Tampilkan postingan dengan label Promokes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Promokes. Tampilkan semua postingan
HIDUP SEHAT DIKALA HAMIL
Pentingnya Konseling Pra-kehamilan
Kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya ditentukan pertama kali oleh hal-hal yang justru terjadi sebelum kehamilan. Itulah sebabnya memeriksakan diri dalam bentuk konseling pra-kehamilan sudah perlu dimulai sebelum kehamilan terjadi. Ada tiga manfaat dilakukannya hal tersebut:
(1) Mendiskusikan risiko-risiko yang dimiliki,
(2) Memperoleh saran-saran promosi kesehatan, dan
(3) Mendapatkan intervensi atau tindakan yang diperlukan
Risiko dapat ada pada waktu seorang wanita hendak merencanakan kehamilannya. Risiko individual (umur, latar belakang etnis, riwayat keluarga), risiko sosial (dukungan, status ekonomi, lingkungan kerja, akses ke pelayanan kesehatan), perilaku berisiko (merokok, minum alkohol, dan penggunaan narkoba atau obat terlarang), kondisi psikologis (depresi, kecemasan, stress), dan riwayat reproduktif (kehamilan yang sebelumnya). Risiko-risiko tersebut perlu didiskusikan agar diperoleh kesiapan yang sebaik-baiknya untuk hamil.
Promosi kesehatan dapat diberikan secara efektif pada masa sebelum hamil. Di bidang nutrisi, misalnya tentang suplementasi asam folat dan diit seimbang. Program-program untuk menghentikan merokok, penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, pencegahan penyakit menular seksual, hepatitis, dan konseling tentang HIV. Pesan-pesan promotif mengenai hal-hal tersebut akan lebih bermanfaat diketahui sebelum seorang wanita itu hamil daripada sesudahnya.
Tindakan-tindakan medis juga sangat bermanfaat bila dilakukan sebelum hamil untuk beberapa keadaan tertentu, misalnya imunisasi rubela dan hepatitis, pengendalian berat badan, saran tentang obat-obat yang aman (mengubah, menghentikan, atau melanjutkan penggunaan suatu obat), dan konseling genetika.
Menumbuhkembangkan Janin Ibarat Membangun Sebuah Bangunan Rumah
Kehamilan adalah masa yang unik karena pada masa itulah terjadi proses bertumbuh dan berkembangnya janin. Dalam proses tersebut, janin memerlukan lingkungan dan bahan-bahan yang diperoleh melalui ibunya. Ibarat membangun bangunan rumah, kebutuhan-kebutuhan materialnya sudah tertentu (dalam jenis dan jumlah), dan harus diberikan pada waktu yang tepat sesuai tahapannya. Kita tidak bisa baru memasok batu pondasi ketika tahapan pembuatan pondasi sudah terjadi dan pembangunan rumah sedang dalam proses pemasangan atap. Ibu perlu dibantu dan dibimbing sehingga kebutuhan-kebutuhan janin dapat dipenuhi tepat waktu dalam jumlah dan jenis yang sesuai.
Tanda bahaya dalam kehamilan
Ibu hamil dan keluarganya adalah pihak yang paling tahu soal kehamilan yang terjadi pada dirinya. Itulah sebabnya mereka harus sukarela terlibat dalam perawatan kehamilannya sendiri. Salah satu bekal yang penting agar pertolongan yang diperlukan tidak terlambat diberikan adalah pengenalan secara benar adanya tanda-tanda bahaya baik pada ibu maupun bayi baru lahir. Penjelasan tentang tanda-tanda bahaya sekarang ini disajikan dalam bentuk gambar-gambar, karena lebih mudah dimengerti daripada dalam bentuk tekstual. Sumber termudah yang dapat diakses adalah buku KIA (warna jambon).
Secara umum tanda bahaya pada ibu adalah: perdarahan, demam, nyeri kepala hebat, kejang, bengkak, persalinan yang berlangsung > 12 jam, pada waktu mau melahirkan yang tampak di jalan lahir bukan kepala, dan ari-ari tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak bayi lahir. Pada bayi baru lahir, diperlukan kewaspadaan terhadap adanya tanda-tanda kulit kuning, pucat, terjadi perdarahan, badan demam atau justru terlampau dingin, kejang, tidak mau minum dengan baik, dan kesulitan bernapas.
Memahami bahwa tanda bahaya perlu dicermati keberadaannya dan bila didapatkan berarti perlu bantuan tanaga kesehatan adalah langkah pertama yang diperlukan agar pertolongan tidak terlambat diperoleh.
Gaya hidup dalam kehamilan
Gaya hidup merupakan pembawaan masing-masing orang yang kadang sesuai dengan keadaan kehamilan, tetapi tidak jarang pula dapat merugikannya. Gaya hidup sehat ibu hamil adalah sesuatu yang paling tepat kalau dimengerti sejak sebelum kehamilan. Persoalan-persoalan tentang olah raga dan gerak badan, konsumsi kafein, alkohol, merokok, dan penggunaan obat-obat terlarang perlu dijelaskan sebelum kehamilan. Keamanan penggunaan peralatan dan teknologi (seperti telpon genggam, microwave), memelihara kucing, pengenalan bahaya-bahaya dalam rumahtangga, polusi udara, dan masalah terapi alternatif/ komplementer (akupuncture, aromaterapi, meditasi, dan sebagainya) adalah hal praktis yang perlu diketahui.
Setelah mengetahui isu-isu tersebut di atas, maka saran ringkas yang dapat dipraktekkan oleh ibu hamil agar sukses dalam artian sehat ibu dan bayinya adalah:
(1) Hidup dan berpikir secara positif,
(2) Makan secara bijaksana,
(3) Berolahraga/ gerak badan secara teratur,
(4) Tidak merokok secara aktif maupun pasif, dan
(5) Mempraktekken higiene perorangan maupun komunitas secara baik.
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com
STRATEGI PROMOSI KESEHATAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, dimana tercantum dalam pasal 28 H ayat 1 UUD 1945 yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat besar peranannya dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam rangka mengimbangi makin ketatnya persaingan bebas di era globalisasi. Keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut memerlukan pembangunan kesehatan yang lebih dinamis dan produktif dengan melibatkan semua sektor terkait termasuk swasta dan masyarakat.
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Oleh karena itu perlu diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, promosi kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Dalam rangka memajukan kesehatan masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat maka diperlukan strategi promosi kesehatan baik kepada pemerintah, tokoh masyarakat, dan khususnya kepada masyarakat. Maka kami tertarik mengambil judul strategi promosi kesehatan untuk mengetahui bagaimana strategi promosi kesehatan yang di tujukan kepada pemerintah, tokoh masyarakat, dan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah makalah ini adalah apa pengertian strategi promosi kesehatan, bagaimana strategi promosi kesehatan menurut WHO dan menurut Piagam Ottawa.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana strategi promosi kesehatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengertian strategi promosi kesehatan.
2. Untuk mengetahuai bagaimana strategi promosi kesehatan menurut WHO.
3. Untuk mengetahui bagaimana strategi promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa.
1.4 Manfaat
Manfaat penulisan ini antara lain :
1.4.1 Dapat mengetahui pengertian strategi promosi kesehatan.
1.4.2 Pembaca mengetahui bagaimana strategi promosi kesehatan menurut WHO.
1.4.3 Pembaca mengetahui bagaimana strategi promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa.
1.5 Sistematika Uraian
Penyusunan sistematika uraian yang diterapkan sesuai kaidah tata tulis karya ilmiah yang dibakukan, sehingga penulis merujuknya dalam suatu kesatuan penyusunan secara sistematis. Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN, berisi mengenai latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan manfaat penyusunan makalah serta sistematika uraian.
BAB II ISI, berisi mengenai Tinjauan teori,
BAB III KESIMPULAN, makna yang diberikan penyusun terhadap hasil uraian yang telah dibuat.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Strategi Promosi Kesehatan
Untuk mewujudkan atau mencapai visi dan misi promosi kesehatan secara efektif dan efisien, diperlukan cara dan pendekatan yang strategis. Cara ini sering disebut “strategi”, yakni teknik atau cara bagaimana mencapai atau mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan tersebut secara berhasil guna dan berdaya guna.
2.2 Strategi Promosi Kesehatan menurut WHO
Berdasarkan rumusan WHO (1994) strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3 hal, yaitu :
Advokasi (Advocacy)
Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain agar orang lain tersebut membantu atau mendukung terhadap apa yang di inginkan. Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor, dan di berbagai tingkat, sehingga para penjabat tersebut mau mendukung program kesehatan yang kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat keputusan tersebut dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, surat instruksi, dan sebagainya. Kegiatan advokasi ini ada bermacam-macam bentuk, baik secara formal maupun informal. Secara formal misalnya, penyajian atau presentasi dan seminar tentang issu atau usulan program yang ingin dimintakan dukungan dari para pejabat yang terkait. Kegiatan advokasi secara informal misalnya sowan kepada para pejabat yang relevan dengan program yang diusulkan, untuk secara informal meminta dukungan, baik dalam bentuk kebijakan, atau mungkin dalam bentuk dana atau fasilitas lain. Dari uraian dapat disimpulkan bahwa sasaran advokasi adalah para pejabat baik eksekutif maupun legislatif, di berbagai tingkat dan sektor, yang terkait dengan masalah kesehatan (sasaran tertier).
Dukungan Sosial (Social support)
Strategi dukunngan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma), baik tokoh masyarakat formal maupun informal. Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat, sebagai jembatan antara sektor kesehatan sebagai pelaksana program kesehatan dengan masyarakat (penerima program) kesehatan. Dengan kegiatan mencari dukungan sosial melaui toma pada dasarnya adalah mensosialisasikan program-program kesehatan, agar masyarakat mau menerima dan mau berpartisipasi terhadap program kesehatan tersebut. Oleh sebab itu, strategi ini juga dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana, atau membina suasana yang kondusif terhadap kesehatan. Bentuk kegiatan dukungan sosial ini antara lain : pelatihan pelatihan para toma, seminar, lokakarya, bimbingan kepada toma, dan sebagainya. Dengan demikian maka sasaran utama dukungan sosial atau bina suasana adalah para tokoh masyarakat di berbagai tingkat. (sasaran sekunder).
Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan pada masyarakat langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi kesehatan). Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan denagn berbagai kegiatan, antara lain : penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya : koperasi, pelatihan-pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income generating skill). Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan mereka, misalnya : terbentuknya dana sehat, terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam ini di masyrakat sering disebut “ gerakan masyarakat” untuk kesehatan. Dari uaraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat.
5
2.2 Strategi Promosi Kesehatan menurut Piagam Ottawa
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa – Canada pada tahun 1986 menghasilkan piagam Otawa (Ottawa Charter). Di dalam piagam Ottawa tersebut dirumuskan pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu:
a. Kebijakan Berwawasan Kebijakan (Health Public Policy)
Adalah suatu strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada para penentu atau pembuat kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung atau menguntungkan kesehatan. Dengan perkataan lain, agar kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, perundangan, surat-surat keputusab dan sebagainya, selalu berwawasan atau berorientasi kepada kesahatan publik. Misalnya, ada peraturan atau undang-undang yang mengatur adanya analisis dampak lingkingan unruk mendirikan pabrik, perusahaan, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan kata lain, setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat publik, harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan (kesehatan masyarakat).
b. Lingkungan yang mendukung (Supportive Environment)
Strategi ini ditujukan kepada para pengelola tempat umum, termasuk pemerintah kota, agar mereka menyediakan sarana-prasarana atau fasilitas yang mendukung terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat, atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-tempat umum tersebut. Lingkungan yang mendukung kesehatan bagi tempat-tempat umum antara lain : tersedianya tempat samapah, tersedianya tempat buang air besar/kecil, tersedianya air bersih, tersedianya ruangan bagi perokok dan non-perokok, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, para pengelola tempat-tempat umum, pasar, terminal, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, mall dan sebagainya, harus menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung perilaku sehat bagi pengunjungnya.
c. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Service)
Sudah menjadi pemahaman masyarakat pada umumnya bahwa dalam pelayanan kesehatan itu ada “provider” dan “consumer”. Penyelenggara (penyedia) pelayanan kesehatan adalah pemerintah dan swasta, dan masyarakat adalah sebagai pemakai atau pengguna pelayanan kesehatan. Pemahaman semacam ini harus diubah, harus diorientasi lagi, bahwa masyarakat bukan sekedar pengguna atau penerima pelayanan kesehatan, tetapi sekaligus juga sebagai penyelenggara, dalam batas-batas tertentu. Realisasi dari reorientasi pelayana kesehatan ini, adalah para penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintrah maupun swasta harus melibatkan, bahkan memberdayakan masyarakat agar mereka juga dapat berperan bukan hanya sebagai penerima pelayanan kesehatan, tetapi juga sekaligus sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Dalam meorientasikan pelayanan kesehatan ini peran promosi kesehatan sangat penting.
d. Keterampilan Individu (Personnel Skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yang terdiri dari individu, keluarga, dan kelompok-kelompok. Oleh sebab itu, kesehatan masyarakat akan terwujud apabila kesehatan indivu-individu, keluarga-keluarga dan kelompok-kelompok tersebut terwujud. Oleh sebab itu, strategi untuk mewujudkan keterampilan individu-individu (personnel skill) dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah sangat penting. Langkah awal dari peningkatan keterampilan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka ini adalah memberikan pemahaman-pemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara-cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit, mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan profesional, meningkatkan kesehatan, dan sebagainya. Metode dan teknik pemberian pemahaman ini lebih bersifat individual daripada massa.
e. Gerakan masyarakat (Community Action)
Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya seperti tersebut dalam visi promosi kesehatan ini, maka di dalam masyarakat itu sendiri harus ad gerakan atau kegiatan-kegiatan untuk kesehatan. Oleh karena itu, promosi kesehatan harus mendorong dang memacu kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, niscaya terwujud perilaku yang kondusif untuk kesehatan atau masyarakat yang mau dan mampu memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Untuk mewujudkan atau mencapai visi dan misi promosi kesehatan secara efektif dan efisien, maka diperlukan cara dan pendekatan yang strategis yaitu strategi promosi kesehatan. Berdasarkan rumusan WHO (1994) strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3 hal, yaitu Advokasi (Advocacy), Dukungan Sosial (Social support), dan Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment).
Di dalam piagam Ottawa dirumuskan pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu Kebijakan Berwawasan Kebijakan (Health Public Policy), Lingkungan yang mendukung (Supportive Environment), Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Service), Keterampilan Individu (Personnel Skill), dan Gerakan masyarakat (Community Action).
3.2 Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya kita sebagai perawat dapat memahami tentang strategi promosi kesehatan dalam rangka memajukan kesehatan masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat , dan dengan promosi kesehatan yaitu melalui penyuluhan kesehatan atau pendidikan kesehatan kita sebagai perawat dapat mencegah berbagai penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Notoatmodjo,Soekidjo.2005.Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi.Jakarta:Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Alamat situs :
http://www.scribd.com/doc/40462631/Makalah-Strategi-Promosi-Kesehatan-Jadi
Promosi Kesehatan dalam Kesehatan Masyarakat
Kesehatan dalam Bahasa Ingris adalah ‘’health’’ yang mempunyai dua arti yaitu sehat dan kesehatan. Sehat menjelasakan suatu kondisi atau keadaan dari subyek, misalnya ibu sehat, orang sehat dan sebagainya. Kesehatan menjelaskan tentang sifat dari subyek, misalnya kesehatan manusia, kesehatan individu, dan sebagainya. Secara awam sehat diartikan keadaan seseorang yang dalam kondisi tidak sehat, tidak ada keluhan, dapat menjalankan kegiatan sehari-hari, dan sebagainya.
Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 12, sehat adalah keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial dan tidak hanya dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial. Dalam Undang-Undang tersebut menyatan 4 aspek kesehatan yaitu fisik badan), mental jiwa, social, dan ekonomi. Wujud atau indicator dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan individu antara lain:
Kesehatan fisik terwujud apabila seseorsng tidak merasa sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara klinis tidak adanya penyakit. Kesehatan mental jiwa) mencakup 3 komponen, yaitu:
a) Pikiran yang sehat itu tercermin dari cara berpikir seseorang atau jalan pikiran.
b) Emosional yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang dalam mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, sedih dan sebagainya.
c) Spiritual yang sehat tercermin dari cara seseorang mengekspresikan rasa syukur, pujian atau penyembahan dan sebagainya.
Kesehatan social terwujud apabila seseorang mampu berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain secara baik, atau mampu berinteraksi dengan orang atau kelompok lain, tanpa membedakan ras, suku, agama, atau kepercayaan,dan sebagainya.
UPAYA KESEHATAN
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan diwujudkan dalam suatu wadah pelayanan kesehatan health services). Jadi, pelayanan kesehatan adalah tempat atau sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Dilihat dari sifatnya, upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Sarana pelayanan kesehatan primer primary care)
Adalah sarana atau pelayanan kesehatan bagi kasus-kasus atau penyakit –penyakit ringan. Sarana pelayanan kesehatan primer ini adalah kesehatan yang paling pertama menyentuh masalah kesehatan di masyarakat. Misalnya: puskesmas, poliklinik, doter praktik swasta dan sebagainya.
2. Sarana pelayanan kesehatan tingkat dua secondary care)
dari pelayanan kesehatan primer. Misalnya Puskesmas dengan rawat inap, Rumah Sakit tipe d dan c, Rumah Bersalin.
3. Sarana pelayanan kesehatan tingkat tiga tertiary care)
Adalah sarana pelayanan kesehatan rujukan bagi kasu-kasus yang tidak dapat ditangani oleh oleh sarana-sarana pelayanan kesehatan primer seperti disebutkan di atas. Misalnya Rumah Sakit Provinsi, rumah Sakit tipe A atau B.
PERAN PROMOSI KESEHATAN DALAM KESEHATAN MASYARAKAT
Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal dari dalam diri manusia) maupun faktor eksternal di luar diri manusia). Faktor internal ini pun terdiri dari faktor fisik dan psikis. Demikian pula faktor eksternal, terdiri dari berbagai faktor yang antar lain social, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik,, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok, masyarakat dikelompokkan menjadi 4 Blum,174), berturut-turut besarnya pengaruh tersebut adalah sebagai berikut:
(Lingkungan environment), yang mencakup lingkungan fisik, soaial, budaya, politik, ekonomi dan sebgainya.
(Perilaku behavior)
(Pelayanan kesehatan health services)
(Keturunan heredity)
Keempat faktor tersebut tidak berdiri sendiri tetapi masing-masing saling mempengaruhi satu sama lain. Suatu promosi kesehatan dapat mempengaruhi dari lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Sedangkan keturunan urang dalam pengaruh kesehatan karena itu sudah mendasar yang diwariskan oleh keluarganya.
konsep promosi kesehatan
A. PENDIDIKAN DAN PROMOSI KESEHATAN
Secara definisi istilah promosi kesehatan dalam ilmu kesehatan masyarakat healyth promotion) mempunyai dua pengertian. Arti pertama adalah sebagian dari tingkat pencegahan penyakit. Level and clerk, yang mengatakan adanya 4 tingkat pencegahan penyakit dalam perspektif kesehatan masyarakat, yaitu:
Ø Health Promotion peningkatan/proosi kesehatan)
Ø Specific protection perlindungan khusus melali imunisasi)
Ø Early diagnosis and prompt treatment diagnosis dini dan pengobatan segera)
Ø Disability limitation membatasi atau mengurangi terjadinya kecacatan)
Ø Rehabilitation pemulihan)
Oleh sebab itu, promosi kesehatan dalam konteks ini adalah peningkatan kesehatan. Sedangkan pengertian kedua, promosi kesehatan adalah sebagai upaya memasarkan atau menjual kesehatan sehingga masyarajat menerima atau mengenal dan merubah perilakunya sesuai dengan apa yang dipromosikan. Selama ini pengetahuan tentang kesehatan sudah cukup tinggi, namun perilaku-perilaku yang dilakukan oleh masyarakat kaitannya dengan kesehatan tidak didasarkan pada pengetahuan yang dipunyai. Pada jaman dahulu promosi kesehatan bernama pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya yang terencana untuk perubahan perilaku masyarakat sesuai dengan norma-normakesehatan, maka promosi kesehatan tidak hanya mengupayakan perubahan perilaku saja, namun perubahan lingkungan yang yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
Menurut Lowrence Green 184), promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi yang dirancang untuk memudahkan perubahan lingkungan dan perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Berdasarkan Piagam Ottawa Ottawa Charter: 1-86), Promosi Kesehatan adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Batasan promosi kesehatan ini mencakup dua dimensi, yaitu kemauan dan kemampuan. Batasan promosi kesehatn yang lain dirumuskan oleh Yayasan Kesehatn Victoria Victorian Health Foundation-Australia, 1—7), yaitu bahwa promosi kesehatan adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh, dalam konteks masyaraktnya. Bukan hanya perubahan perilaku tetapi perubahan lingkungannya juga.
B. PROMOSI KESEHATAN DAN PERILAKU
Masalh Kesehatan masyarkat ditentukan oleh dua factor, yaitu factor perilaku dan nonperilaku fisik, social, ekonomi, politik, dan sebgainya). Promosi kesehatan sebagai pendakatan perilaku kesehatan, maka kegiatannya tidak terlepas dari factor yang menentukan perilaku tersebut. Kegiatan promosi kesehatan harus disesuaikan dengan determinan –faktor yang mempengaruhi perilaku itu sendiri). Menurut Lowrence Green perilaku ini ditentukan oleh 3 faktor utama, yaitu:
a) Faktor Predisposisi –predisposisi factors), meliputi pengetahuan dan sikap seseorang atau masyarakat tersebut terhadap apa yang dilakukan.
b) Faktor Pemungkin –enabling factors), meliputi fasilitas , sarana, atau prasarana yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.
c) Faktor Penguat –reinforcing factors), meliputi seseorang yang dihormati atau disegani dapat mempengaruhi perilaku kesehatan karena masyarakat akan meniru orang tersebut jika orang tersebut juga melakukan perilaku-perilaku kesehatan yang mencerminkan dengan perilaku kesehatan.
Berdasarkan 3 faktor determinan perilaku tersebut, maka kegiatan promosi kesehatan sebagai pendekatan perilaku hendaknya diarajkan kepada 3 faktor tersebut:
Ø Kegiatan promosi kesehatan yang ditujukan kepaada factor predisposisi adalah pemberian informasi atau pesan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.
Ø Kegiatan promosi kesehatan yang ditujukan kepada factor pemungkin –enabling) adalah memberdayakan masyarakat melalui pengorganisasian atau pengembangan masyarakat.
Ø Kegiatan promosi kesehatan yang ditujukan kepada factor penguat –reinforcing) adalah berupa pelatihan-pelatihan kepada para tokoh masyarakat, baik formal maupun non formal.
C. VISI DAN MISI PROMOSI KESEHATAN
Visi adalah impian, cita-cita, atau harapan yang ingin dicapai oleh suatu program. Dalam Undang-Undang Kesehatan RI No. 23 Tahun 1—2, yakni: Meningkatknya kemampuan masyrakat untuk memelihra dan meningkatkan derajad kesehatan, baik fisik, mental, maupun sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun social. Dari visi tersebut dapat dirumuskan 4 kata kunci, yaitu:
1) Mau –willingness) memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
2) Mampu –ability)memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
3) Memelihara kesehatan, berarti mau dan mampu mencegah penyakit, melindungi diri dari gangguan-gangguan kesehatan, dan mencari pertolongan pengobatan yang profesioanal bila sakit.
4) Meningkatkan kesehatan, berarti mau dan mampu meningkatkan kesehatannya. Kesehatan perlu ditinkatakan, karena derajad kesehatan baik individual, kelompok,, atau masyarakat itu bersifat dinamis, tidak statis.
Misi adalah suatuupaya-upaya untuk mewujudkan visi. Secara umum misi promosi kesehatan ini sekurang-kurangnya ada tiga hal, yaitu:
1) (Advokat –advocate) kegiatan ini dilakukan terhadap para pengambil keputusan dari berbagai tingkat, dan sector terkait dengan kesehatan.
2) (Menjembatani –mediate) kegiatan ini dilakukan dengan melakukan pereratan kemitraaan di bidang pelayanan kesehatan.
3) (Memampukan _enable) Þpromosi kesehatanharus mampu memberikan keterampilan-keterampilan kepada masyrakat, agar mereka mandiri di bidang kesehatan.
D. STATEGI PROMOSI KESEHATAN
Stategi merupakan cara dan pendekatan secara efisien dan efektif untuk mencapai sebuah visi dan misi hingga berhasil guna dan berdaya guna. Berdasarkan rumus WHO, strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3 hal, yaitu:
(Advokasi –advocacy)
Advokasi adlah kegiatan untuk meyakinkan orang lain, agar orang lain tersebut membantu atu mendukung terhadap apa yang diinginkan. Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi adlah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sector, dan di berbagai tingkat, sehingga para pejabat tersebut mau mendukung program kesehatanyang kita inginkan.
(Dukungan Sosial –social support)
Strategi dukungan social ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan social melalui tokoh-tokoh masyarakat, baik tokoh masyarakat formal maupun informal. Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat, sebagai jembatan antara sektor kesehatan sebagai pelaksana program dengan masyarakat penerima program.
(Pemberdayaan masyarakat –empowerment
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang dijukan kepada masyarakat langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri –visi promosi kesehatan). Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan, anatara lain: penyuluhan dan lain-lain.
Konferensi Internasioanal Promosi Kesehatan di Ottawa-Canada pada tahun 1-86 menghasilkan Piagam Ottawa –Ottawa Charter). Piagam tersebut menyatakan strategi baru dalam promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu:
Kebijakan Berwawasan Kebijakan – Healthy Public Policy)
Adalah suatu strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada para penentu atau pembuat kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan public yang mendukung atau menguntungkan kesehatan. Dengan perkataan lain, agar kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, perundangan, surat-surat keputusan, dan sebagainya.
Lingkungan yang mendukung ( Supportive Enviorenment)
Strategi ini dijukan kepada para pengelola tempat umum, termasuk pemerintah kota, agar mereka menyediakan sarana-prasarana atau fasilitas yang mendukung terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat, atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-tempat tersebut. Misalnya yaitu, terssedianaya tempat sampah, tersedianaya air bersih dan sebagainya.
Reorintasion Pelayanan Kesehatan –Reorient Health Sevices)
Penyelenggara pelayanan kesehatan adlah pemerintah dan swasta dan masyarakat adalah sebagai pemakai atau pengguna pelayanan kesehatan tersebut. Namun di sisi lain, masyarak juga ikut serta dalam pelayanan kesehatan dalam orientasi tertentu.
Keterampilan Individu- Personnel Skill)
Langkah awal dari peningkatan keterampilan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka ini adalah dengan memnberikan pehaman-pehaman kepada anggota masyarakat tentang cara-cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit, mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan professional, meningkatkan kesehatan, dan sebagainya. Teknik ini bersifat secara individu daripada massa.
Gerakan Masyarakat –Community Action)
Promosi kesehatan harus mendorong dan memacu kegitan-kegiatan di masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, niscaya terwujud perilaku yang kondusif untuk kesehatan, atau masyarakat yang mau dan mampu memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.
E. RUANG LINGKUP PROMOSI KESEHATAN
Ruang lingkup promosi kesehatan mencakup berbagai bidang keilmuwan. Ilmu-ilmu yang dicakup promosi kesehatan dpat dikelompokkan menjadi 2 bidang, yaitu:
1) Ilmu perilaku, yaitu ilmu-ilmu yang menjadi dasar dalam membentuk perilaku manusia, terutama psikologi, antropologi, dan sosiologi.
2) Ilmu-ilmu perilaku yang diperlukan untuk intervensi perilaku –pembentukan dan perubahan perilaku), antara lain pendidikan, komunikasi, manajemen, kepemimpinan, dan sebagainya.
Di samping itu, promosi kesehatan juga didasarkan kepada pada dimensi dan tempat pelaksanaannya, oleh sebab itu ruang lingkup promosi kesehatan dapat didasarkan kepada 2 dimensi, yaitu dimensi aspek sasaran pelayanan kesehatan, dan dimensi tempat pelaksanaan promosi kesehatan atau tatanan.
1. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan aspek pelayanan kesehatan, secara garis besarnya terdapat 2 jenis pelayanan kesehatan, yaitu:
Pelayanan preventif dan promotif, adalah pelayanan bagi kelompok masyarakat yang sehat, agar kelompok ini tetap sehat dan bahkan meningkat status kesehatannya. Pada dasarnya pelayan kesehatan ini dilaksanakan oleh kelompok profesi kesehatan masyarakat.
Pelayanan kuratif dan rehabilitative, adalah pelayanan kelompok masyarakat yang sakit, agar kelompok ini sembuh dari sakitnya dan menjadi pulih kesehatannya. Pada prinsipnya pelayanan kesehatan jenis ini dilakukan kelompok profesi kedokteran.
Maka, berdasarkan jenis aspek pelayanan kesehatan ini, promosi kesehatan mencakup 4 pelayanan, yaitu:
a) Promosi kesehatan pada tingkat promotif
Sasaran pada tingkat ini adalah pada kelompok sehat, dengan tujuan agar mereka mampu meningkatkan kesehatannya.
b) Promosi kesehatan pada tingkat preventif
Sasaran pada tingkat ini adalah kelompok yang beresiko tinggi –high risk), misalnya kelompok ibu hamil dan menyusui, para perokok dan lain-lain.
c) Promosi kesehatan pada tingkat kuratif
Sasaran pada tingkat ini adalah para penyakit –pasien), terutama untuk penderita penyakit-penyakit kronis seperti: asma, diabetes mellitus –gula), rematik, hipertensi dan lain-lain.
d) Promosi kesehatan pada tingkat rehabilitative
Sasaran pada tingkat ini adalah pasien atau penderita yang baru sembuh dari sakit – recovery). Tujuan utama promosi kesehatan pada tingkat ini adalah agar mereka ini segera pulih kembali kesehatannya, dan atau mengurangi kecacatan seminimal mungkin.
2. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan –tempat pelaksanaan):
a. Promosi kesehatan pada tatanan keluarga -rumah tangga)
Untuk mencapai perilaku sehat masyarkat, maka harus dimulai pada tatanan masing-masing keluarga. Dari teori pendidikan dikatakan, bahwa keluarga adalah tempat persemaian manusia sebagai anggota masyarakat.
b. Promosi kesehatan pada tatanan sekolah
Sekolah merupakan perpanjangan tangan keluarga.artinya, sekolah merupakan tempat lanjutan untuk meletakkan dasar perilaku bagi anak, termasuk perilaku kesehatan. Peran guru dalam promosi kesehatan di sekolah sangatlah penting, karena guru pada umumnya lebih dipatuhi anak-anak daripada orangtua.
c. Promosi kesehatan pada tempat kerja
Resiko yang ditanggung oleh masin-masing pekerja ini berbeda satu sama lainnya, tergantung pada lingkungan kerja masing-masing karyawan tersebut.Oleh karena itu, promosi kesehatan dapat dilakukan oleh pimpinan perusahaan atau tempat kerja yang kondusif bagi karywan atau pekerjanya.
d. Promosi kesehatan di tempat-tempat umum –TTU)
Di tempat umum juga perlu diadakan promosi kesehatan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung perilaku sehat bagi pengunjungnya, misalnya cuci tangan, kantin dan lain-lain. Tersedianya poster, penyediaan laflet atu selebaran yang berisi cara-cara menjaga kesehatan atau kebersihan adalah juga merupakan bentuk promosi kesehatan.
e. Pendidikan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan
Pelaksanaan promosi kesehatan di institusi pelayanan kesehatan ini dapat dilakukan baik secara individu oleh para petugas kesehatan kepada para pasien atau keluarga psien, atau dapat dilakukan terhadap kelompok-kelompok, misalnya kelompok penderita penyakit tertentu. Promosi kesehatan juga dpat dilakukan secara masal, yakni seluruh pengunjung intitusi pelayanan kesehatan tersebut.
F. METODE DAN TEKNIK PROMOSI KESEHATAN
Metode dan teknik promosi kesehatan adalah suatu kombinasi antara cara-cara atau metode dan alat-alat bantu atau media kesehatan. Dengan perkataan lain, metode dan teknik promosi kesehatan, adalah dengan cara dan alat yang digunakan oleh pelaku promosi kesehatan untuk menyampaikan pesa-pesan kesehatan atau mentransformasikan perilaku kesehatan kepada sasaran atau masyarakat. Berdasarkan sasarannya, metode dan teknik promosi kesehatan dibagi menjadi 3, yaitu:
Metode promosi kesehatan individual
Metode yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakan pendekatan individual ini karena setiap orang memounyai permasalahan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui denagn tepat serta membantunya maka perlu menggunakan metode/ cara ini. Bentuk pendekatan ini, anatara lain:
1. Bimbingan dan penyuluhan –guidance and counceling)
Dengan cara ini kontak anatara klien dengan petugas lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan kesadran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut –menggubah perilaku)
2. Interview –wawancara)
Metode ini dilakukan dengan wawancara dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia belum atau tidak menerima perubahan, untuk mempengaruhi apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
Metode promosi kesehatan kelompok
Dalam memilih metode promosi kelompok, harus mengingat besarnya kelompok sasaran tingkat pendidikan formal dari sasaran.Sasaran kelompok dibedakan menjadi dua, yaitu kelompok kwecil antar 6-15 orang dan kelompok besar antar 15-50 orang. Oleh sebab itu, metode promosi kesehatan kelompok juga dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Metode dan teknik promosi kesehatan untuk kelompok kecil. Metode yang cocok dilakukan adalah:
a. Diskusi kelompok
b. Curah pendapat- Brain strorming)
c. Bola salju –snow balling)
d. Kelompok-kelomppok kecil –Buzz group)
e. Role Play –memainkn peran)
f. Permainan Simulasi Simulasi
2. Metode dan teknik promosi kesehatan untuk kelompok besar. Metode yang baik untuk kelompok besar anatara lain:
Ø Ceramah
Metode ini baik digunakan pada sasaran tinggi maupun rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah:
a. Persiapan:
- Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai materi apa yang akan diceramahkan.
- Mempelajari alat-alat dengan sistematika yang baik.
- Mempersiapkan alat-alat bantu pengajarn, misalnya menggunakan slide.
b. Pelaksanaan:
Untuk dapat menguasai sasaran, penceramah dapat melakukan hal-hal sebai berikut:
- Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah.
- Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
- Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah
- Berdiri di depan dan di tengah-tengah, seyogyanya tidak duduk.
- Menggukanakan lat-alat bantu lihat –AVA) semaksimal mungkin.
Ø Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompook besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian –presentasi) dari seseorang ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu topic yang dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat.
Metode kesehatan massal
Metode promosi kesehatan massal memang paling dilakukan karena itu dilakukan secara besar-besaran dalam jumlah masyrakata yang besar. Metode dan teknik yang sering digunakan adalah adalah:
· Ceramah umum –public speaking/), misalnya di lapangan
· Penggunaan media massa elektronik, seperti radio atau TV. Penyampaian melalui radio atau televise ini dirancang dengaan pesan melalui berbagai bentuk, misalnya sandiwara, dialog interaktif, simulasi, dan lain-lain.
· Penggunaan media cetak, sepeti Koran, majalah, buku, leaflet, dan sebgainya. Bentuk sajian dalam media cetak ini juga bermacam-macam, antar lain: artikel, Tanya jawab, komik, dan sebagainya.
· Penggunaan media luar ruang, misalnya: biiboard, spanduk, umbul-umbul dan sebagainya.