ASUHAN SAYANG IBU

Sabtu, 23 April 2011

image Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasarnya adalah mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Perhatian dan dukungan kepada ibu selama proses persalinan akan mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik.

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

Juga mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan (ekstraksi vakum, cunam dan seksio sesar) dan persalinan akan berlangsung lebih cepat.

Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil yang lebih baik (Enkin, et al, 2000). Disebutkan pula bahwa hal tersebut diatas dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum, cunam, dan seksio sesar, dan persalinan berlangsung lebih cepat (Enkin, et al, 2000).

Konsep Asuhan Sayang Ibu

Konsep asuhan sayang ibu menurut Pusdiknakes, 2003 adalah sebagai berikut:

1. Asuhan yang aman berdasarkan evidence based dan ikut meningkatkan kelangsungan hidup ibu. Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya, kepercayaan, menjaga privasi, memenuhi kebutuhan dan keinginan ibu.

2. Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama proses persalinan, menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan dan kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam pengambilan keputusan.

3. Asuhan sayang ibu menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah dan tidak perlu intervensi tanpa adanya komplikasi.

4. Asuhan sayang ibu berpusat pada ibu, bukan pada petugas kesehatan.

5. Asuhan sayang ibu menjamin ibu dan keluarganya dengan memberitahu tentang apa yang terjadi dan apa yang bisa diharapkan.

Badan Coalition Of Improving Maternity Services (CIMS) melahirkan Safe Motherhood Intiative pada tahun 1987.

 

CIMS merumuskan sepuluh langkah asuhan sayang ibu sebagai berikut:

(1) Menawarkan adanya pendampingan saat melahirkan untuk mendapatkan dukungan emosional dan fisik secara berkesinambungan.

(2) Memberi informasi mengenai praktek kebidanan, termasuk intervensi dan hasil asuhan.

(3) Memberi asuhan yang peka dan responsif dengan kepercayaan, nilai dan adat istiadat.

(4) Memberikan kebebasan bagi ibu yang akan bersalin untuk memilih posisi persalinan yang nyaman bagi ibu.

(5) Merumuskan kebijakan dan prosedur yang jelas untuk pemberian asuhan yang berkesinambungan.

(6) Tidak rutin menggunakan praktek dan prosedur yang tidak didukung oleh penelitian ilmiah tentang manfaatnya, seperti: pencukuran, enema, pemberian cairan intervena, menunda kebutuhan gizi, merobek selaput ketuban, pemantauan janin secara elektronik.

(7) Mengajarkan pada pemberi asuhan dalam metode meringankan rasa nyeri dengan/ tanpa obat-obatan.

(8) Mendorong semua ibu untuk memberi ASI dan mengasuh bayinya secara mandiri.

(9) Menganjurkan tidak menyunat bayi baru lahir jika bukan karena kewajiban agama.

(10) Berupaya untuk mempromosikan pemberian ASI dengan baik.

 

Prinsip Umum Sayang Ibu

Prinsip-prinsip sayang ibu adalah sebagai berikut:

(1) Memahami bahwa kelahiran merupakan proses alami dan fisiologis.

(2) Menggunakan cara-cara yang sederhana dan tidak melakukan intervensi tanpa ada indikasi.

(3) Memberikan rasa aman, berdasarkan fakta dan memberi kontribusi pada keselamatan jiwa ibu.

(4) Asuhan yang diberikan berpusat pada ibu.

(5) Menjaga privasi serta kerahasiaan ibu.

(6) Membantu ibu agar merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional.

(7) Memastikan ibu mendapat informasi, penjelasan dan konseling yang cukup.

(8) Mendukung ibu dan keluarga untuk berperan aktif dalam pengambilan keputusan.

(9) Menghormati praktek-praktek adat dan keyakinan agama.

(10) Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu/ keluarganya selama kehamilan, persalinan dan nifas.

(11) Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.

 

Asuhan Sayang Ibu dalam Proses Persalinan

1. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.

2. Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum memulai asuhan tersebut.

3. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.

4. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.

5. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.

6. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tenteramkan hati ibu beserta anggota-anggota keluarganya.

7. Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan/atau anggota keluarga yang lain selama persalinan dan kelahiran bayinya.

8. Ajarkan suami dan anggota-anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.

9. Secara konsisten lakukan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik.

10. Hargai privasi ibu.

11. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan kelahiran bayi.

12. Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan ringan sepanjang ia menginginkannya.

13. Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak merugikan kesehatan ibu.

14. Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotomi, pencukuran dan klisma.

15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin.

16. Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah bayi lahir.

17. Siapkan rencana rujukan (bila perlu).

18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-bahan, perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.

 

Asuhan Sayang Ibu dan Bayi pada Masa Pascapersalinan

1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).

2. Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan pemberian ASI sesuai dengan permintaan.

3. Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang cukup setelah melahirkan

4. Anjurkan suami dan anggota keluarganya untuk memeluk bayi dan mensyukuri kelahiran bayi.

5. Ajarkan ibu dan anggota keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya yang mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika timbul masalah atau rasa khawatir.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu di Indonesia yang masih tidak mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan terlatih untuk memberikan asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian dari mereka beralasan bahwa penolong persalinan terlatih tidak benar-benar memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi dan keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan lain yang juga berperan adalah bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan memiliki peraturan dan prosedur yang tidak bersahabat dan menakutkan bagi para ibu. Peraturan dan prosedur tersebut termasuk: tidak memperkenankan ibu untuk berjalan-jalan selama proses persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga menemani ibu, membatasi ibu hanya pada posisi tertentu selama persalinan dan kelahiran bayi dan memisahkan ibu dari bayi segera setelah bayi dilahirkan.

Sumber :

epkes RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal. Edisi Baru Dengan Resusitasi, Jakarta.

Depkes RI, 2001, Catatan Perkembangan Dalam Praktek Kebidanan, Jakarta.

Draft, 2001, Pelatihan Pelayanan Kebidanan, Jakarta.

Pusdiknakes – WHO – JHPIEGO, 2003, Asuhan Intrapartum, Jakarta.

modul APN

http://www.lusa.web.id/

http://ayurai.wordpress.com/

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Ping your blog, website, or RSS feed for Free