Tampilkan postingan dengan label FARMAKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FARMAKOLOGI. Tampilkan semua postingan

TUGAS FARMAKOLOGI TENTANG NAPZA

NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif)

Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang ( pikiran, perasaan dan perilaku ) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah : Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan :

· Golongan Depresan ( Downer ). Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya: Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik (obat tidur) dan Tranquilizer (anti cemas ).

· Golongan Stimulan ( Upper ). Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi), Kokain.

· Golongan Halusinogen. Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh: Kanabis ( ganja ).

 

Bentuk sediaan NAPZA:

· Bubuk atau serbuk putih dan mudah larut dalam air.

· Cairan putih disimpan dalam ampul atau botol, pemakaiannya dengan jalan menyuntik

· Batangan, bentuk balok-balok kecil dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda.

· Tablet kecil putih.

 

A. NARKOTIKA

Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Narkotika terdiri dari 3 golongan :

1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.

2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.

3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.

JENIS - JENIS NARKOTIKA

1. OPIOID (OPIAD)

clip_image002

Opioid atau opiat berasal dari kata opium, jus dari bunga opium, Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium, termasuk morfin. Nama Opioid juga digunakan untuk opiat, yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium. opiat alami lain atau opiat yang disintesis dari opiat alami adalah heroin (diacethylmorphine), kodein (3-methoxymorphine), dan hydromorphone (Dilaudid).

Opiada, terdapat 3 golongan besar :

Ø Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.

Ø Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.

Ø Opioda sintetik : Metadon.

EFEK SAMPING YANG DITIMBULKAN

Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara, kerusakan penglihatan pada malam hari, mengalami kerusakan pada liver dan ginjal, peningkatan resiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik dan penurunan hasrat dalam hubungan sex, kebingungan dalam identitas seksual, kematian karena overdosis.

GEJALA TOKSITASI (KERACUNAN) OPIOID

Konstraksi pupil ( atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat) dan satu ( atau lebih ) tanda berikut, yang berkembang selama , atau segera setelah pemakaian opioid, yaitu mengantuk atau koma bicara cadel ,gangguan atensi atau daya ingat.

Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis misalnya: euforia awal diikuti oleh apatis, disforia, agitasi atau retardasi psikomotor, gangguan pertimbangaan, atau gangguan fungsi sosial atau pekerjaan ) yang berkembang selama, atau segera setelah pemakaian opioid.

GEJALA PUTUS OBAT

Gejala putus obat dimulai dalam enam sampai delapan jam setelah dosis terakhir. Biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu atau pemberian antagonis narkotik.

Sindroma putus obat mencapai puncak intensitasnya selama hari kedua atau ketiga dan menghilang selama 7 sampai 10 hari setelahnya. Tetapi beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama.

GEJALA PUTUS OBAT DARI KETERGANTUNGAN OPIOID

Kram otot parah dan nyeri tulang, diare berat, kram perut, rinorea lakrimasipiloereksi, menguap, demam, dilatasi pupil, hipertensi takikardia disregulasi temperatur, termasuk pipotermia dan hipertermia.

Seseorang dengan ketergantungan opioid jarang meninggal akibat putus opioid, kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah, seperti penyakit jantung.

Gejala residual seperti insomnia, bradikardia, disregulasi temperatur, dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat. Pada tiap waktu selama sindroma abstinensi, suatu suntikan tunggal morfin atau heroin menghilangkan semua gejala. Gejala penyerta putus opioid adalah kegelisahan, iritabilitas, depresi, tremor, kelemahan, mual, dan muntah.

Turunan OPIOID (OPIAD) yang sering disalahgunakan adalah :

a. Candu

clip_image004

Getah tanaman Papaver Somniferum didapat dengan menyadap (menggores) buah yang hendak masak. Getah yang keluar berwarna putih dan dinamai "Lates". Getah ini dibiarkan mengering pada permukaan buah sehingga berwarna coklat kehitaman dan sesudah diolah akan menjadi suatu adonan yang menyerupai aspal lunak. Inilah yang dinamakan candu mentah atau candu kasar. Candu kasar mengandung bermacam-macam zat-zat aktif yang sering disalahgunakan. Candu masak warnanya coklat tua atau coklat kehitaman. Diperjual belikan dalam kemasan kotak kaleng dengan berbagai macam cap, antara lain ular, tengkorak,burung elang, bola dunia, cap 999, cap anjing, dsb. Pemakaiannya dengan cara dihisap.

b. Morfin

clip_image006

Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin merupaakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Morfin rasanya pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan.

c. Heroin ( putaw )

clip_image008

Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan merupakan jenis opiat yang paling sering disalahgunakan orang di Indonesia pada akhir - akhir ini . Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin menyebabkan orang menjadi mengantuk dan perubahan mood yang tidak menentu. Walaupun pembuatan, penjualan dan pemilikan heroin adalah ilegal, tetapi diusahakan heroin tetap tersedia bagi pasien dengan penyakit kanker terminal karena efek analgesik dan euforik-nya yang baik.

d. Codein

clip_image010

Codein termasuk garam / turunan dari opium / candu. Efek codein lebih lemah daripada heroin, dan potensinya untuk menimbulkan ketergantungaan rendah. Biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan jernih. Cara pemakaiannya ditelan dan disuntikkan.

e. Demerol

clip_image012

Nama lain dari Demerol adalah pethidina. Pemakaiannya dapat ditelan atau dengan suntikan. Demerol dijual dalam bentuk pil dan cairan tidak berwarna.

f. Methadon

clip_image014

Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Sejumlah besar narkotik sintetik (opioid) telah dibuat, termasuk meperidine (Demerol), methadone (Dolphine), pentazocine (Talwin), dan propocyphene (Darvon). Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan), naltrxone (Trexan), nalorphine, levalorphane, dan apomorphine. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan antagonis telah disintesis, dan senyawa tersebut adalah pentazocine, butorphanol (Stadol), dan buprenorphine (Buprenex). Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid. Nama popoler jenis opioid : putauw, etep, PT, putih.

g. Kokain

clip_image016

Kokain adalah zat yang adiktif yang sering disalahgunakan dan merupakan zat yang sangat berbahaya. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyah-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan.

Saat ini Kokain masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksifnya juga membantu. Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin dan heroin karena efek adiktif dan efek merugikannya telah dikenali.

Nama lain untuk Kokain : Snow, coke, girl, lady dan crack ( kokain dalam bentuk yang paling murni dan bebas basa untuk mendapatkan efek yang lebih kuat ).

B. PSIKOTROPIKA

Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Psikotropika terdiri dari 4 golongan :

1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.

2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine.

3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.

4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM ).

JENIS-JENIS PSIKOTROPIKA

1. ECSTASI

clip_image018

Rumus kimia XTC adalah 3-4-Methylene-Dioxy-Methil-Amphetamine (MDMA). Senyawa ini ditemukan dan mulai dibuat di penghujung akhir abad lalu. Pada kurun waktu tahun 1950-an, industri militer Amerika Serikat mengalami kegagalan didalam percobaan penggunaan MDMA sebagai serum kebenaran. Setelah periode itu, MDMA dipakai oleh para dokter ahli jiwa. XTC mulai bereaksi setelah 20 sampai 60 menit diminum. Efeknya berlangsung maksimum 1 jam. Seluruh tubuh akan terasa melayang. Kadang-kadang lengan, kaki dan rahang terasa kaku, serta mulut rasanya kering. Pupil mata membesar dan jantung berdegup lebih kencang. Mungkin pula akan timbul rasa mual. Bisa juga pada awalnya timbul kesulitan bernafas (untuk itu diperlukan sedikit udara segar). Jenis reaksi fisik tersebut biasanya tidak terlalu lama. Selebihnya akan timbul perasaan seolah-olah kita menjadi hebat dalam segala hal dan segala perasaan malu menjadi hilang. Kepala terasa kosong, rileks dan "asyik". Dalam keadaan seperti ini, kita merasa membutuhkan teman mengobrol, teman bercermin, dan juga untuk menceritakan hal-hal rahasia. Semua perasaan itu akan berangsur-angsur menghilang dalam waktu 4 sampai 6 jam. Setelah itu kita akan merasa sangat lelah dan tertekan.

2. AMPHETAMINE

clip_image020

Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz, SHABU, SS, ice.

Shabu-shabu berbentuk kristal, biasanya berwarna putih, dan dikonsumsi dengan cara membakarnya di atas aluminium foil sehingga mengalir dari ujung satu ke arah ujung yang lain. Kemudian asap yang ditimbulkannya dihirup dengan sebuah Bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air). Air Bong tersebut berfungsi sebagai filter karena asap tersaring pada waktu melewati air tersebut. Ada sebagian pemakai yang memilih membakar Sabu dengan pipa kaca karena takut efek jangka panjang yang mungkin ditimbulkan aluminium foil yang terhirup.
Sabu sering dikeluhkan sebagai penyebab paranoid (rasa takut yang berlebihan), menjadi sangat sensitif (mudah tersinggung), terlebih bagi mereka yang sering tidak berpikir positif, dan halusinasi visual.

C. ZAT ADIKTIF

Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :

1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :

a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).

b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )

c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).

2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.

3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.

PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN

Penyalahguanaan adalah : penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.

Ketergantungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah ( toleransi ), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus obat ( withdrawal symptom ).

PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NAPZA

Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :

1. Faktor individual :

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri – ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan NAPZA :

§ Cenderung memberontak

§ Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.

§ Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada

§ Kurang percaya diri

§ Mudah kecewa, agresif dan destruktif

§ Murung, pemalu, pendiam

§ Merasa bosan dan jenuh

§ Keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan

§ Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode

§ Identitas diri kabur

§ Kemampuan komunikasi yang rendah

§ Putus sekolah

§ Kurang menghayati iman dan kepercayaan.

2. Faktor Lingkungan :

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.

a. Lingkungan Keluarga :

§ Komunikasi orang tua dan anak kurang baik

§ Hubungan kurang harmonis

§ Orang tua yang bercerai, kawin lagi

§ Orang tua terlampau sibuk, acuh

§ Orang tua otoriter

§ Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya

§ Kurangnya kehidupan beragama.

b. Lingkungan Sekolah :

§ Sekolah yang kurang disiplin

§ Sekolah terletak dekat tempat hiburan

§ Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif

§ Adanya murid pengguna NAPZA.

c. Lingkungan Teman Sebaya :

§ Berteman dengan penyalahguna

§ Tekanan atau ancaman dari teman.

d. Lingkungan Masyrakat / Sosial :

§ Lemahnya penegak hokum

§ Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.

Daftar pustaka

1. www.anti.or.id

2. www.bnn.go.id

3. http://zenc.wordpress.com/2007/06/13/napza-narkotika-psikotropika-dan-zat-aditif/

4.http://genghiskhun.com/napza-narkotika-psikotropika-dan-zat-adiktif-dan-seks-bebas-ditinjau-dari-sisi-medis

TUGAS FARMAKOLOGI TENTANG ANALGETIK

Nama : Erlita (0704015072)

             Gina lestari (0704015105)

Tugas : Farmakologi tentang Analgetik

ANALGETIK

Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psikis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.

Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksi-infeksi kuman atau kejang-kejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsangan-rangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediator-mediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri. Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-prostagladin, serta ion-ion kalium.

 

Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu :

1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal.

2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika lokal

3. Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum.

4. Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgeti non-narkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin).

Obat analgetik ini terbagi pada dua kategori besar yakni Obat Analgetik Narkotik dan Obat Analgetik Non-Narkotik.

a. Obat Analgetik Narkotik

Merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis.

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

 

Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

a. Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin.

b. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari :

· Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil

· Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-ptopoksifen

· Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.

b. Obat Analgesik Non-Nakotik

Dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/ Analgetika/ Analgesik Perifer.

Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.

 

Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut:

a. salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat

b. Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol

c. Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon danturunan-turunannya

d. Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.

 

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya jangan menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.

 

Analgetik dan antipiretik

Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang berperan dalam mengatur nyeri dan temperatur. AINS seleklif dalapat mempengaruji hipotalamus yang dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh keti demam. Mekanisme kemugkinan memghambat sintesis prostaglandin yang menstimulasi SSP.PG dapat meningkatkan aliran darah ke perifer berkeringat sehingga panas banyak keluatr dari tubuh.

Efek analgetik timbil karena mempengaruhi baik dihipotalamus atau ditempat cedera. Respon terhadap cidera umumnya berupa inflamasi di pada persendian, udem, serta pelepasan zat aktif seprti brakidin, PG. dan histamine. PG dan brakidin menstimulasi ujung syaraf perifer denagn membawa infuls nyeri ke SSP. Obat-obat yang banyak digunakan untuk analgetik dan ntipiretik adalah golongan salisilat dan asetaminofen. Asam salisilat penghambat sintesi PG paling epektif dibandingkan dengan salisilat.

Contoh obatnya:

Asetaminofen ( Parasetamol )

Obat ini bermanfaat untuk analgetik dan antipiretik. Efek antipiretik terjadi karena langsung mempengaruhi pusat penagturan panas di hipotalamus. Parasetamol efek untuk kepala karena kemampuanya menghambat sintesa PG di SSP, tetapi tidak menghambat sintesa PG di perifer sehinng tidak efektif untuk radang, nyeri otot dan atritis. Dalam pemakain parasetamol tidak menyebabkan iritasi pada lambung. Jadi parasetamol lebih banyak digunakan untuk antipiretik di banding analgetik karena hanya mempengaruhi di SSP saja.

Aspiririn

Aspirin memiliki efek analgetik, antipiretik dan antiinflamasi. Aspirin lebih banyak digunakan untuk analgetik di banding dengan antipiretik karena aspirin selain mempengaruji di SSP tatapi juga mempengaruhi di perifer sehingga banyak di gunakan untuk analgetik perifer. Aspirin dapat mengiritasi lapisan mukosa lambung

 

DAFTAR PUSTAKA

1. Priyanto, 2008.Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa keperawatan dan Farmasi. Lenskofi. Jakarta

2. Katzung,B.G.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, ed IV.Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC.

ANALGETIC DAN OBAT

Nama : ERLITA

KELAS : 7 pagi

NIM : 0704015072

Tugas : farmakologi molekuler

 

Analgesik: senyawa yang pada dosis terapetik meringankan atau menekan rasa nyeri tanpa memiliki kerja anastesi umum. analgesik berasal dari kata Yunani an- (“tanpa”) dan -algia (“nyeri”).

Penggolongan Nyeri

Umumnya  nyeri digolongkan menjadi 2 jenis:

1. Nyeri akut : nyeri yang tidak berlangsung lama. Berdasarkan sumber nyeri,   umumnya nyeri ini dibagi menjadi 3:

· Nyeri permukaan: sumbernya adalah luka luar, iritasi bahan kimia, dan rangsangan termal, yang hanya  permukaan kulit saja.

· Nyeri somatis dalam: biasanya bersumber dari luka/iritasi dari dalam tubuh, seperti karena injeksi atau dari ischemia

· Nyeri viseral: nyeri ini berasal dari organ-organ besar dalam tubuh, seperti hati, paru-paru, usus, dll

2. Nyeri kronis: nyeri ini berlangsung sangat lama, bisa menahun, yang kadang sumbernya tidak diketahui. Nyeri kronis sering diasosiasikan dengan penyakit kanker dan arthritis. Salah satu tipe nyeri akut adalah neuropathic pain yang disebabkan oleh suatu kelainan di sepanjang suatu jalur saraf. Suatu kelainan akan mengganggu sinyal saraf, yang kemudian akan diartikan secara salah oleh otak. Nyeri neuropatik bisa menyebabkan suatu sakit dalam atau rasa terbakar dan rasa lainnya (misalnya hipersensitivitas terhadap sentuhan). Beberapa sumber yang dapat menyebabkan nyeri neuropati ini adalah  herpes zoster, dan phantom limb pain, dimana seseorang yang lengan atau tungkainya telah diamputasi merasakan nyeri pada lengan atau tungkai yang sudah tidak ada.

PENGGOLONGAN ANALGETIK

Berdasarkan aksinya, obat-abat analgetik dibagi menjadi 2 golongan :

1. Analgesik nonopioid, dan

2. Analgesik opioid.

Kedua jenis analgetik ini berbeda dalam hal mekanisme dan target aksinya.

1. Analgesik Nonopioid/Perifer (NON-OPIOID ANALGESICS

Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX  pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors.

Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar.

analgetic dan obat

Gambar 2.1 : Origin and effects of prostaglandins

 

Penghambatan oleh obat-obat Analgesik Nonopioid

Gambar 2.2 : Penghambatan oleh obat-obat Analgesik Nonopioid

2. Analgetik opioid

Analgetik opiad merupakan golongan obat yang memiliki sifat seperti opium/morfin. Sifat dari analgesik opiad yaitu menimbulkan adiksi: habituasi dan ketergantungan fisik. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal:

· Potensi analgesik yg sama kuat dengan morfin

· Tanpa bahaya adiksi

· Obat yang berasal dari opium-morfin

· Senyawa semisintetik morfin

· Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin

Analgetik opiad mempunyai daya penghalang nyeri yang sangat kuat dengan titik kerja yang terletak di susunan syaraf pusat (SSP). Umumnya dapat mengurangi kesadaran dan  menimbulkan perasaan nyaman (euforia).. Analgetik opioid ini merupakan pereda nyeri yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat.

Tubuh sebenarnya memiliki sistem penghambat nyeri tubuh sendiri (endogen), terutama dalam batang otak dan sumsum tulang belakang yang mempersulit penerusan impuls nyeri. Dengan sistem ini dapat dimengerti mengapa nyeri dalam situasi tertekan, misalnya luka pada kecelakaan lalu lintas mula-mula tidak terasa dan baru disadari beberapa saat kemudian. Senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh sistem endogen ini disebut opioid endogen. Beberapa senyawa yang termasuk dalam penghambat nyeri endogen antara lain: enkefalin, endorfin, dan dinorfin.

Opioid endogen ini berhubungan dengan beberapa fungsi penting tubuh seperti fluktuasi hormonal, produksi analgesia, termoregulasi, mediasi stress dan kegelisahan, dan pengembangan toleransi dan ketergantungan opioid. Opioid endogen mengatur homeostatis, mengaplifikasi sinyal dari permukaan tubuk ke otak, dan bertindak juga sebagai neuromodulator dari respon tubuh terhadap rangsang eksternal.

Baik opioid endogen dan analgesik opioid bekerja pada reseptor opioid, berbeda dengan analgesik nonopioid yang target aksinya pada enzim.

Ada beberapa jenis Reseptor opioid  yang telah diketahui dan diteliti, yaitu reseptor opioid μ, κ, σ, δ, ε.  (dan yang terbaru ditemukan adalah N/OFQ receptor, initially called the opioid-receptor-like 1 (ORL-1) receptor or “orphan” opioid receptor dan e-receptor, namum belum jelas fungsinya).

Reseptor μ memediasi efek analgesik dan euforia dari opioid, dan ketergantungan fisik dari opioid. Sedangkan reseptor μ 2 memediasi efek depresan pernafasan.

Reseptor δ yang sekurangnya memiliki 2 subtipe berperan dalam memediasi efek analgesik dan berhubungan dengan toleransi terhadap μ  opioid. reseptor κ telah diketahui dan berperan dalam efek analgesik, miosis, sedatif, dan diuresis. Reseptor opioid ini tersebar dalam otak dan sumsum tulang belakang. Reseptor δ dan reseptor κ menunjukan selektifitas untuk ekekfalin dan dinorfin, sedangkan reseptor  μ selektif untuk opioid analgesic.

 

Mekanisme umumnya: 

Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel, selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi dengan meningkatkan masuknya ion K+ ke dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion kalsium dalam sel adalah terjadinya pengurangan terlepasnya dopamin, serotonin, dan peptida penghantar nyeri, seperti contohnya substansi P, dan mengakibatkan transmisi rangsang nyeri terhambat.

 

Efek-efek yang ditimbulkan dari perangsangan reseptor opioid diantaranya:

· Analgesik

· medullary effect

· Miosis

· immune function and Histamine

· Antitussive effect

· Hypothalamic effect

· GI effect

 

Efek samping  yang dapat  terjadi:

· Toleransi dan ketergantungan

· Depresi pernafasan

· Hipotensi

 

Atas dasar kerjanya pada reseptor opioid, analgetik opioid dibagi menjadi:

a. Agonis opioid menyerupai morfin (pd reseptor μ, κ). Contoh: Morfin, fentanil

b. Antagonis opioid. Contoh: Nalokson

c. Menurunkan ambang nyeri pd pasien yg ambang nyerinya tinggi

d. Opioid dengan kerja campur. Contoh: Nalorfin, pentazosin, buprenorfin, malbufin, butorfanol

PERTIMBANGAN PEMBERIAN OBAT

Berdasarkan tingkatan usia dan perkembangan organ penderita, pemberian obat dapat menimbulkan respon yang tingkatannya berbeda-beda.

Hal ini sesuai dengan karakteristik dalam perubahan fisiologi yang dialami penderita.

(bahan kuliah dan makalah kesehatan)

Oleh karena itu perubahan terapi obat, terutama dalam dosis bagi :

1. Neonatus

2. Bayi, perlu dipertimbangkan aturan dosis yang tidak membuat bayi keracunan, mengingat  perkembangan organ belum matang

3. Orang lanjut usia , terjadi penurunan fungsi-fungsi organ, sehingga pemberian obat harus dilakukan hati -hati

4. Wanita Hamil, penberian perlu dikontrol ketat selain karena perubahan fisiologis wanita hamil, juga ancaman bahaya teratogen kepada fetus yang dapat ditimbulkan dari obat.

Kondisi patologis penderita (keadaan karena sakit) juga berperanan terhadap efektifitas obat, disamping adanya faktor genetik dan toleransi.

Fokus dalam pertimbangan pemberian obat adalah membicarakan perubahan fisiologis, farmakokinetik, farmakodinamik, penderita dalam kaitannya dengan terapi obat, khususnya untuk pemakaian obat pada bayi, anak, lansia, wanita hamil dan kondisi sakit tertentu.

PENGGUNAAN OBAT PADA BAYI DAN ANAK

Mengingat belum matangnya fungsi organ pada anak, maka dosis obat perlu disesuaikan. Jaringan yang sedang tumbuh dengan cepat pada bayi dan anak kecil membuat lebih peka terhadap obat-obat tertentu, misalnya tetrasiklin yang diberikan pada trismester kehamilan terakhir dan masa kanak-kanak (<8 tahun) menyebabkan perubahan warna gigi yang permanen karena sifat mengendapnya pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh dari janin dan kanak-kanak. Akibatnya terhambatnya pertumbuhan tulang serta gigi bertitik kuning kecoklatan dan lebih mudah berlubang atau caries. Sementara pada manusia dewasa hal tersebut tidak ada pengaruhnya.

Pemberian dosis anak dapat didasarkan pada 2 hal:

1. Dosis berdasarkan berat badan yaitu : Dosis obat dalam satuan mg/Kg BB/hari. Dosis yang diperlukan adalah dosis per mg/kg BB-nya atau menurut rumus dosis clark dosis anak dapat dihitung.

BB anak X Dosis dewasa = Dosis anak-anak 60*)

*) rata-rata BB dewasa manusia indonesia dalam kg

2. Dosis berdasarkan permukaan tubuh adalah :

Luas permukaan tubuh X dosis dewasa= Dosis anak-anak

1.73 m2

Luas permukaan tubuh anak dicari dengan nomogram berdasarkan potongan berat badan dan tinggi badan . Metoda ini sekarang paling sesuai untuk perhitungan dosis anak karena banyak fenomena fisik berkaitan dengan luas permukaan tubuh. Besarnya dosis anak sebagai persentase dari dosis dewasa dapat dilihat pada tabel.

Tabel : Usia, BB, Dosis anak

Usia

Berat badan

(kg)

Dosis anak

(% dari dosis dewasa )

Neonatus

3,4

< 12,5

1 bulan

4,2

< 14,5

3 bulan

5,6

18

6 bulan

7,7

22

1 tahun

10

25

3 tahun

14

33

5 tahun

18

40

7 tahun

23

50

12 tahun

37

75

Pertimbangan yang dominan dalam menentukan dosis anak adalah kemampuan pada aspek farmakokinetika obat yang berbeda dengan dewasa yaitu mengenai tahapan absarpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat (ADME) hal ini dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.

Tabel : Kemampuan organ tubuh bayi dan anak dari tinjauan farmakokinetika obat.

Tahap Farmakokinetika

Kemampuan reseptos dan kondisi biologis

Absorpsi

pH lambung lebuh tinggi dari dewasa , akibatnya golongan obat penisilin akan lebih banyak penyerapannya, sehingga dosiisnya perlu diturunkan.

Waktu pengosongan lambung yang lebih lambat. Obat lebih lama untuk mencapai kadar puncak.

Kulit bayi yang tipis membuat obat topikal harus hati-hati

Distribusi

Karena bayi mempunyai pengikatan pada protein plsma yang lebih sedikit, maka terdapt obat bebas lebih , sehingga toksisitas obat mudah dicapai. Dosis antibiotik harus diturunkan

Metabolisme atau biotransformasi

Aktivitas enzim hati yang masih rendah, sehingga waktu paruh lebih panjang. Pertimbnagkan kemungkinan akumulasi obat. Sementara pasa enak yang lebih besar dengan meningkatnya laju metabolisme, membuat waktu paruh lebuh singkat, sehingga dosis perelu dinaikkan

Ekskresi

Eliminasi obat melalui ginjal menurun sampai usia satu tahun. Penurunan dalam ekskresi obat menyebabkan waktu paruh yang lebih panjang dan ada kewmungkinan terjadi toksisitas obat.

PENGGUNAAN OBAT PADA LANSIA

Penggunaan obat pada kalangan lansia hampir mendapai 25 % dari semua obat-obatan, terutama karena penyakit kronik dan juga banyaknya penyakit dikalangan lansia. Terdapat beberapa perubahan fisiologis pada lansia berkaitan dengan proses penuaan dan ini mempengaruhi efektifitas dalam terapi obat.

Pemberian obat pad lansia , lebih baik digunakan dosis yang lebih rendah dari dosis dewasa. Berika dosis yang sederhana 1x sehari dan sediaan obat yang mudah ditelan (sirup atau tablet), bila perlu monitor kadar obat dalam serum lansia.

Tabel : Perubahan fisiologis pada lansia

Tahap Farmakokinetik

Kemampuan reseptor dan kondisi fisiologisnya

Absorpsi

Karena aliran darah yang berkurang ke GI (akibat curah jantung yang menurun), maka absorpsi diperlambat berkurangnya peristaltik GI akan mengakibatkan mula kerja obat

Distribusi

Tempat pengikatan pada protein plasma yang berkurang, kareana berkurangnya kadar protein dan albumin plasma . maka terdapat obat bebas lebih banyak, sehingga pemberian obat harus memperhatikan kompetisi untuk berikatan dengan protein

Metabolisme atau biotransformasi

Aktivitas enzim hati berkurang/menurun, sehinghga kemampuan metabolisme obat rendah dan waktu paruh lebih meningkat. Pertimbangkan kemungkinan akumulasi obat

PENGGUNAAN OBAT PADA KEHAMILAN

Pada wanita hamil, respon farmakokinetik dan farmakodinamik dari obat dapat berubah karena adanya perubahan fisiologis wanita hamil yaitu

Tabel : Kondisi fisiologis wanita hamil

Kondisi fisiologis

Perubahan yang terjadi

Sistem Kardiovaskuler

1. Ekspansi volume plasma (hipervolemia)

2. Perubahan aliran darah regional

3. Fungsi ginjal

Mula pada 6-8 minggu kehamilan

Meningkatnya volume plasma 1200-1300ml pada 30-34 minggu atau sekitar 45 % diatas wanita normal

Meningkatnya cardiac output hingga 30-50% diatas wanita normal

Meningkatnya aliran darah kedinding plasenta, ginjal,kulit, payudara

Menurunnya aliran darah pada otot skeletal sebagai akibat meningkatnya kram pada kaki

Meningkatnya kecepatan filtrasi glomerulus mulai 6 mingggu kehamilan

Fungsi reabsorpsi ditubular yang mengkin membuat nilai glikose turun

Sistem gastrointestinal

Perubahan pada gastrointestinal meningkatnya waktu trnsit yang disebabkan aksi progesteron pada otot polos

Kondisi fisiologi ibu hamil yang berubah dibandingkan keadaan wanita normal dari aspek farmakokinetik obat menimbulkan hal-hal berikut :

1. Berkurangnya obat yang diikat albumin, menyebabkan meningkatnya fraksi bebas.

2. Meningkatnya cairan tubuh membuat adanya pengenceran obat, sehingga obat tidak dapat diberikan dalam dosis yang lebih rendah

3. Perubahan pada gastrointestinal. Obat yang diberikan peroral menampakkaan penurunan kadar puncak dan lama obat bekerja

4. Berkurangnya ikatan obat dengan protein menyebabkan pengaruh jumlah dari obat yang ditransferke air susu, henya fraksi nobat bebas yang dapat ditransfer

5. Perubahan enzimatikmembuat pengaruh efek obat yang lebih cepat, pertimbangkan kemungkinan terjadinya toksisitas.

PEMBERIAN OBAT PADA KONDISI TERTENTU

Karena banyaknya jenis penyakit, maka dibatasi pada yang menyerang organ utama yang berkaitan dengan fungsi farmakinetik tubuh, seperti dapat dilihat pada tabel.

Tabel : Kondisi patologik penderita dan pengaruhnya dalam proses farmakokinetika obat

Penyakit

Pengaruh terhadap proses farmakokinetik obat

Prinsip pemberian obat

Penyakit saluran cerna

Mengurangi kecepatan dan atau jumlah obat yang diabsorpsi melalui pelambatan pengosongan lambung, percepatan waktu transit, dan kemungkinan terjadinya melabsorpsi

Hindari obat iritan misal Kcl, aspirin, AINS, pada keadaan hipomotilitas saluran cerna

Kardiovaskuler

Mengurangi distribusi obat ke hepar dan ginjal sehingga kadardalam darah tinggi

Turunkan dosis awal ataupun dosis penunjang

Hepar

Mengurangi metabolisme obat dalam hati sehingga meningakatkan kadar obat bebas dalam darah dan jaringan. Dapat terjadi respon berlebihan atau toksik. Terutama terjadi pada penyakit hati yang parah.

Hepatotoksik obat dapat terjadi pada dosis yang lebih rendah.

Dipilih obat yang ekskresinya banyak melelui ginjal

Gunakan dosis yang lebih rendah dari dosis normal

Ginjal

Mengurangi ekskresi obat sehingga meningkatnya kadar dalam darah dan jaringan

Dipilih obat yang eliminasinya melalui metabolisme hati.

Gunakan dosis yang lebih rendah dari dosis normal


TERATOLOGI

Teratologi adalah ilmu yang mempelajari perkembangan abnormal dan malformasi kongenital janin. Teratogen adalah agen yangn dapat menginduksi malformasi selama perkembangan bayi. Sedangkan mutagen adalah agen yang menyebabkan mutasi genetik.

Hal yang perlu diingat tentang teratogen :

  • Teratogen bersifat sfesifik.

Teratogen menyebabkan kelainan yang spesifik, misalnya talidomide( obat penenang) menyebabkan kelainan syaraf

  • Teratogen menunjukkan hubungan dosis-efek

Hasil study pada binatang menunjukkan bahwa pada dosis rendah tidak menunjukkan adanya efek, pada dosis menengah nampak adanya pola karakteristik malformasi dan pada dosis tinggi menyebabkab matinya embrio.

  • Teratogen harus sampai pada bakal janin dengan jumlah yang cukup untuk menimbulkan efek. Pengobatan pad amat memberikan efek yang kecil pada bakal janin, karena meskipun didistribusi secara sistemik tapi kadarnya pada fetus sangat kecil sekali.
  • Efek tertogen tergantung tahap perkembangan fetus. Selama tahap embryogenesis, embrio sangat peka terhadap teratogen.

 

DIARE

Diare adalah Terjadinya BAB 3x atau lebih sering sehari dengan konsistensi lembek atau cair tidak seperti biasanya.

Diare akut adalah meyebabkan kesakitan dan kematian pada anak, angka kejadian lebih kurang 400 per 1000 penduduk pertahun 60-70 % terjadi pada balita, Pemyebabnya adalah DEHIDRASI

Masalah dalam pengobatan diare:

1. Pengobatan diare akut dengan URO ( Upaya Rehidrasi Oral ) tapi kenyataan banyak pengobatan yang tidak rasional meninggalkan URO dan menggunakan obat-obat yang tidak tepat.

2. Obat yang tidak tepat banyak memberi resiko dari pada manfaat

a. Antimikroba Hanya dibutuhkan pada diare akut spesifik

b. Spamolitika mengrangi peristaltik ex. loperamide, papaverine,

c. Adsorben tidak menyerap racun dan mengentalkan tinja,: norit , pulgit

Patofisiologi

Diare disebabkan terganggunya absorbsi air dan elektrolit karena kerusakan sel- sel mukosa usus oleh invasi usus, keluarnya cairan dan elektolit dari dinding usus loeh karena rangsangan biokimia dan toksin yang dikeluarkan bakteri serta invasi bakteri kedalam mukosa usus menyebabkan nasalh yang dihadapi terjadinya dehidrasi dan kekurangan elektrolit.

Tujuan terapi : REHIDRASI

Untuk dirumah dengan karbohidart- garam

Karbohidrat : air tajin , sup

Garam, oralit

Diare Spesifik

Gejala khusus

Penyakit

Terapi utama

Terapi alternatif

Diare, muntah berlebihan, cepat dehidrasi tinja seperti air cucian beras

Kolera

Tetrasiklin

Eritomisin

Furazolidon

Demam, muntah, mual, sakit kepal , tinja berdarah,

Shigellosis

Ampicilin

Kotromoksazol

Asam nalidiksat

Demam, tinja berdarah, berlendir, tropozoid amoeba +

Amoebasis

Metronidazol

Dehidroemetin hcl

Badan lemah, tinja kuning, pucat, berminyak, berbusa tidak berbentuk

Giardiasis

metronidazol

Kuinokin

ANTIHISTAMIN

Histamin adalah suatu senyawa amina yang didalam tubuh dibentuk oleh asam amino histidin olehn pengaruh enzim histidin dekarboksilase hampir semua organ dijaringan tubuh mengandung histamin itu. Zat tersebut terdapat terutama dalam sel-sel tertentu yaitu mastcell, dalam keadaan terikat dan tidak aktif, dapat dibebaskan dari ikatannya dalam bermacam-macam faktor antara lain reaksi alergi, luka-luka berat, sinar uv dari matahari, racun ular dan tawon, enzim proteolitik, tubokurarin,klordiazepoksida.

Efek Histamin, terdapat histamin yang berlebihan didalam tubuh menimbulkan efek antara lain :

1. Kontraksi otot-otot polos bronchi, usus dan uterus

2. Vasodilatasi semua pembuluh daranh akibat hipotensi

3. Memperbesar permeabilitas kapiler, yang berakibat udema dan pengembangan mukosa

4. Memperkuat sekresi kelenjar ludah, airmata dan asam lambung

5. Stimulasi ujung saraf dengan akibat erytema dan gatal-gatal

Dalam keadaan normal jumlah histamin dalam keedaan cukup kecil, hanya kira-kira 50 mcg/1, sehingga tidak menimbulkan efek seperti tersebut diatas. Baru bila mastcell pecah, histamin terlepas demikian banyak sehingga efek tersebut menjadi nyata. Kelebihan histamin dalam darah diuraikan dalam enzim histaminase yabg juga terdapat didalam jaringan. Dalam pengobatan untuk mengatasi efek histamin digunakan obat antihistaminika.

Antihistamin adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin yang berlebihan dalam tubuh, dengan jalan memblok reseptornya. Atas dasar reseptor histamin dibedakan 2 macam antihistaminika yaitu

1. Antihistaminika H 1( H1 blocker)

Zat ini menekan reseptor H1 dengan efekl terhadap penciutan bronchi, usus, uterus, terhadap ujung saraf dan untuk sebagian terhadap sietem pembuluh darah(vasodilatasi dan naiknya permeabilitas) . Kebnyakan antihistaminika termasukl kelompok ini. Selain daya antihistaminika, obat-obat ini memiliki khasiat lain yaitu antikolinergik, menekan SSP dan beberap diantaranya antiserotonin dan lokal anestesi. Bardasarkan efek tersebut, amtihistaminika ini banyak digunakan untuk mengatasi gangguan, antara lain asma, yang bersifat alergi, ”hay fever”(alergi terhadap serbuk sari bunga ), urticaria(kaligata), kurang nafsu makan, mabuk perjalanan parkinson dan sebagai sedativa hipnotika.

2. Antihistaminika H 2 ( H2 blocker)

Menekan reseptor H2 dengan efek terhadap hipersekresi dan untuk sebagian terhadap vasodilatasi dan turunnya tekanan darah. Obat yang termasuk golongan ini adalah simetidine dan ranitidin.

Obat-obat antihistamin:

1. Difenhidramin

Khasiat antihistaminikanya yang kuat, juga bersifat sedatif, antikolinergik, spasmodik,antiemetik dam antivertigo. Banyak digunakan dalam obat batuk,obat mabuk perjalanan, anti gatal-gatal karena alergi dan oabat tambahan pada penyakit parkinson. Efek sampingnya mengantuk.

2. Klorfeniramin

Daya antihistaminika lebih kuat daripada feniramin, dan mempunyai efek sedatif ringan. Digunakan untuk alergi seperti rhinitis alergi, urtikaria,asma bronchial, dermatitis atopik, eksim alergi, gatal-gatal dikulit udema angioneurotik.

3. Prometazin

Selain digunakan sebagai obat batuk, juga digunakan sebagai antiemetik untuk mencegah mual dan mabukl perjalanan, sindrom parkinson,sedativa dan hypnotika.

4. Dimenhidrinat

Digunakan pada mabuk perjalanan dan muntah-muntah waktu hamil

5. Antazolin

Sifatnya tidak merangsang selaput lendir, karena itu sering digunakan untuk mengobati gejala alergi pada mata dan hidung

6. Feniramin

Berdaya antihistaminika kuat dan efek meredakan batuk yang cukup baik, sehingga digunakan pula dalam obat batuk

7. Siproheptadin

Merupakan satu-satunya antihistaminika yang menpunyai efek tambahan nafsu makan. Kerja ikutanya timbul rasa mengatuk, pusing , mual dan mulut kering.

8. Mebhidrolini napadisilat

Praktis tidak menidurkan, digunakan pada gatal-gatal karena alergi

9. Setirizine HCL

Digunakan untuk perineal rinitis,rginitis alergi, urtikaria idiopatik

10. Loratadine

Digunakan pada Rhinitis alergi, urtikaria kronik, dermatitis alergi, rasa gatal pada hidung dan mata, rasa terbakar apada mata.

FLU

Flu adalah suatu infeksi saluran pernapasan atas. Orang dengan daya tahan tubuh yang tinggi biasanya sembuh sendiri tanpa obat. Pada anak-anak, lanjut usia dan orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah lebih cenderung menderita

komplikasi seperti infeksi bakteri sekunder. Flu ditularkan melalui percikan udara pada saat batuk, bersin, dan tangan yang tidak dicuci setelah kontak dengan cairan hidung/mulut.

(bahan kuliah dan makalah kesehatan)

Gejala-gejala

- Demam, sakit kepala, nyeri otot

- Mata berair

- Batuk, bersin, hidung berair

- Sakit tenggorokan

 

Penyebab

- Infeksi saluran pernapasan bagian atas oleh virus influenza

 

Hal Yang Dapat Dilakukan

- Istirahat yang cukup

- Meningkatkan gizi makanan dengan protein dan kalori yang tinggi

- Minum air yang banyak dan makan buah segar yang banyak mengandung vitamin

- Minum obat flu untuk mengurangi gejala/keluhan

- Periksa ke dokter bila gejala menetap sampai lebih dari 3 hari

 

Obat Yang Dapat Digunakan

1. Antihistamin

Antihistamin dapat menghambat kerja histamin yang menyebabkan terjadinya reaksi alergi. Obat yang tergolong antihistamin antara lain:

Klorfeniramin maleat/klorfenon/CTM, Difenhidramin HCl.

 

a. Kegunaan obat

Anti alergi

 

b. Hal yang harus diperhatikan :

• Hindari dosis melebihi yang dianjurkan

• Hindari penggunaan bersama minuman beralkohol atau obat tidur

• Hati-hati pada penderita glaukoma dan hipertropi prostat atau minta saran dokter

• Jangan minum obat ini bila akan mengemudikan kendaraan dan menjalankan mesin

 

c. Efek samping

• Mengantuk, pusing, gangguan sekresi saluran napas

• Mual dan muntah (jarang)

 

d. Aturan pemakaian

Klorfenon / klorfeniramin maleat (CTM)

• Dewasa : 1 tablet (2 mg) setiap 6-8 jam

• Anak : < 12 tahun ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam

 

Difenhidramin HCl

• Dewasa : 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam

• Anak : ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam

 

Oksimetazolin (tetes hidung)

Kegunaan obat

Mengurangi sekret hidung yang menyumbat

 

Hal yang harus diperhatikan:

• Hindari dosis melebihi yang dianjurkan

• Hati-hati sewaktu meneteskan ke hidung, dosis tepat dan masuknya ke lubang hidung harus tepat, jangan mengalir keluar atau tertahan.

• Tidak boleh digunakan lebih dari 7-10 hari

• Segera minum setelah menggunakan obat, karena air dapat mengencerkan obat yang tertelan.

• Ujung botol obat dibilas dengan air panas setiap kali dipakai.

Efek samping

• Merusak mukosa hidung karena hidung tersumbat makin parah

• Rasa terbakar, kering, bersin, sakit kepala, sukar tidur, berdebar.

 

Kontra Indikasi

Obat tidak boleh digunakan pada:

• Anak berumur di bawah 6 tahun, karena efek samping yang timbul lebih parah.

• Ibu hamil muda

 

Aturan pemakaian

• Dewasa dan anak diatas 6 tahun : 2-3 tetes/semprot oksimetazolin 0,05% setiap lubang hidung

• Anak : 2-5 tahun : 2-3 tetes/semprot oksimetazolin 0,025% setiap lubang hidung.

• Obat digunakan pada pagi dan menjelang tidur malam, tidak boleh lebih dari 2 kali dalam 24 jam.

 

Dekongestan oral

Dekongestan mempunyai efek mengurangi hidung tersumbat. Obat dekongestan oral antara lain : Fenilpropanolamin, Fenilefrin, Pseudoefedrin dan Efedrin. Obat tersebut pada umumnya merupakan salah satu komponen dalam obat flu.

 

Kegunaan Obat

Mengurangi hidung tersumbat

 

Hal yang harus diperhatikan

Hati-hati pada penderita diabet juvenil karena dapat meningkatkan kadar

gula darah, penderita tiroid, hipertensi, gangguan jantung dan penderita

yang menggunakan antidepresi. Mintalah saran dokter atau Apoteker.

 

Kontra Indikasi

Obat tidak boleh digunakan pada penderita insomnia (sulit tidur), pusing,

tremor, aritmia dan penderita yang menggunakan MAO (mono amin

oksidase) inhibitor.

 

Efek samping

• Menaikkan tekanan darah

• Aritmia terutama pada penderita penyakit jantung dan pembuluh

darah.

 

Aturan pemakaian

 

Fenilpropanolamina

Dewasa : maksimal 15 mg per takaran 3-4 kali sehari

Anak-anak 6-12 tahun : maksimal 7,5 mg per takaran 3-4 kali sehari

Fenilefrin

Dewasa : 10 mg, 3 kali sehari

Anak- anak 6 – 12 tahun : 5 mg, 3 kali sehari

Fenilefrin

Dewasa : 10 mg, 3 kali sehari

Anak- anak 6 – 12 tahun : 5 mg, 3 kali sehari

Pseudoefedrin

Dewasa : 60 mg, 3 – 4 kali sehari

Anak-anak 2-5 tahun : 15 mg, 3 - 4 kali sehari 6-12 tahun : 30 mg, 3 - 4 kali sehari

Efedrin

Dewasa : 25 – 30 mg, setiap 3 – 4 jam

Anak-anak : sehari 3 mg/kg berat badan, dibagi dalam 4 – 6 dosis yang sama

Antitusif/ekspektoran (lihat Bab Batuk)

Anti piretik dan Analgesik (Obat penurun panas dan penghilang rasa nyeri, lihat bab Demam)

 

DEMAM

Demam bukan merupakan suatu penyakit, tetapi hanyalah merupakan gejala dari suatu penyakit. Suhu tubuh normal adalah 370C. Apabila suhu tubuh lebih dari 37,20C pada pagi hari dan lebih dari 37,70C pada sore hari berarti demam.

Kenaikan suhu 380C pada anak di bawah lima tahun dapat menimbulkan kejang dengan gejala antara lain: tangan dan kaki kejang, mata melihat ke atas, gigi dan mulut tertutup rapat, serta penurunan kesadaran. Keadaan demikian segera kedokter.

Gejala-gejala

Kepala, leher dan tubuh akan terasa panas, sedang tangan dan kaki dingin Mungkin merasa kedinginan dan menggigil bila suhu meningkat dengan cepat

Penyebab

Demam umumnya disebabkan oleh infeksi dan non infeksi. Penyebab infeksi antara lain kuman, virus, parasit, atau mikroorganisme lain.

Contoh : radang tenggorokan, cacar air, campak, dan lain-lain.

Penyebab non infeksi antara lain dehidrasi pada anak dan lansia, alergi, stres,trauma, dan lain-lain.

 

Hal Yang Dapat Dilakukan

  • Istirahat yang cukup.
  • Minum air yang banyak.
  • Usahakan makan seperti biasa, meskipun nafsu makan berkurang .
  • Periksa suhu tubuh setiap 4 jam.
  • Kompres dengan air hangat
  • Hubungi dokter bila suhu sangat tinggi (diatas 380C), terutama pada anak-anak

Petunjuk penggunaan termometer :

Kocok termometer sebelum mengukur sampai air raksa turun di bawah tanda 35 oC

Termometer ditaruh di bawah lidah selama 1 menit atau di bawah lipatan lengan (ketiak) selama 4 menit pada orang dewasa dan anak-anak. Suhu normal di bawah lipatan lengan (ketiak) adalah 36,5 oC. Untuk mendapatkan suhu yang setara dengan suhu mulut, tambahkan 0,5 oC pada suhu yang terbaca.

Cuci termometer sebelum dan sesudah dipakai.

Kapan harus ke dokter

Bila seorang bayi menderita panas

  • Bila demam lebih dari 39 oC (pada anak-anak 38.5 oC) dan tidak bisa turun
  • dengan parasetamol atau kompres.
  • Bila demam tidak berkurang setelah 2 hari
  • Bila demam disertai dengan kaku leher
  • Bila disertai gejala-gejala lain yang berkaitan dengan demam seperti : ruam kulit, sakit tenggorokan berat, batuk dengan dahak berwarna hijau, sakit telinga, sakit perut, diare, sakit bila buang air kecil atau terlalu sering buang air kecil, bintik-bintik merah pada kulit, kejang, pingsan
  • Bila terjadi demam setelah melahirkan atau keguguran

Obat Yang Dapat Digunakan

1. Parasetamol/Asetaminofen

a. Kegunaan obat

Menurunkan demam, mengurangi rasa sakit

b. Hal yang harus diperhatikan

  • Dosis harus tepat, tidak berlebihan, bila dosis berlebihan dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal.
  • Sebaiknya diminum setelah makan
  • Hindari penggunaan campuran obat demam lain karena dapat menimbulkan overdosis.
  • Hindari penggunaan bersama dengan alkohol karena meningkatkan risiko gangguan fungsi hati.
  • Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita gagal ginjal.

Kontra Indikasi

  • Obat demam tidak boleh digunakan pada :
  • penderita gangguan fungsi hati
  • penderita yang alergi terhadap obat ini
  • pecandu alkohol

 

Bentuk sediaan

Tablet 100 mg

Tablet 500 mg

Sirup 120 mg/5ml

 

Aturan pemakaian

Dewasa : 1 tablet (500 mg) 3 – 4 kali sehari, (setiap 4 – 6 jam)

Anak :

  • 0 – 1 tahun : ½ - 1 sendok teh sirup, 3–4 kali sehari
  • (setiap 4 – 6 jam)
  • 1 – 5 tahun : 1 – 1 ½ sendok teh sirup, 3 – 4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)
  • 6-12 tahun : ½ - 1 tablet (250-500 mg), 3 – 4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)

 

Asetosal (Aspirin)

a. Kegunaan obat

Mengurangi rasa sakit, menurunkan demam, antiradang

b. Hal yang harus diperhatikan

  • Aturan pemakaian harus tepat, diminum setelah makan atau bersama makanan untuk mencegah nyeri dan perdarahan lambung.
  • Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita gangguan fungsi ginjal atau hati, ibu hamil, ibu menyusui dan dehidrasi
  • Jangan diminum bersama dengan minuman beralkohol karena dapat meningkatkan risiko perdarahan lambung.
  • Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita yang
  • menggunakan obat hipoglikemik, metotreksat, urikosurik, heparin,
  • kumarin, antikoagulan, kortikosteroid, fluprofen, penisilin dan vitamin C.

BATUK

Batuk merupakan refleks yang terangsang oleh iritasi paru-paru atau saluran pernapasan. Bila terdapat benda asing selain udara yang masuk atau merangsang saluran pernapasan, otomatis akan batuk untuk mengeluarkan atau menghilangkan benda tersebut. Batuk biasanya merupakan gejala infeksi saluran pernapasan atas (misalnya batuk-pilek, flu) dimana sekresi hidung dan dahak merangsang saluran pernapasan. Batuk juga merupakan cara untuk menjaga jalan pernapasan tetap bersih. Ada dua jenis batuk yaitu batuk berdahak dan batuk kering. Batuk berdahak adalah batuk yang disertai dengan keluarnya dahak dari batang tenggorokan. Batuk kering adalah batuk yang tidak disertai keluarnya dahak.

(bahan kuliah dan makalah kesehatan)

Gejala-gejala

· Pengeluaran udara dari saluran pernapasan secara kuat, yang mungkin disertai dengan pengeluaran dahak

· Tenggorokan sakit dan gatal

 

Penyebab

a) Infeksi

Produksi dahak yang sangat banyak karena infeksi saluran pernapasan.

Misal flu, bronkhitis, dan penyakit yang cukup serius meskipun agak jarang yaitu pneumonia, TBC dan kanker paru-paru.

b) Alergi

· Masuknya benda asing secara tidak sengaja ke dalam saluran pernapasan .

· Misal : debu, asap, cairan dan makanan

· Mengalirnya cairan hidung ke arah tenggorokan dan masuk ke saluran pernapasan

· Misal : rinitis alergika, batuk pilek

· Penyempitan saluran pernapasan misal pada asma

 

Hal Yang Dapat Dilakukan

· Minum banyak cairan (air atau sari buah) akan menolong membersihkan tenggorokan, jangan minum soda atau kopi.

· Hentikan kebiasaan merokok

· Hindari makanan yang merangsang tenggorokan (makanan dingin atau berminyak) dan udara malam.

· Madu dan tablet hisap pelega tenggorokan dapat menolong meringankan iritasi tenggorokan dan dapat membantu mencegah batuk kalau tenggorokan anda kering atau pedih.

· Hirup uap air panas (dari semangkuk air panas) untuk mencairkan sekresi hidung yang kental supaya mudah dikeluarkan. Dapat juga ditambahkan sesendok teh balsam/minyak atsiri untuk membuka sumbatan saluran pernapasan.

· Minum obat batuk yang sesuai

· Bila batuk lebih dari 3 hari belum sembuh segera ke dokter

· Pada bayi dan balita bila batuk disertai napas cepat atau sesak harus segera dibawa ke dokter atau pelayanan kesehatan.

 

Obat Yang Dapat Digunakan

Obat batuk dibagi menjadi 2 yaitu ekspektoran (pengencer dahak) dan antitusif (penekan batuk)

 

A. Obat Batuk Berdahak (Ekspektoran)

1. Gliseril Guaiakolat

a. Kegunaan obat

Mengencerkan lendir saluran napas

b. Hal yang harus diperhatikan :

Hati-hati atau minta saran dokter untuk penggunaan bagi anak di bawah 2 tahun dan ibu hamil.

c. Aturan pemakaian

• Dewasa : 1-2 tablet (100 -200 mg), setiap 6 jam atau 8 jam sekali

• Anak : 2-6 tahun : ½ tablet (50 mg) setiap 8 jam

6-12 tahun : ½ - 1 tablet (50-100 mg) setiap 8 jam

Bromheksin

a. Kegunaan obat

Mengencerkan lendir saluran napas.

b. Hal yang harus diperhatikan

Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita tukak lambung dan

wanita hamil 3 bulan pertama.

c. Efek samping

Rasa mual, diare dan perut kembung ringan

d. Aturan pemakaian

Dewasa : 1 tablet (8 mg) diminum 3 x sehari (setiap 8 jam)

Anak : Di atas 10 tahun: 1 tablet (8 mg) diminum 3 kali sehari (setiap 8 jam)

5-10 tahun : 1/2 tablet (4 mg) diminum 2 kali sehari (setiap 8 jam)

Kombinasi Bromheksin dengan Gliseril Guaiakolat

a. Kegunaan obat

Mengencerkan lendir saluran napas

b. Hal yang harus diperhatikan :

• Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi anak di bawah 2 tahun.

• Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi penderita tukak lambung.

• Konsultasikan ke dokter atau Apoteker bagi ibu hamil.

c. Efek samping

• Rasa mual, diare, kembung ringan.

 

B. Obat Penekan Batuk (Antitusif)

1. Dekstrometorfan HBr (DMP HBr)

a. Kegunaan obat

Penekan batuk cukup kuat kecuali untuk batuk akut yang berat

b. Hal yang harus diperhatikan

• Hati-hati atau minta saran dokter untuk penderita hepatitis

• Jangan minum obat ini bersamaan obat penekan susunan syaraf pusat

• Tidak digunakan untuk menghambat keluarnya dahak

c. Efek samping

• Efek samping jarang terjadi. Efek samping yang dialami ringan seperti

mual dan pusing

• Dosis terlalu besar dapat menimbulkan depresi pernapasan

d. Aturan pemakaian

• Dewasa : 10-20 mg setiap 8 jam

• Anak : 5-10 mg setiap 8 jam

• Bayi : 2,5-5 mg setiap 8 jam

Difenhidramin HCl

a. Kegunaan obat

Penekan batuk dan mempunyai efek antihistamin (antialergi)

b. Hal yang harus diperhatikan

· Karena menyebabkan kantuk, jangan mengoperasikan mesin selama meminum obat ini

· Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita asma, ibu hamil, ibu menyusui dan bayi/anak.

c. Efek Samping

Pengaruh pada kardiovaskular dan SSP seperti sedasi, sakit kepala, gangguan psikomotor, gangguan darah, gangguan saluran cerna, reaksi alergi, efek antimuskarinik seperti retensi urin, mulut kering, pandangan kabur dan gangguan saluran cerna, palpitasi dan aritmia, hipotensi, reaksi hipersensitivitas, ruam kulit, reaksi fotosensitivitas, efek ekstrapiramidal, bingung, depresi, gangguan tidur, tremor, konvulsi, berkeringat dingin, mialgia, paraestesia, kelainan darah, disfungsi hepar, dan rambut rontok.

d. Aturan Pemakaian

• Dewasa : 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam

• Anak : ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam

KECACINGAN

Kecacingan adalah penyakit dimana seseorang mempunyai cacing dalam ususnya dan menimbulkan gejala atau tanpa gejala. Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius terutama untuk daerah tropis karena cukup banyak penduduk menderita kecacingan.

Kecacingan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, terhambatnya tumbuh kembang anak, kurang gizi dan zat besi yang mengakibatkan anemia.

 

Gejala-gejala

v Mengeluarkan cacing pada saat buang air besar atau muntah

v Badan kurus dan perut buncit

v Kehilangan nafsu makan, lemas, lelah, pusing, nyeri kepala, gelisah dan sukar tidur

v Gatal-gatal disekitar dubur terutama malam hari (cacing kremi)

v Pada jenis cacing yang menghisap darah (cacing pita, cacing tambang, cacing cambuk) dapat terjadi anemia

 

Gejala spesifik untuk tiap jenis cacing adalah

v Gejala penderita cacing kremi (Oxyuris/Entrobius vermicularis) adalah rasa gatal sekitar anus terutama malam hari, gelisah dan sukar tidur.

v Gejala penderita cacing gelang (Askariasis) adalah gangguan lambung, kejang perut diselingi diare, kehilangan berat badan dan demam

v Gejala penderita cacing tambang

adalah (Nekatoriasis/Ankilostomiasis) adalah gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare dan nyeri ulu hati), pusing nyeri kepala, lemah dan lelah, anemia, gatal di daerah masuknya cacing.

 

Penyebab

Cacing penyebab penyakit pada manusia terdiri dari :

v Cacing gelang (Askariasis lumbriocoides)

v Cacing cambuk (Tricularis sp)

v Cacing kremi (Entrobius vermicularia)

v Cacing tambang (Nekatoria dan ankilostomia)

v Cacing pita (Taenia sp)

 

Obat Yang Dapat Digunakan

Pirantel Pamoat

1.     Kegunaan Obat

Pengobatan askariasis, oksiuriasis, ankilostomiasis dan nekatoriasis.

Hal yang harus diperhatikan

Aturan pakai harus dibaca dan dipatuhi

2.     Kontra Indikasi

v Penderita gangguan fungsi hati

v Anak di bawah umur 2 tahun

v Ibu hamil

3.     Efek Samping

Nafsu makan hilang (anoreksia), mual, muntah, diare, kram lambung, meningkatkan SGOT, sakit kepala, pusing, mengantuk, ruam kulit

4.     Bentuk sediaan

v Tablet 125 mg

v Tablet 250 mg

5.     Aturan pemakaian

Tablet 125 mg

v 1 – 5 tahun : 1 tablet

v 5 – 9 tahun : 2 tablet

v 10 – 15 tahun : 3 tablet

v diatas 15 tahun dan dewasa : 4 tablet 

Tablet 250 mg

v 1 – 5 tahun : ½ tablet

v 5 – 9 tahun : 1 tablet

v 10 – 15 tahun : 1½ tablet

v diatas 15 tahun dan dewasa : 2 tablet

 

Hal Yang Dapat Dilakukan

v Menjaga kebersihan diri dengan memotong kuku, menggunakan sabun pada waktu mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air besar dan pada waktu mandi

v Menghindari makanan yang telah dihinggapi lalat dan cuci bersih bahan makanan untuk menghindari telur cacing yang mungkin ada serta biasakan memasak makanan dan minuman

v Menggunakan karbol di tempat mandi

v Menggunakan alas kaki untuk menghindari sentuhan langsung dengan tanah saat bekerja dihalaman, perkebunan pertanian, pertambangan, dll

 

Mebendazol

Kegunaan Obat

Pengobatan askariasis, trikuriasis, enterobiasis, ankilostomiasis, nekatoriasis dan infeksi campuran.

Hal yang harus diperhatikan

Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita diabet dan ibu menyusui.

Penggunaan jangka panjang dengan dosis besar dapat menimbulkan penurunan sel darah putih (neutropenia) kembali normal bila obat dihentikan.

Kontra Indikasi

Anak balita dan ibu hamil akan mengakibatkan pembentukan sel yang tidak normal (teratogenik)

Efek Samping

Nyeri pada lambung, diare

Bentuk Sediaan

Tablet 100 mg

Aturan pemakaian

v Untuk cacing kremi, 1 tablet sehari

v Untuk cacing cambuk, 1 tablet setiap pagi dan 1 tablet setiap malam selama 3 hari berturut-turut.

v Untuk cacing gelang, 1 tablet setiap pagi dan 1 tablet setiap malam selama 3 hari berturut-turut.

 

Piperazin

Kegunaan Obat

Pengobatan askariasis, oksiuriasis atau enterobiasis

Hal yang harus diperhatikan

aturan pakai harus dibaca dan dipatuhi

Kontra indikasi

v Penderita epilepsi

v Alergi terhadap piperasin

v Gangguan fungsi hati atau ginjal

Efek Samping

Mual, muntah, gangguan pada fokus mata, dermatitis, diare dan reaksi alergi.

Bentuk Sediaan

v Sirup piperazin sitrat 1 g/5 ml (kemasan sirup 15 ml)

v Sirup piperazin heksahidrat 1 g/5 ml (kemasan sirup 15 ml)

Askariasis (cacing gelang)

Dosis tunggal :

v bayi: 2,5 ml

v 1 – 2 tahun : 5 ml

v 3 – 5 tahun : 10 ml

v diatas 6 tahun dan dewasa : 15 ml

v minum selama 2 hari berturut-turut.

Oksiurasis

v Diminum setelah makan, selama 4 hari berturut-turut.

v Bayi : 1 kali sehari, 2,5 ml

v 1 – 2 tahun : 2 kali sehari, 2 – 5 ml

v 3 – 5 tahun : 2 kali sehari, 5 ml

v Diatas 6 tahun dan dewasa : 3 kali sehari, 5 ml

 

Ping your blog, website, or RSS feed for Free