Nama : Erlita (0704015072)

             Gina lestari (0704015105)

Tugas : Farmakologi tentang Analgetik

ANALGETIK

Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psikis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.

Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau kejang-kejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-prostagladin, serta ion-ion kalium.

 

Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal.

2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal

3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum.

4. Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgeti non-narkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin).

Obat analgetik ini terbagi pada dua kategori besar yakni Obat Analgetik Narkotik dan Obat Analgetik Non-Narkotik.

a. Obat Analgetik Narkotik

Merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis.

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

 

Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

a. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin.

b. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :

· Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil

· Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-ptopoksifen

· Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.

b. Obat Analgesik Non-Nakotik

Dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/ Analgetika/ Analgesik Perifer.

Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.

 

Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:

a. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat

b. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol

c. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunan-turunannya

d. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.

 

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya jangan menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.

 

Analgetik dan antipiretik

Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang berperan dalam mengatur nyeri dan temperatur. AINS seleklif dalapat mempengaruji hipotalamus yang dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh keti demam. Mekanisme kemugkinan memghambat sintesis prostaglandin yang menstimulasi SSP.PG dapat meningkatkan aliran darah ke perifer berkeringat sehingga panas banyak keluatr dari tubuh.

Efek analgetik timbil karena mempengaruhi baik dihipotalamus atau ditempat cedera. Respon terhadap cidera umumnya berupa inflamasi di pada persendian, udem, serta pelepasan zat aktif seprti brakidin, PG. dan histamine. PG dan brakidin menstimulasi ujung syaraf perifer denagn membawa infuls nyeri ke SSP. Obat-obat yang banyak digunakan untuk analgetik dan ntipiretik adalah golongan salisilat dan asetaminofen. Asam salisilat penghambat sintesi PG paling epektif dibandingkan dengan salisilat.

Contoh obatnya:

Asetaminofen ( Parasetamol )

Obat ini bermanfaat untuk analgetik dan antipiretik. Efek antipiretik terjadi karena langsung mempengaruhi pusat penagturan panas di hipotalamus. Parasetamol efek untuk kepala karena kemampuanya menghambat sintesa PG di SSP, tetapi tidak menghambat sintesa PG di perifer sehinng tidak efektif untuk radang, nyeri otot dan atritis. Dalam pemakain parasetamol tidak menyebabkan iritasi pada lambung. Jadi parasetamol lebih banyak digunakan untuk antipiretik di banding analgetik karena hanya mempengaruhi di SSP saja.

Aspiririn

Aspirin memiliki efek analgetik, antipiretik dan antiinflamasi. Aspirin lebih banyak digunakan untuk analgetik di banding dengan antipiretik karena aspirin selain mempengaruji di SSP tatapi juga mempengaruhi di perifer sehingga banyak di gunakan untuk analgetik perifer. Aspirin dapat mengiritasi lapisan mukosa lambung

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Priyanto, 2008.Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa keperawatan dan Farmasi. Lenskofi. Jakarta

2. Katzung,B.G.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, ed IV.Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC.

0 komentar:

Posting Komentar

Ping your blog, website, or RSS feed for Free