MAKALAH ASUHAN BAYI BARU LAHIR

Sabtu, 23 April 2011

BAB 4

ASUHAN BAYI BARU LAHIR

Pendahuluan

Bab ini menguraikan tentang asuhan yang diperlukan oleh bayi baru lahir (BBL). Walaupun

sebagian besar proses persalinan terfokus pada ibu, tetapi karena proses tersebut merupakan pengeluaran hasil kehamilan (bayi) maka penatalaksanaan persalinan baru dapat dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang dilahirkan juga berada dalam kondisi yang optimal.

Memberikan asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir merupakan bagian esensial asuhan bayi baru lahir.

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

Tujuan

Setelah mempelajari bab ini peserta diharapkan dapat :

1. Menjelaskan komponen asuhan BBL.

2. Menjelaskan tindakan Pencegahan Infeksi (PI) yang berkaitan dengan asuhan BBL

3. Menjelaskan penilaian BBL.

4. Menjelaskan mekanisme dan cara pencegahan kehilangan panas

5. Menjelaskan melaksanakan perawatan tali pusat

6. Menjelaskan cara pemberian ASI yang benar, manajemen laktasi dan perawatan payudara.

7. Menjelaskan cara melakukan profilaksis infeksi mata BBL.

8. Menjelaskan manfaat dan cara pemberian vitamin K

9. Menjelaskan manfaat dan cara pemberian imunisasi Hepatitis B

 

4.1. Pencegahan infeksi

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir.

Sebelum menangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi berikut:

  1. Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi.
  2. Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
  3. Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, pengisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril. Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir dengan alat tersebut (jangan bola karet penghisap yang sama untuk lebih dari satu bayi).
  4. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikian pula halnya timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda lain yang akan bersentuhan dengan bayi, juga bersih. Dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan

4.2 Penilaian

Segera setelah lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu.

Bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakkan bayi dekat ibu (diantara kedua kaki atau disebelah ibu) tetapi harus dipastikan bahwa area tersebut bersih dan kering.

Segera pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan :

  • Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan?
  • Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas?

Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir (lihat Bab 5 Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir dengan Asfiksia).

 

4.3. Pencegahan Kehilangan Panas

Mekanisme pengaturan temperatur tubuh pada bayi baru lahir, belum berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas tubuh maka bayi baru lahir dapat mengalami hipotermia. Bayi dengan hipotermia, sangat berisiko tinggi untuk mengalami kesakitan berat atau bahkan kematian. Hipotermia mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun berada di dalam ruangan yang relatif hangat.

 

4.3.1. Mekanisme kehilangan panas

Bayi baru lahir dapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara berikut:

1. Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Kehilangan panas juga terjadi pada bayi yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselimuti.

2. Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan diatas benda-benda tersebut.

3. Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.

4. Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung).

clip_image002

Gambar 4-1: Mekanisme Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir

Sumber: WHO/RHT/MSM/97-2.

 

4.3.2. Mencegah kehilangan panas

Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya sebagai berikut:

1. Keringkan bayi dengan seksama

Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas yang disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada tubuh bayi. Keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah disiapkan di atas perut ibu. Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.

2. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat

Segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat, ganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan ketuban kemudan selimuti tubuh bayi dengan selimut atau kain yang hangat, kering dan bersih. Kain basah di dekat tubuh bayi dapat menyerap panas tubuh bayi melalui proses radiasi. Ganti handuk, selimut atau kain yang basah telah diganti dengan selimut atau kain yang baru (hangat, bersih dan kering).

3. Selimuti bagian kepala bayi

Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat. Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.

4. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya

Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya segera setelah lahir. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu jam pertama kelahiran (lihat bagian pemberian ASI di bagian selanjutnya dalam bab ini).

5. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir

Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak berpakaian), sebelum melakukan penimbangan, terlebih dulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan (sedikitnya) enam jam setelah lahir. Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama setelah lahir dapat menyebabkan hipotermia yang sangat membahayakan kesehatan bayi baru lahir.

clip_image001[10]

Praktik memandikan bayi yang dianjurkan:

1. Tunggu sedikitnya enam jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika

bayi mengalami asfiksia atau hipotermi).

2. Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh bayi stabil (suhu aksila antara 36,5 ºC–37,5 ºC). Jika suhu tubuh bayi masih di bawah 36,5 ºC, selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan kulit ibu-bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu jam.

3. Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernafasan.

4. Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruang mandinya hangat dan tidak ada tiupan angin.

Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan.

5. Mandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat.

6. Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering.

7. Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik.

8. Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik.

9. Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya.

• Tempatkan Bayi di Lingkungan yang Hangat

Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya di tempat tidur yang sama. Menempatkan bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorong ibu segera menyusukan bayinya dan mencegah paparan infeksi pada bayi.

 

4.4. Merawat tali pusat

4.4.1. Mengikat tali pusat

Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil maka lakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem plastik tali pusat (bila tersedia).

  1. Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan) ke dalam larutan klorin 0,5%, untuk membersihkan darah dan sekresi lainnya.
  2. Bilas tangan dengan air disinfeksi tingkat tinggi.
  3. Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering.
  4. Ikat puntung tali pusat dengan jarak sekitar 1 cm dinding perut bayi (pusat). Gunakan benang atau klem plastik penjepit tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastik tali pusat.
  5. Jika pengikatan dilakukan dengan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling puntung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati di bagian yang berlawanan.
  6. Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klorin 0,5%.
  7. Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering.

 

4.4.2. Nasehat untuk merawat tali pusat

  1. Jangan membungkus puntung tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat.
  2. Nasehati hal yang sama bagi ibu dan keluarganya.
  3. Mengoleskan alkohol atau betadine (terutama jika pemotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperkenankan tetapi tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah/lembab
  4. Berikan nasehat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi:
  • Lipat popok di bawah puntung tali pusat.
  • Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan (hati-hati) dengan air DTT dan sabun dan segera
  • keringkan secara seksama dengan menggunakan kain bersih.
  • Jelaskan pada ibu bahwa ia harus mencari bantuan jika pusat menjadi merah, bernanah atau berdarah atau berbau.
  • Jika pangkal tali pusat (pusat bayi) menjadi merah, mengeluarkan nanah atau darah,
  • segera rujuk bayi ke fasilitas yang dilengkapi perawatan untuk bayi baru lahir.

 

4.5. Pemberian ASI

Rangsangan isapan bayi pada puting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin. Prolaktin inilah yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI. Semakin sering bayi mengisap puting susu akan semakin banyak prolaktin dan ASI dikeluarkan. Pada hari-hari pertama kelahiran bayi, apabila pengisapan puting susu cukup adekuat maka akan akan dihasilkan secara bertahap 10 – 100 ml ASI. Produksi ASI akan optimal setelah hari 10-14 usia bayi. Bayi sehat akan mengkonsumsi 700-800 ml ASI per hari (kisaran 600-1000 ml) untuk tumbuh-kembang bayi. Produksi ASI mulai menurun (500-700 ml) setelah 6 bulan pertama dan menjadi 400-600 ml pada 6 bulan kedua usia bayi. Produksi ASI akan menjadi 300-500 pada tahun kedua usia anak.

 

Refleks laktasi

Dimasa laktasi, terdapat 2 mekanisme refleks pada ibu yaitu refleks prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus (khususnya pada masa nifas).

Pada bayi, terdapat 3 jenis refleks yaitu:

1. Refleks mencari puting susu (rooting reflex)

Bayi akan menoleh kearah dimana terjadi sentuhan pada pipinya. Bayi akan membuka

mulutnya apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk mengisap benda yang disentuhkan tersebut.

2. Refleks menghisap (suckling reflex)

Rangsangan puting susu pada langit-langit bayi menimbulkan refleks mengisap. Isapan ini akan menyebabkan areola dan puting susu ibu tertekan gusi, lidah dan langit-langit bayi sehingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar.

3. Refleks menelan (swallowing reflex)

Kumpulan ASI di dalam mulut bayi mendesak otot-otot di daerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung bayi

 

4.5.1. Keuntungan pemberian ASI

  • Mempromosikan keterikatan emosional ibu dan bayi.
  • Memberikan kekebalan pasif yang segera kepada bayi melalui kolostrum.
  • Merangsang kontraksi uterus.

 

4.5.2. Memulai pemberian ASI

Prinsip pemberian ASI adalah sedini mungkin dan eksklusif. Bayi baru lahir harus mendapat ASI

dalam waktu satu jam setelah lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera

menyusukan bayi setelah tali pusat diklem dan dipotong. Beritahu bahwa penolong akan selalu

membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta lahir dan memastikan ibu dalam kondisi baik (termasuk menjahit laserasi). Keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal.

 

Memulai pemberian ASI secara dini akan:

  • Merangsang produksi susu.
  • Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

 

clip_image004

Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang manfaat kontak langsung ibu-bayi dan anjurkan untuk menyusukan bayinya sesering mungkin untuk merangsang produksi ASI sehingga mencukupi kebutuhan bayi itu sendiri (Enkin, et al, 2000). Yakinkan ibu dan keluarganya bahwa kolostrum (susu beberapa hari pertama kelahiran) adalah zat bergizi dan mengandung semua unsur yang diperlukan bayi. Minta ibu untuk memberi ASI sesuai dengan keinginan atau dorongan naluriah bayinya. Pada saat bayi melepaskan puting susu yang satu, minta ibu untuk memberikan puting susu yang lainnya. Jelaskan pada ibu bahwa membatasi lama bayi menyusu akan mengurangi jumlah nutrisi yang diterima bayi dan akan menurunkan produksi susunya (Enkin, et al, 2000).

Anjurkan ibu untuk bertanya mengenai cara pemberian ASI dan kemudian beri jawaban lengkap dan jelas. Pesankan untuk mencari pertolongan bila ada masalah dengan pemberian ASI.

clip_image006

Gambar 4-2: Menyusukan dan memeluk bayi setelah memotong tali pusat atau posisi miring

Sumber: JHU/CCP Info Report, Issue No.5, 2006

 

4.5.3. Posisi menyusui

clip_image007

Posisi bayi saat menyusui sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI dan mencegah lecet puting susu (Enkin, et al, 2000). Pastikan ibu memeluk bayinya dengan benar. Berikan bantuan dan dukungan jika ibu memerlukannya, terutama jika ibu pertama kali menyusui atau ibu berusia sangat muda.

Posisi menyusui:

  1. Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi di depan puting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu.
  2. Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya (muka bayi ke payudara ibu) dan mengamati bayi siap menyusu: membuka mulut, bergerak mencari, dan menoleh.
  3. Ibu menyentuhkan puting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke puting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap puting susu tersebut.

Tanda-tanda posisi bayi menyusu dengan baik:

  • dagu menyentuh payudara ibu
  • mulut terbuka lebar
  • hidung bayi mendekati dan kadang-kadang menyentuh payudara ibu
  • mulut bayi mencakup sebanyak mungkin areola (tidak hanya puting saja), lingkar areola atas terlihat lebih banyak dibandingkan lingkar areola bawah
  • lidah bayi menopang puting dan areola bagian bawah
  • bibir bawah bayi melengkung keluar
  • bayi mengisap kuat dan dalam secara perlahan dan kadang-kadang disertai dengan berhenti sesaat

Posisi menyusui yang diuraikan di atas adalah posisi dimana ibu telah memiliki kemampuan untuk duduk dan melakukan mobilisasi secukupnya. Masih ada beberapa posisi alternatif lain yang disesuaikan dengan kemampuan ibu setelah melahirkan anaknya, misalnya posisi berbaring telentang, miring kiri atau miring kanan dsb. Posisi ibu berbaring telentang dan setengah duduk mungkin lebih sesuai untuk pemberian ASI dini (Gambar 4-2).

clip_image009

clip_image011

clip_image013

Gambar 4-3 : Ibu menyusukan bayinya dengan posisi duduk

Sumber : Institute of Reproductive Health-Rafael Avila/JHU CCP 2006 (14)

 

4.5.4. Perawatan payudara

Jelaskan pada ibu bagaimana merawat payudaranya:

1. Atur ulang posisi menyusui jika bayi mengalami kesulitan untuk mendapat cukup ASI. Jika posisi bayi terhadap payudara tidak sesuai maka kecukupan nutrisi bayi tidak terjamin dan puting susu ibu mungkin mengalami trauma.

2. Minta ibu untuk memastikan bahwa puting susunya tetap bersih dan kering. Anjurkan ibu untuk mengeringkan payudaranya (dengan kain bersih dan kering) setelah menyusukan bayi. Untuk mencegah retak dan lecet, ajarkan ibu untuk mengeluarkan sedikit ASInya kemudian dioleskan ke puting susunya. Keringkan dulu (diangin-anginkan) puting susu ibu sebelum mengenakan pakaian.

3. Yakinkan bahwa puting susu lecet dan retak, bukan merupakan hal yang berbahaya dan tidak menghalangi ibu untuk terus menyusukan bayinya. Jika puting susu ibu lecet dan retak, amati cara ibu menyusukan bayinya karena cara yang salah dapat menimbulkan hal tersebut. Minta ibu melakukan perawatan payudara seperti yang diuraikan pada butir 2 di atas.

4. Bersama ibu dan keluarganya, jelaskan cara mengkaji gejala dan tanda tersumbatnya saluran ASI atau mastitis.

Bila hal tersebut terjadi maka anjurkan ibu untuk mencari pertolongan segera tetapi tetap meneruskan pemberian ASI. Jelaskan mungkin ia mengalami masalah dengan payudaranya apabila tampak gejala atau tanda berikut ini:

  • Bintik atau garis merah atau panas pada salah satu atau kedua payudara
  • Gumpalan atau pembengkakan yang terasa nyeri
  • Demam (suhu lebih dari 38 °C)

 

4.5.5. Manajemen laktasi

Setiap fasilitas kesehatan yang bersentuhan dengan kesehatan ibu dan anak harus melakukan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LKKM) yang terdiri dari:

1. Ada kebijakan tertulis tentang menyusui

2. Setiap petugas memiliki keterampilan yang terkait dengan manajemen laktasi

3. Menjelaskan manfaat menyusui kepada ibu hamil

4. Membantu ibu untuk mulai menyusukan bayinya dalam waktu 30 menit setelah melahirkan

5. Memperagakan cara menyusui serta menerapkan ASI dini dan ekslusif

6. Tidak memberi makanan atau asupan apapun selain ASI pada bayi baru lahir

7. Melaksanakan rawat gabung

8. Memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi (on demand)

9. Tidak memberi dot atau kempeng pada bayi

10. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok pendukung ASI

 

Tugas utama bidan terkait dengan manajemen laktasi adalah:

• Memberdayakan ibu untuk melakukan perawatan payudara, cara menyusui, merawat bayi,

• merawat tali pusat dan memandikan bayi

• Mengatasi masalah laktasi

• Memantau keadaan ibu dan bayi

Kegiatan manajemen laktasi

 

Masa antenatal

• KIE manfaat dan keunggulan ASI

• Meyakinkan ibu untuk menyusukan anaknya

• Melakukan pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara

• Memantau kecukupan gizi ibu hamil

• Menciptakan suasana bahagia bagi keluarga terkait dengan kehamilan ibu

 

Segera setelah bayi lahir:

• Memberkan ASI dini (dalam 1 jam pertama setelah bayi lahir) dan persentuhan ibu-bayi

• Membina ikatan emosional dan kehangatan ibu-bayi

 

Masa neonatal

  • Menjamin pelaksanaan ASI eksklusif
  • Rawat gabung ibu-bayi
  • Jaminan asupan ASI setiap bayi membutuhkan (on demand)
  • Melaksanakan cara menyusui yang benar
  • Upaya tetap mendapat ASI jika ibu dan bayi tidak selalu bersama
  • Vitamin A dosi tinggi (20.000 SI) bagi ibu nifas

 

Masa menyusui selanjutnya

  • Pemenuhan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama dan MP-ASI (makanan pendamping dan ASI) untuk 6 bulan kedua
  • Memantau kecukupan gizi dan memberi cukup waktu istirahat bagi ibu menyusui
  • Memperoleh dukungan suami untuk menunjang keberhasilan ASI eksklusif
  • Mengatasi masalah menyusui

4.6. Pencegahan Infeksi pada Mata

Tetes mata untuk pencegahan infeksi mata dapat diberikan setelah ibu atau keluarga memomong bayi dan diberi ASI. Pencegahan infeksi tersebut menggunakan salep mata Tetrasiklin 1%. Salep antibiotika tersebut harus diberikan dalam waktu satu jam setelah kelahiran. Upaya profilaksis infeksi mata tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran.

Cara pemberian profilaksis mata:

  • Cuci tangan (gunakan sabun dan air bersih mengalir).
  • Jelaskan apa yang akan dilakukan dan tujuan pemberian obat tersebut.
  • Berikan salep mata dalam satu garis lurus mulai dari bagian mata yang paling dekat dengan hidung bayi menuju ke bagian luar mata.
  • Ujung tabung salep mata tak boleh menyentuh mata bayi.
  • Jangan menghapus salep mata dari mata bayi dan anjurkan keluarga untuk tidak menghapus obat-obat tersebut.

 

4.7. Profilaksis Perdarahan Bayi Baru Lahir

Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K1 injeksi 1mg intramuskuler di paha kiri sesegera mungkin untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.

4.8. Pemberian Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi Hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi, terutama

jalur penularan ibu-bayi. Terdapat 2 jadwal pemberian imunisasi Hepatitis B. Jadwal pertama,

imunisasi Hepatitis B sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 0 (segera setelah lahir menggunakan

uniject), 1 dan 6 bulan. Jadwal kedua, imunisasi Hepatitis B sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 0,

dan DPT + Hepatitis B pada 2, 3 dan 4 bulan usia bayi.

 

Imunisasi Pemberian

Jumlah

Jadwal

Regimen Tunggal

Regimen Kombinasi

3 kali

4 kali

1. Usia 0 bulan (segera setelah lahir)

2. Usia 1 bulan

3. Usia 6 bulan

Usia 0 bulan (segera setelah lahir)

Usia 2 bulan

Usia 3 bulan ] DPT + Hepatitis B

Usia 4 bulan

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Ping your blog, website, or RSS feed for Free