungsi realisasi diri (dinamakan entelecbt) yang menyebabkan manusia bisa berkembang ke arah bisa dikehendakinya sendiri (sarwono, 1986 : 8 & 23).
*      Perkembangan anak usia 4 – 8 tahun  menurut Charlote Buhler berada pada fase :
Fase 5-8 tahun : masuk pada sosialisasi anak. Pada saat ini anak mulai memasuki masyarakat luas (misalnya taman kanak-kanak, pergaulan dengan kawan-kawan sepermaian dan sekolah rendah).
*      Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psycho-sosial anak usia 4 – 8 tahun berada pada fase yaitu :
1.      Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)
Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
2.      Industry/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)
Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
          8.     Yang bisa dilakukan orang tua dalam membangun karakter anak
*      Fase usia 4 tahun. Anak mengalami fase egosentris. la senang melanggar aturan, memamerkan diri, dan memaksakan keinginannya. Namun anak mudah didorong untuk berbuat baik, karena ia mengharapkan hadiah (pujian) dan menghindari hukuman. la sudah memiliki kemampuan berempati. Contoh pendidikan karakter: memberikan pujian agar anak berperilaku baik dan memberikan arahan yang jelas ("Anak yang baik, tidak akan memukul temannya."), memberikan aturan atau sanksi yang jelas ("Anak yang berteriak tidak sopan, tidak akan mendapat kesempatan menggambar di papan tulis.").
*      Fase 1 (umur 4,5-6 tahun). Anak-anak lebih penurut dan bisa diajak kerja sama, agar terhindar dari hukuman orangtua. Anak sudah dapat menerima pandangan orang lain, terutama orang dewasa; bisa menghormati otoritas orangtua/guru; menganggap orang dewasa maha tahu; senang mengadukan teman-temannya yang nakal. Namun jika pada fase ini perilakunya masih seperti fase 0 berarti perkembangan karakternya tidak optimal.
Anak-anak pada fase ini sangat mempercayai orangtua/ guru, sehingga penekanan pentingnya perilaku baik dan sopan akan sangat efektif. Namun pendidikan karakter pada fase ini harus memberi peluang pada anak untuk memahami alasan-alasannya. Orangtua tidak cukup hanya mengatakan, misalnya, "Mencuri itu tidak baik." Namun juga perlu memberikan perspektif "Bagaimana kalau kawanmu mencuri mainan kesukaanmu?".
*      Fase 2 (usia 6,5 - 8 tahun). Anak merasa memiliki hak sebagaimana orang dewasa; tidak lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak; mempunyai potensi bertindak kasar akibat menurunnya otoritas orangtua/ guru, dalam pikiran mereka; mempunyai konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas ("Kalau si A berbuat baik pada saya, saya akan baik pada dia"); memahami perlunya berperilaku baik agar disenangi orang lain; sering membanding-bandingkan dan minta perlakuan adil.  
       9.  Faktor-faktor yang diharapkan ikut mendukung keberhasilan perkembangan anak antara lain:
a.       Orangtua memiliki pengetahuan sederhana mengenai kesehatan anak, konsep tumbuh kembang, dsb.
b.      Orangtua tidak mempunyai masalah kejiwaan.
c.       Anak dibesarkan dengan cermat dan tidak menelantarkan, misalnya membawa anak berobat bila sakit, melindungi, dsb.
d.      Rumah terawat, terpelihara dan menyenangkan sebagai tempat tinggal yang rapi, bersih, nyaman dan sehat.
e.       Keluarga mampu mencari nafkah dan mengatur keuangan keluarga.
f.       Orangtua mengikuti program keluarga berencana.
g.      Kegiatan keluarga teratur.
h.      Hubungan antar anggota keluarga dan dengan tetangga dalam keadaan harmonis, bersahabat, dan saling menghormati.
          10.   9 Pilar Karakter yang selayaknya diajarkan kepada anak-anak                 (disusun  oleh Indonesian Heritage Foundation) :
1.      Cinta Tuhan dan Kebenaran ( Love Allah, Trust, reverence, loyalty)
2.      To educate a person in mind and not in morals is to educate a manace to society (mendidik seseorang hanya dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah mendidik marabahaya kepada masyarakat). – Theodore Roosevelt – Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness)
3.      Amanah (Trustworthiness, reliability, honesty)
4.      Hormat dan santun (respect, courtesy, obedience)
5.      Kasih saying, kepudilian, dan kerjasama (love, compassion, caring, empathy,  generousity, moderation, cooperation)
6.      Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determintion, and enthusiasm)
7.      Keadilan dan kepimimpinan(justice, fairness, mercy, leadhership)
8.      Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty)
9.      Toleransi dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)
Seperti halnya perkembangan motorik, mental, dan social anak yang berjalan secara bertahap dan memerlukan pendekatan yang patut sesuai dengan tahapan umur anak, pendidikan karakter yang diberikan kepada anak juga harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan moral anak


Daftar Pustaka

http://petualangankita.blogspot.com/2010/03/perkembangan-anak-usia-0-8-tahun.html
http://www.childcare-center.com/tumbuh-kembang.html
http://www.trinoval.web.id/2009/04/pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-usia.html
Hurlock B Elizabeth, Developmental Psikologi; Mc Grow Hill, Inc, 1980, Alih Bahasa,
Istiwidayanti dan suedjarwo, Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta, Erlangga, tt.
Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta. 1998 : 1 – 63.
Yusuf Syamsu; Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung : Remaja Rosdakarya.                       

0 komentar:

Poskan Komentar

Ping your blog, website, or RSS feed for Free