(KODE : PTK-0060) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar mata pelajaran fisika di kelas VIII salah satu SMP negeri di X, ditemukan siswa kurang aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini diduga karena aktivitas belajar siswa rendah. Hanya sebagian kecil siswa yang aktif terlibat dalam pembelajaran, selebihnya hanya mencatat dan diam di tempat duduk tanpa melakukan aktivitas belajar yang mendukung kegiatan pembelajaran. Selain itu, hasil nilai ulangan harian terakhir hanya 20% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk kompetensi yang diujikan.
Sebagai data penguat untuk mengidentifikasi kondisi tersebut, dilakukan penyebaran angket berkaitan dengan aktivitas belajar siswa. Data yang diperoleh dari penyebaran angket adalah sebagai berikut.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Data tersebut menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan rata-rata 19%, sehingga dalam kegiatan pembelajaran rata-rata hanya 8 orang siswa dari 40 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran dengan aktif. Fakta ini menunjukkan adanya permasalahan dalam pembelajaran fisika di kelas tersebut.
Dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pasal satu tentang sistem pendidikan nasional, "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara".
Sementara itu, menurut Hamalik (2009:171) pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas belajar sendiri, siswa belajar sambil bekerja, dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Selanjutnya, ada beberapa syarat yang diperlukan untuk melaksanakan pengajaran yang efektif, antara lain: 1) belajar secara aktif, baik mental maupun fisik, dalam belajar siswa harus mengalami aktivitas belajar mental, seperti belajar dapat mengembangkan kemampuan intelektual, berfikir kritis, menganalisis dan aktivitas belajar fisik, seperti mengerjakan sesuatu, membuat peta dan lain-lain; 2) pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan yang nyata di masyarakat, bentuk-bentuk kehidupan di masyarakat dibawa ke sekolah, agar siswa mempelajari sesuai dengan kenyataan; 3) dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan siswa untuk menyelidiki sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri, hal ini menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang dikerjakan siswa dan kepercayaan pada diri sendiri (Slameto:2003).
Pembelajaran di kelas tersebut juga belum dapat dikatakan berhasil dan berkualitas. Menurut Mulyasa (2004:104), dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri (Mulyasa, 2004). Sementara itu, sekolah yang bersangkutan menetapkan bahwa untuk mata pelajaran IPA pembelajaran dikatakan berhasil jika 75% siswa telah memperolah nilai mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan sebesar 70, sehingga keberhasilan prestasi belajar kelas belum tercapai.
Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali (Depdiknas:2004). Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik, dapat diwujudkan secara sistematis (Depdiknas: 2004).
Pemaparan tersebut mendorong peneliti untuk memberikan suatu tindakan pada kelas yang bersangkutan agar keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran dapat ditingkatkan, yaitu dengan meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa diharapkan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
Salah satu alternatif tindakan yang dapat diberikan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Salah satu ciri pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas belajar pembelajaran, terdapat sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghapal materi pelajaran, melalui pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan (Sanjaya,2008:214). Pembelajaran berbasis masalah dapat bermanfaat dalam pembelajaran laboratorium karena berisi aktivitas belajar seperti bekerja sama, mempelajari suatu masalah, membuat hipotesis, mengurupulkan informasi dan menganalisisnya dalam suatu kegiatan percobaan (Bilgin, 2009:159). Salah satu keunggulan pembelajaran berbasis masalah adalah dapat meningkatkan aktivitas belajar pembelajaran siswa, dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab terhadap pembelajaran yang mereka lakukan (Sanjaya,2008:220). PBL merupakan metode pembelajaran yang mengkondisikan siswa belajar untuk belajar, bekerjasama dalam kelompok untuk menemukan pemecahan suatu permasalahan di dunia nyata (Kolmos, dkk: 2007). Selain memiliki beberapa keunggulan, terdapat kelemahan model pembelajaran PBL, antara lain membutuhkan minat siswa yang tinggi, pemahaman siswa terhadap masalah dan membutuhkan waktu yang cukup lama (Sanjaya, 2008:221)
Melihat keunggulan model pembelajaran PBL, PBL dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa. Dalam PBL juga terdapat beberapa kelemahan, tetapi akibat dari kelemahan PBL dalam meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa sangat kecil dibandingkan dengan keunggulan PBL. Dengan demikian, tindakan yang akan diberikan pada kelas yang akan ditingkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajarnya adalah penerapan model pembelajaran PBL.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah pada penelitian ini adalah rendahnya aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika di kelas VIII.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika di kelas VIII salah satu SMP Negeri X?

D. Batasan Masalah
Untuk membatasi agar masalah yang dikaji tidak meluas, dibuat batasan masalah sebagai berikut:
1. Peningkatan aktivitas belajar yang dimaksud adalah meningkatnya jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran dengan sumber data berupa hasil observasi. Dalam penelitian ini aktivitas belajar yang akan ditingkatkan meliputi: memperhatikan penjelasan guru, bicara/diskusi (bertanya atau mengemukakan pendapat) baik dalam kegiatan kelompok maupun kelas, melakukan percobaan, mengolah data yang didalamnya termasuk menganalisis permasalahn yang diberikan dan membuat laporan hasil percobaan.
2. Peningkatan prestasi belajar yang dimaksud adalah meningkatnya jumlah siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan dengan sumber data hasil tes pilihan ganda. Prestasi belajar yang akan ditingkatkan pada penelitian ini meliputi tiga tingkat kognitif pertama, yaitu hafalan, pemahaman dan penerapan. Sehingga tes yang diberikan terdiri dari soal yang termasuk pada tingkat hafalan, pemahaman dan penerapan.

E. Cara Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa kelas VIII salah satu SMP Negeri X akan diterapkan model pembelajaran PBL. Penerapan PBL diawalai dengan memunculkan masalah dalam kehidupan sehari-hari pada siswa, masalah ini memerlukan pemecahan untuk diselesaikan. Siswa memperoleh pengetahuan baru melalui kegiatan penyelidikan terhadap masalah yang diberikan.

F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa Kelas VIII salah satu SMP Negeri X dalam pembelajaran fisika.

G. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, peneliti dapat mengetahui peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran PBL.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada guru/peneliti mengenai pembelajaran fisika yang dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa sehingga sedikit demi sedikit guru dapat mengubah perannya menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran.
2. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini dapat mengubah kebiasaan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran fisika. Siswa yang awalnya terbiasa belajar dengan pasif, menerima materi secara langsung dari guru, menjadi aktif dengan memproses pengetahuan yang harus diperolehnya. Selain itu, penelitian ini akan memberikan pengalaman bagi siswa dalam Upaya Peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajarnya.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini akan meningkatkan perbaikan pembelajaran di kelas VIII salah satu SMP Negeri X, khususnya pembelajaran fisika di kelas yang diteliti.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori mengenai PBL, hipotesis tindakan penelitian ini adalah:
"Dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), aktivitas belajar dan prestasi belajar fisika di kelas VIII salah satu SMP Negeri X dapat ditingkatkan"

I. Indikator Keberhasilan
Menurut Mulyasa (2004: 174):
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%).
Mengacu pada teori tersebut, ditetapkan indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
1. Jumlah siswa yang memperhatikan penj elasan guru mencapai 75%
2. Jumlah siswa yang mengemukakan pendapat atau bertanya atau bicara/diskusi baik dalam kegiatan kelompok maupun kelas mencapai 75%
3. Jumlah siswa yang melakukan kegiatan percobaan mencapai 75%
4. jumlah siswa yang melakukan pengolahan data mencapai 75%
5. Jumlah siswa yang membuat laporan hasil percobaan dengan mencapai 75%
6. 75% siswa mencapai prestasi belajar 70 (ketuntasan yang ditetapkan sekolah: 75% siswa setiap kelasnya memiliki prestasi belajar mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan [70]).

J. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang didasarkan pada suatu masalah, masalah ini akan mendorong siswa untuk memahami suatu materi pembelajaran melalui rangkaian aktivitas belajar yang harus dilaluinya dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki.
2. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar.
3. Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ping your blog, website, or RSS feed for Free