Tampilkan postingan dengan label Penelitian Tindakan Kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian Tindakan Kelas. Tampilkan semua postingan

SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INKUIRI

(KODE : PTK-0061) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INKUIRI




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran akan efektif manakala ada dua unsur yang berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung yaitu, unsur guru dan siswa (Mansyur, 2006). Pertama, unsur guru yaitu guru membantu siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM), memberi umpan balik dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sifatnya menantang, bisa menginspirasikan gagasan siswa, bisa merubah tingkah laku siswa, dan bisa membuat situasi kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menyenangkan dan kondusif. Guru merupakan motor utama yang memiliki tanggung jawab langsung untuk menterjemahkan kurikulum ke dalam aktivitas pembelajaran, dan bukan satu-satunya sumber utama pengetahuan. Hal tersebut dapat dilihat dari tugas dan peran guru antara lain: sebagai komunikator, fasilitator, motivator, model, evaluator, sumber belajar, dan administator. Berkaitan dengan peran guru sebagai seorang fasilitator, bahwa tugas guru adalah memfasilitasi agar informasi baru menjadi bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. Agar informasi menjadi bermakna maka siswa harus dimotivasi untuk aktif, sebab siswa adalah pusat dari kegiatan pembelajaran sehingga siswa harus dilibatkan dalam tanya jawab yang terarah. Kedua, unsur siswa yaitu diharapkan diakhir proses kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa aktif bertanya, mengemukakan gagasan-gagasan, mampu merancang dan menciptakan sesuatu, dan menguasi keterampilan yang diperlukan.
Untuk menumbuhkan sikap aktif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang terjadi adalah guru dianggap sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran fisika.
Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran fisika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat keaktifan, pemahaman, penguasaan materi serta hasil belajar siswa (Saraswati, 2003). Semakin tinggi keaktifan, pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa keaktifan dan hasil belajar fisika yang dicapai siswa masih rendah. Berkaitan dengan masalah tersebut, pada pembelajaran fisika juga ditemukan keragaman masalah sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham, 3) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan gagasan/pendapat dalam pembelajaran, dan 5) kurangnya keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas (Saraswati, 2003). Hal ini menggambarkan efektifitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah.
Dari hasil observasi awal yang dilakukan terhadap sampel penelitian yang akan diberikan tindakan, ditemukan bahwa keaktifan lisan siswa dalam pembelajaran fisika masih sangat kurang. Begitu juga dengan hasil belajar siswa yang masih rendah dan masih banyaknya siswa yang belum tuntas.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Persentase keaktifan siswa dihitung berdasarkan jumlah siswa yang aktif dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran fisika. Berdasarkan klasifikasi keaktifan yang dikemukakan oleh Saraswati (2003), bahwa persentase keaktifan lisan siswa tersebut berada dalam kategori sangat kurang. Dilihat dari hasil belajar siswa, untuk ulangan harian pesawat sederhana dengan rata-rata nilai kelas 54,8 dan rata-rata nilai kelas untuk UTS adalah 59,2 serta masih ada siswa yang nilai raport di semester ganjil sama dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu sebesar 56 dan rata-rata nilai raport kelas sebesar 63,2. Dari hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa untuk ulangan harian pesawat sederhana masuk dalam kategori rendah, untuk hasil belajar UTS masuk dalam kategori sedang dan nilai raport semester ganjil masuk dalam kategori sedang.
Mengacu pada hasil observasi awal, wawancara dengan guru bidang studi dan hasil studi awal yang sudah dilakukan, penulis merasa tertarik untuk memberikan tindakan yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Untuk mengantisipasi kurang aktif dan rendahnya hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu dicarikan formula pembelajaran yang tepat, sehingga dapat meningkatkan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika. Salah satu formula pembelajaran adalah dengan menerapkan model pembelajaran latihan inkuiri. Inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa, yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi. Menurut Mestre & Cocking (Ibrahim, 2007) dalam inkuiri siswa dimotivasi untuk terlibat langsung atau berperan aktif secara fisik dan mental dalam kegiatan pembelajaran. Lingkungan kelas dimana siswa aktif terlibat dan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran sangat membantu dalam mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang lebih terencana serta sistematis dan sesuai dengan hakikat IPA. Untuk itu, penulis mencoba memberikan suatu alternatif model pembelajaran untuk mengatasi permasalahan di atas, yaitu dengan mengadakan suatu penelitian tentang penerapan model latihan inkuiri. Dalam penelitian ini penulis mengambil judul "Upaya Peningkatan Keaktifan Lisan dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Fisika Melalui Penerapan Model Pembelajaran Latihan Inkuiri". Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan memberikan informasi mengenai penerapan model pembelajaran latihan inkuiri agar terciptanya proses belajar fisika yang baik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas, maka perumusan secara umum dari penellitian ini adalah: "Bagaimana peningkatan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?".
Supaya penelitian ini lebih terarah dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka permasalahan umum tersebut dapat dijabarkan secara operasional dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut ini:
a. Bagaimana keaktifan lisan siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?
b. Bagaimana hasil belajar aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?
c. Bagaimana peningkatan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?
d. Bagaimana keterlaksanaan penerapan model pembelajaran latihan inkuiri yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran?

C. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Keaktifan lisan siswa yang diamati meliputi: keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan gagasan/pendapat, dan mengungkapkan pengetahuan awal.
2. Hasil belajar yang diamati dan dinilai adalah:
- Aspek kognitif siswa, yang meliputi: jenjang kemampuan ingatan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3).
- Aspek afektif siswa, yang meliputi: kerjasama dalam percobaan dan diskusi, keseriusan dan ketelitian dalam pengamatan, kejujuran dalam pengambilan data, dan tanggung jawab terhadap alat.
- Aspek psikomotor siswa, yang meliputi: kemampuan merancang percobaan/eksperimen, merangkai dan menggunakan alat, mengurupulkan dan mencatat data, dan kelengkapan lembar kerja siswa (LKS).
3. Yang dimaksud peningkatan dalam penelitian ini adalah selisih persentase keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam setiap siklus pembelajaran.

D. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang dimulai dengan tahapan menyajikan dan menghadapkan suatu masalah, mengurupulkan dan memvirifikasi data sebanyak-banyaknya, pembuktian dan eksperimen, pengorganisasian atau perumusan suatu penjelasan, dan analisis proses inkuiri. Untuk melihat keterlaksanaan dari setiap tahapan model latihan inkuiri maka digunakan format lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran latihan inkuiri.
2. Keaktifan lisan siswa yang diamati meliputi: keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan gagasan/pendapat, dan mengungkapkan pengetahuan awal. Untuk melihat dan mengetahui peningkatan keaktifan lisan siswa selama proses pembelajaran maka digunakan format lembar observasi keaktifan siswa dalam pembelajaran.
3. Hasil belajar menurut Benyamin Bloom et.al (Clark, 2000) diklasifikasikan ke dalam tiga domain (aspek) yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor.
- Aspek kognitif siswa, yang diamati dan dinilai dalam penelitian ini meliputi: jenjang kemampuan ingatan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Untuk melihat dan mengetahui peningkatan aspek kognitif siswa dalam pembelajaran maka digunakan tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda.
- Aspek afektif siswa, yang diamati dan dinilai dalam penelitian ini meliputi: kerjasama dalam percobaan dan diskusi, keseriusan dan ketelitian dalam pengamatan, kejujuran dalam pengambilan data, dan tanggung jawab terhadap alat. Untuk melihat dan mengetahui peningkatan aspek afektif siswa selama proses pembelajaran maka digunakan format lembar observasi aspek afektif siswa dalam pembelajaran.
- Aspek psikomotor siswa, yang diamati dan dinilai dalam penelitian ini meliputi: kemampuan merancang percobaan/eksperimen, merangkai dan menggunakan alat, mengurupulkan dan mencatat data, dan kelengkapan lembar kerja siswa. Untuk melihat dan mengetahui peningkatan aspek afektif siswa selama proses pembelajaran maka digunakan format lembar observasi aspek psikomotor siswa dalam pembelajaran.

E. Cara Pemecahan Masalah
Masalah tentang kurangnya keaktifan lisan siswa serta rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri akan coba dipecahkan dengan menerapkan model pembelajaran latihan inkuiri, yaitu model pembelajaran yang terdiri dari 5 fase pembelajaran, sebagai berikut:
a. Fase satu yaitu konfrontasi (menghadapkan) dengan masalah.
b. Fase dua yaitu pengurupulan data dan pembuktian.
c. Fase tiga yaitu pengurupulan data dan eksperimentasi.
d. Fase empat yaitu pengorganisasian dan perumusan suatu penjelasan.
e. Fase lima yaitu analisis dari proses inkuiri.

F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari peneltian ini adalah untuk:
1. Mengetahui gambaran mengenai keaktifan lisan siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri.
2. Mengetahui gambaran mengenai hasil belajar aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri.
3. Mengetahui peningkatan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri.
4. Mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran latihan inkuiri yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran.

G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis, siswa, guru maupun sekolah.
1. Bagi penulis dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran fisika melalui penerapan model pembelajaran latihan inkuiri.
2. Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan keaktifan lisan dan hasil belajar serta meningkatkan penguasaan konsep fisika dan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai adanya kebebasan dalam belajar secara aktif, kreatif dan menyenangkan melalui kegiatan penyelidikan sesuai perkembangan berfikirnya.
3. Bagi guru diharapkan dapat menjadi suatu masukan dan informasi yang berharga dalam memperluas pengetahuan dan wawasan mengenai model pembelajaran latihan inkuiri sebagai suatu model pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas serta memotivasi guru untuk melakukan model pembelajaran yang sejenis untuk materi pelajaran lainnya.
4. Bagi sekolah diharapkan dengan meningkatnya keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran di sekolah serta hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi dan pertimbangan dalam pengembangan pembelajaran IPA khususnya fisika.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
"Keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika dapat lebih baik dan meningkat setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri".

SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INKUIRI

(KODE : PTK-0061) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN LISAN DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN INKUIRI




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran akan efektif manakala ada dua unsur yang berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung yaitu, unsur guru dan siswa (Mansyur, 2006). Pertama, unsur guru yaitu guru membantu siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM), memberi umpan balik dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sifatnya menantang, bisa menginspirasikan gagasan siswa, bisa merubah tingkah laku siswa, dan bisa membuat situasi kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menyenangkan dan kondusif. Guru merupakan motor utama yang memiliki tanggung jawab langsung untuk menterjemahkan kurikulum ke dalam aktivitas pembelajaran, dan bukan satu-satunya sumber utama pengetahuan. Hal tersebut dapat dilihat dari tugas dan peran guru antara lain: sebagai komunikator, fasilitator, motivator, model, evaluator, sumber belajar, dan administator. Berkaitan dengan peran guru sebagai seorang fasilitator, bahwa tugas guru adalah memfasilitasi agar informasi baru menjadi bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. Agar informasi menjadi bermakna maka siswa harus dimotivasi untuk aktif, sebab siswa adalah pusat dari kegiatan pembelajaran sehingga siswa harus dilibatkan dalam tanya jawab yang terarah. Kedua, unsur siswa yaitu diharapkan diakhir proses kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa aktif bertanya, mengemukakan gagasan-gagasan, mampu merancang dan menciptakan sesuatu, dan menguasi keterampilan yang diperlukan.
Untuk menumbuhkan sikap aktif dari siswa tidaklah mudah. Fakta yang terjadi adalah guru dianggap sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran fisika.
Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran fisika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat keaktifan, pemahaman, penguasaan materi serta hasil belajar siswa (Saraswati, 2003). Semakin tinggi keaktifan, pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa keaktifan dan hasil belajar fisika yang dicapai siswa masih rendah. Berkaitan dengan masalah tersebut, pada pembelajaran fisika juga ditemukan keragaman masalah sebagai berikut: 1) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) siswa jarang mengajukan pertanyaan, walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham, 3) keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran juga masih kurang, 4) kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan gagasan/pendapat dalam pembelajaran, dan 5) kurangnya keberanian siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas (Saraswati, 2003). Hal ini menggambarkan efektifitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah.
Dari hasil observasi awal yang dilakukan terhadap sampel penelitian yang akan diberikan tindakan, ditemukan bahwa keaktifan lisan siswa dalam pembelajaran fisika masih sangat kurang. Begitu juga dengan hasil belajar siswa yang masih rendah dan masih banyaknya siswa yang belum tuntas.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Persentase keaktifan siswa dihitung berdasarkan jumlah siswa yang aktif dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran fisika. Berdasarkan klasifikasi keaktifan yang dikemukakan oleh Saraswati (2003), bahwa persentase keaktifan lisan siswa tersebut berada dalam kategori sangat kurang. Dilihat dari hasil belajar siswa, untuk ulangan harian pesawat sederhana dengan rata-rata nilai kelas 54,8 dan rata-rata nilai kelas untuk UTS adalah 59,2 serta masih ada siswa yang nilai raport di semester ganjil sama dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu sebesar 56 dan rata-rata nilai raport kelas sebesar 63,2. Dari hasil belajar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa untuk ulangan harian pesawat sederhana masuk dalam kategori rendah, untuk hasil belajar UTS masuk dalam kategori sedang dan nilai raport semester ganjil masuk dalam kategori sedang.
Mengacu pada hasil observasi awal, wawancara dengan guru bidang studi dan hasil studi awal yang sudah dilakukan, penulis merasa tertarik untuk memberikan tindakan yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Untuk mengantisipasi kurang aktif dan rendahnya hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu dicarikan formula pembelajaran yang tepat, sehingga dapat meningkatkan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika. Salah satu formula pembelajaran adalah dengan menerapkan model pembelajaran latihan inkuiri. Inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa, yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi. Menurut Mestre & Cocking (Ibrahim, 2007) dalam inkuiri siswa dimotivasi untuk terlibat langsung atau berperan aktif secara fisik dan mental dalam kegiatan pembelajaran. Lingkungan kelas dimana siswa aktif terlibat dan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran sangat membantu dalam mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka diperlukan suatu kajian yang lebih mendalam untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang lebih terencana serta sistematis dan sesuai dengan hakikat IPA. Untuk itu, penulis mencoba memberikan suatu alternatif model pembelajaran untuk mengatasi permasalahan di atas, yaitu dengan mengadakan suatu penelitian tentang penerapan model latihan inkuiri. Dalam penelitian ini penulis mengambil judul "Upaya Peningkatan Keaktifan Lisan dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Fisika Melalui Penerapan Model Pembelajaran Latihan Inkuiri". Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan memberikan informasi mengenai penerapan model pembelajaran latihan inkuiri agar terciptanya proses belajar fisika yang baik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas, maka perumusan secara umum dari penellitian ini adalah: "Bagaimana peningkatan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?".
Supaya penelitian ini lebih terarah dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka permasalahan umum tersebut dapat dijabarkan secara operasional dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut ini:
a. Bagaimana keaktifan lisan siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?
b. Bagaimana hasil belajar aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?
c. Bagaimana peningkatan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri?
d. Bagaimana keterlaksanaan penerapan model pembelajaran latihan inkuiri yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran?

C. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Keaktifan lisan siswa yang diamati meliputi: keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan gagasan/pendapat, dan mengungkapkan pengetahuan awal.
2. Hasil belajar yang diamati dan dinilai adalah:
- Aspek kognitif siswa, yang meliputi: jenjang kemampuan ingatan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3).
- Aspek afektif siswa, yang meliputi: kerjasama dalam percobaan dan diskusi, keseriusan dan ketelitian dalam pengamatan, kejujuran dalam pengambilan data, dan tanggung jawab terhadap alat.
- Aspek psikomotor siswa, yang meliputi: kemampuan merancang percobaan/eksperimen, merangkai dan menggunakan alat, mengurupulkan dan mencatat data, dan kelengkapan lembar kerja siswa (LKS).
3. Yang dimaksud peningkatan dalam penelitian ini adalah selisih persentase keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam setiap siklus pembelajaran.

D. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang dimulai dengan tahapan menyajikan dan menghadapkan suatu masalah, mengurupulkan dan memvirifikasi data sebanyak-banyaknya, pembuktian dan eksperimen, pengorganisasian atau perumusan suatu penjelasan, dan analisis proses inkuiri. Untuk melihat keterlaksanaan dari setiap tahapan model latihan inkuiri maka digunakan format lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran latihan inkuiri.
2. Keaktifan lisan siswa yang diamati meliputi: keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan gagasan/pendapat, dan mengungkapkan pengetahuan awal. Untuk melihat dan mengetahui peningkatan keaktifan lisan siswa selama proses pembelajaran maka digunakan format lembar observasi keaktifan siswa dalam pembelajaran.
3. Hasil belajar menurut Benyamin Bloom et.al (Clark, 2000) diklasifikasikan ke dalam tiga domain (aspek) yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor.
- Aspek kognitif siswa, yang diamati dan dinilai dalam penelitian ini meliputi: jenjang kemampuan ingatan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Untuk melihat dan mengetahui peningkatan aspek kognitif siswa dalam pembelajaran maka digunakan tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda.
- Aspek afektif siswa, yang diamati dan dinilai dalam penelitian ini meliputi: kerjasama dalam percobaan dan diskusi, keseriusan dan ketelitian dalam pengamatan, kejujuran dalam pengambilan data, dan tanggung jawab terhadap alat. Untuk melihat dan mengetahui peningkatan aspek afektif siswa selama proses pembelajaran maka digunakan format lembar observasi aspek afektif siswa dalam pembelajaran.
- Aspek psikomotor siswa, yang diamati dan dinilai dalam penelitian ini meliputi: kemampuan merancang percobaan/eksperimen, merangkai dan menggunakan alat, mengurupulkan dan mencatat data, dan kelengkapan lembar kerja siswa. Untuk melihat dan mengetahui peningkatan aspek afektif siswa selama proses pembelajaran maka digunakan format lembar observasi aspek psikomotor siswa dalam pembelajaran.

E. Cara Pemecahan Masalah
Masalah tentang kurangnya keaktifan lisan siswa serta rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri akan coba dipecahkan dengan menerapkan model pembelajaran latihan inkuiri, yaitu model pembelajaran yang terdiri dari 5 fase pembelajaran, sebagai berikut:
a. Fase satu yaitu konfrontasi (menghadapkan) dengan masalah.
b. Fase dua yaitu pengurupulan data dan pembuktian.
c. Fase tiga yaitu pengurupulan data dan eksperimentasi.
d. Fase empat yaitu pengorganisasian dan perumusan suatu penjelasan.
e. Fase lima yaitu analisis dari proses inkuiri.

F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari peneltian ini adalah untuk:
1. Mengetahui gambaran mengenai keaktifan lisan siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri.
2. Mengetahui gambaran mengenai hasil belajar aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor siswa dalam pembelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri.
3. Mengetahui peningkatan keaktifan lisan dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri.
4. Mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran latihan inkuiri yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran.

G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis, siswa, guru maupun sekolah.
1. Bagi penulis dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran fisika melalui penerapan model pembelajaran latihan inkuiri.
2. Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan keaktifan lisan dan hasil belajar serta meningkatkan penguasaan konsep fisika dan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai adanya kebebasan dalam belajar secara aktif, kreatif dan menyenangkan melalui kegiatan penyelidikan sesuai perkembangan berfikirnya.
3. Bagi guru diharapkan dapat menjadi suatu masukan dan informasi yang berharga dalam memperluas pengetahuan dan wawasan mengenai model pembelajaran latihan inkuiri sebagai suatu model pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas serta memotivasi guru untuk melakukan model pembelajaran yang sejenis untuk materi pelajaran lainnya.
4. Bagi sekolah diharapkan dengan meningkatnya keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran di sekolah serta hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi dan pertimbangan dalam pengembangan pembelajaran IPA khususnya fisika.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
"Keaktifan lisan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika dapat lebih baik dan meningkat setelah diterapkan model pembelajaran latihan inkuiri".

SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

(KODE : PTK-0060) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar mata pelajaran fisika di kelas VIII salah satu SMP negeri di X, ditemukan siswa kurang aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini diduga karena aktivitas belajar siswa rendah. Hanya sebagian kecil siswa yang aktif terlibat dalam pembelajaran, selebihnya hanya mencatat dan diam di tempat duduk tanpa melakukan aktivitas belajar yang mendukung kegiatan pembelajaran. Selain itu, hasil nilai ulangan harian terakhir hanya 20% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk kompetensi yang diujikan.
Sebagai data penguat untuk mengidentifikasi kondisi tersebut, dilakukan penyebaran angket berkaitan dengan aktivitas belajar siswa. Data yang diperoleh dari penyebaran angket adalah sebagai berikut.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Data tersebut menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan rata-rata 19%, sehingga dalam kegiatan pembelajaran rata-rata hanya 8 orang siswa dari 40 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran dengan aktif. Fakta ini menunjukkan adanya permasalahan dalam pembelajaran fisika di kelas tersebut.
Dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pasal satu tentang sistem pendidikan nasional, "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara".
Sementara itu, menurut Hamalik (2009:171) pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas belajar sendiri, siswa belajar sambil bekerja, dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Selanjutnya, ada beberapa syarat yang diperlukan untuk melaksanakan pengajaran yang efektif, antara lain: 1) belajar secara aktif, baik mental maupun fisik, dalam belajar siswa harus mengalami aktivitas belajar mental, seperti belajar dapat mengembangkan kemampuan intelektual, berfikir kritis, menganalisis dan aktivitas belajar fisik, seperti mengerjakan sesuatu, membuat peta dan lain-lain; 2) pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan yang nyata di masyarakat, bentuk-bentuk kehidupan di masyarakat dibawa ke sekolah, agar siswa mempelajari sesuai dengan kenyataan; 3) dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan siswa untuk menyelidiki sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri, hal ini menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang dikerjakan siswa dan kepercayaan pada diri sendiri (Slameto:2003).
Pembelajaran di kelas tersebut juga belum dapat dikatakan berhasil dan berkualitas. Menurut Mulyasa (2004:104), dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri (Mulyasa, 2004). Sementara itu, sekolah yang bersangkutan menetapkan bahwa untuk mata pelajaran IPA pembelajaran dikatakan berhasil jika 75% siswa telah memperolah nilai mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan sebesar 70, sehingga keberhasilan prestasi belajar kelas belum tercapai.
Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali (Depdiknas:2004). Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik, dapat diwujudkan secara sistematis (Depdiknas: 2004).
Pemaparan tersebut mendorong peneliti untuk memberikan suatu tindakan pada kelas yang bersangkutan agar keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran dapat ditingkatkan, yaitu dengan meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa diharapkan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
Salah satu alternatif tindakan yang dapat diberikan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Salah satu ciri pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas belajar pembelajaran, terdapat sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghapal materi pelajaran, melalui pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan (Sanjaya,2008:214). Pembelajaran berbasis masalah dapat bermanfaat dalam pembelajaran laboratorium karena berisi aktivitas belajar seperti bekerja sama, mempelajari suatu masalah, membuat hipotesis, mengurupulkan informasi dan menganalisisnya dalam suatu kegiatan percobaan (Bilgin, 2009:159). Salah satu keunggulan pembelajaran berbasis masalah adalah dapat meningkatkan aktivitas belajar pembelajaran siswa, dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab terhadap pembelajaran yang mereka lakukan (Sanjaya,2008:220). PBL merupakan metode pembelajaran yang mengkondisikan siswa belajar untuk belajar, bekerjasama dalam kelompok untuk menemukan pemecahan suatu permasalahan di dunia nyata (Kolmos, dkk: 2007). Selain memiliki beberapa keunggulan, terdapat kelemahan model pembelajaran PBL, antara lain membutuhkan minat siswa yang tinggi, pemahaman siswa terhadap masalah dan membutuhkan waktu yang cukup lama (Sanjaya, 2008:221)
Melihat keunggulan model pembelajaran PBL, PBL dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa. Dalam PBL juga terdapat beberapa kelemahan, tetapi akibat dari kelemahan PBL dalam meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa sangat kecil dibandingkan dengan keunggulan PBL. Dengan demikian, tindakan yang akan diberikan pada kelas yang akan ditingkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajarnya adalah penerapan model pembelajaran PBL.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah pada penelitian ini adalah rendahnya aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika di kelas VIII.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika di kelas VIII salah satu SMP Negeri X?

D. Batasan Masalah
Untuk membatasi agar masalah yang dikaji tidak meluas, dibuat batasan masalah sebagai berikut:
1. Peningkatan aktivitas belajar yang dimaksud adalah meningkatnya jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran dengan sumber data berupa hasil observasi. Dalam penelitian ini aktivitas belajar yang akan ditingkatkan meliputi: memperhatikan penjelasan guru, bicara/diskusi (bertanya atau mengemukakan pendapat) baik dalam kegiatan kelompok maupun kelas, melakukan percobaan, mengolah data yang didalamnya termasuk menganalisis permasalahn yang diberikan dan membuat laporan hasil percobaan.
2. Peningkatan prestasi belajar yang dimaksud adalah meningkatnya jumlah siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan dengan sumber data hasil tes pilihan ganda. Prestasi belajar yang akan ditingkatkan pada penelitian ini meliputi tiga tingkat kognitif pertama, yaitu hafalan, pemahaman dan penerapan. Sehingga tes yang diberikan terdiri dari soal yang termasuk pada tingkat hafalan, pemahaman dan penerapan.

E. Cara Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa kelas VIII salah satu SMP Negeri X akan diterapkan model pembelajaran PBL. Penerapan PBL diawalai dengan memunculkan masalah dalam kehidupan sehari-hari pada siswa, masalah ini memerlukan pemecahan untuk diselesaikan. Siswa memperoleh pengetahuan baru melalui kegiatan penyelidikan terhadap masalah yang diberikan.

F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa Kelas VIII salah satu SMP Negeri X dalam pembelajaran fisika.

G. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, peneliti dapat mengetahui peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran PBL.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada guru/peneliti mengenai pembelajaran fisika yang dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa sehingga sedikit demi sedikit guru dapat mengubah perannya menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran.
2. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini dapat mengubah kebiasaan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran fisika. Siswa yang awalnya terbiasa belajar dengan pasif, menerima materi secara langsung dari guru, menjadi aktif dengan memproses pengetahuan yang harus diperolehnya. Selain itu, penelitian ini akan memberikan pengalaman bagi siswa dalam Upaya Peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajarnya.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini akan meningkatkan perbaikan pembelajaran di kelas VIII salah satu SMP Negeri X, khususnya pembelajaran fisika di kelas yang diteliti.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori mengenai PBL, hipotesis tindakan penelitian ini adalah:
"Dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), aktivitas belajar dan prestasi belajar fisika di kelas VIII salah satu SMP Negeri X dapat ditingkatkan"

I. Indikator Keberhasilan
Menurut Mulyasa (2004: 174):
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%).
Mengacu pada teori tersebut, ditetapkan indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
1. Jumlah siswa yang memperhatikan penj elasan guru mencapai 75%
2. Jumlah siswa yang mengemukakan pendapat atau bertanya atau bicara/diskusi baik dalam kegiatan kelompok maupun kelas mencapai 75%
3. Jumlah siswa yang melakukan kegiatan percobaan mencapai 75%
4. jumlah siswa yang melakukan pengolahan data mencapai 75%
5. Jumlah siswa yang membuat laporan hasil percobaan dengan mencapai 75%
6. 75% siswa mencapai prestasi belajar 70 (ketuntasan yang ditetapkan sekolah: 75% siswa setiap kelasnya memiliki prestasi belajar mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan [70]).

J. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang didasarkan pada suatu masalah, masalah ini akan mendorong siswa untuk memahami suatu materi pembelajaran melalui rangkaian aktivitas belajar yang harus dilaluinya dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki.
2. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar.
3. Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes.

SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

(KODE : PTK-0060) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar mata pelajaran fisika di kelas VIII salah satu SMP negeri di X, ditemukan siswa kurang aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini diduga karena aktivitas belajar siswa rendah. Hanya sebagian kecil siswa yang aktif terlibat dalam pembelajaran, selebihnya hanya mencatat dan diam di tempat duduk tanpa melakukan aktivitas belajar yang mendukung kegiatan pembelajaran. Selain itu, hasil nilai ulangan harian terakhir hanya 20% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk kompetensi yang diujikan.
Sebagai data penguat untuk mengidentifikasi kondisi tersebut, dilakukan penyebaran angket berkaitan dengan aktivitas belajar siswa. Data yang diperoleh dari penyebaran angket adalah sebagai berikut.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Data tersebut menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan rata-rata 19%, sehingga dalam kegiatan pembelajaran rata-rata hanya 8 orang siswa dari 40 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran dengan aktif. Fakta ini menunjukkan adanya permasalahan dalam pembelajaran fisika di kelas tersebut.
Dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pasal satu tentang sistem pendidikan nasional, "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara".
Sementara itu, menurut Hamalik (2009:171) pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas belajar sendiri, siswa belajar sambil bekerja, dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat. Selanjutnya, ada beberapa syarat yang diperlukan untuk melaksanakan pengajaran yang efektif, antara lain: 1) belajar secara aktif, baik mental maupun fisik, dalam belajar siswa harus mengalami aktivitas belajar mental, seperti belajar dapat mengembangkan kemampuan intelektual, berfikir kritis, menganalisis dan aktivitas belajar fisik, seperti mengerjakan sesuatu, membuat peta dan lain-lain; 2) pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan yang nyata di masyarakat, bentuk-bentuk kehidupan di masyarakat dibawa ke sekolah, agar siswa mempelajari sesuai dengan kenyataan; 3) dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan siswa untuk menyelidiki sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri, hal ini menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang dikerjakan siswa dan kepercayaan pada diri sendiri (Slameto:2003).
Pembelajaran di kelas tersebut juga belum dapat dikatakan berhasil dan berkualitas. Menurut Mulyasa (2004:104), dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri (Mulyasa, 2004). Sementara itu, sekolah yang bersangkutan menetapkan bahwa untuk mata pelajaran IPA pembelajaran dikatakan berhasil jika 75% siswa telah memperolah nilai mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan sebesar 70, sehingga keberhasilan prestasi belajar kelas belum tercapai.
Peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui berbagai cara, antara lain melalui peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, pelatihan dan pendidikan atau dengan memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan nonpembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan secara terkendali (Depdiknas:2004). Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik, dapat diwujudkan secara sistematis (Depdiknas: 2004).
Pemaparan tersebut mendorong peneliti untuk memberikan suatu tindakan pada kelas yang bersangkutan agar keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran dapat ditingkatkan, yaitu dengan meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa diharapkan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
Salah satu alternatif tindakan yang dapat diberikan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Salah satu ciri pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas belajar pembelajaran, terdapat sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghapal materi pelajaran, melalui pembelajaran berbasis masalah siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan (Sanjaya,2008:214). Pembelajaran berbasis masalah dapat bermanfaat dalam pembelajaran laboratorium karena berisi aktivitas belajar seperti bekerja sama, mempelajari suatu masalah, membuat hipotesis, mengurupulkan informasi dan menganalisisnya dalam suatu kegiatan percobaan (Bilgin, 2009:159). Salah satu keunggulan pembelajaran berbasis masalah adalah dapat meningkatkan aktivitas belajar pembelajaran siswa, dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab terhadap pembelajaran yang mereka lakukan (Sanjaya,2008:220). PBL merupakan metode pembelajaran yang mengkondisikan siswa belajar untuk belajar, bekerjasama dalam kelompok untuk menemukan pemecahan suatu permasalahan di dunia nyata (Kolmos, dkk: 2007). Selain memiliki beberapa keunggulan, terdapat kelemahan model pembelajaran PBL, antara lain membutuhkan minat siswa yang tinggi, pemahaman siswa terhadap masalah dan membutuhkan waktu yang cukup lama (Sanjaya, 2008:221)
Melihat keunggulan model pembelajaran PBL, PBL dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa. Dalam PBL juga terdapat beberapa kelemahan, tetapi akibat dari kelemahan PBL dalam meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa sangat kecil dibandingkan dengan keunggulan PBL. Dengan demikian, tindakan yang akan diberikan pada kelas yang akan ditingkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajarnya adalah penerapan model pembelajaran PBL.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah pada penelitian ini adalah rendahnya aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika di kelas VIII.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Apakah model pembelajaran PBL dapat meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran fisika di kelas VIII salah satu SMP Negeri X?

D. Batasan Masalah
Untuk membatasi agar masalah yang dikaji tidak meluas, dibuat batasan masalah sebagai berikut:
1. Peningkatan aktivitas belajar yang dimaksud adalah meningkatnya jumlah siswa yang terlibat dalam pembelajaran dengan sumber data berupa hasil observasi. Dalam penelitian ini aktivitas belajar yang akan ditingkatkan meliputi: memperhatikan penjelasan guru, bicara/diskusi (bertanya atau mengemukakan pendapat) baik dalam kegiatan kelompok maupun kelas, melakukan percobaan, mengolah data yang didalamnya termasuk menganalisis permasalahn yang diberikan dan membuat laporan hasil percobaan.
2. Peningkatan prestasi belajar yang dimaksud adalah meningkatnya jumlah siswa yang memperoleh nilai mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan dengan sumber data hasil tes pilihan ganda. Prestasi belajar yang akan ditingkatkan pada penelitian ini meliputi tiga tingkat kognitif pertama, yaitu hafalan, pemahaman dan penerapan. Sehingga tes yang diberikan terdiri dari soal yang termasuk pada tingkat hafalan, pemahaman dan penerapan.

E. Cara Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa kelas VIII salah satu SMP Negeri X akan diterapkan model pembelajaran PBL. Penerapan PBL diawalai dengan memunculkan masalah dalam kehidupan sehari-hari pada siswa, masalah ini memerlukan pemecahan untuk diselesaikan. Siswa memperoleh pengetahuan baru melalui kegiatan penyelidikan terhadap masalah yang diberikan.

F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa Kelas VIII salah satu SMP Negeri X dalam pembelajaran fisika.

G. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, peneliti dapat mengetahui peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran PBL.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada guru/peneliti mengenai pembelajaran fisika yang dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa sehingga sedikit demi sedikit guru dapat mengubah perannya menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran.
2. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini dapat mengubah kebiasaan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran fisika. Siswa yang awalnya terbiasa belajar dengan pasif, menerima materi secara langsung dari guru, menjadi aktif dengan memproses pengetahuan yang harus diperolehnya. Selain itu, penelitian ini akan memberikan pengalaman bagi siswa dalam Upaya Peningkatan aktivitas belajar dan prestasi belajarnya.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini akan meningkatkan perbaikan pembelajaran di kelas VIII salah satu SMP Negeri X, khususnya pembelajaran fisika di kelas yang diteliti.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori mengenai PBL, hipotesis tindakan penelitian ini adalah:
"Dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), aktivitas belajar dan prestasi belajar fisika di kelas VIII salah satu SMP Negeri X dapat ditingkatkan"

I. Indikator Keberhasilan
Menurut Mulyasa (2004: 174):
Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%).
Mengacu pada teori tersebut, ditetapkan indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
1. Jumlah siswa yang memperhatikan penj elasan guru mencapai 75%
2. Jumlah siswa yang mengemukakan pendapat atau bertanya atau bicara/diskusi baik dalam kegiatan kelompok maupun kelas mencapai 75%
3. Jumlah siswa yang melakukan kegiatan percobaan mencapai 75%
4. jumlah siswa yang melakukan pengolahan data mencapai 75%
5. Jumlah siswa yang membuat laporan hasil percobaan dengan mencapai 75%
6. 75% siswa mencapai prestasi belajar 70 (ketuntasan yang ditetapkan sekolah: 75% siswa setiap kelasnya memiliki prestasi belajar mencapai KKM untuk kompetensi yang diujikan [70]).

J. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang didasarkan pada suatu masalah, masalah ini akan mendorong siswa untuk memahami suatu materi pembelajaran melalui rangkaian aktivitas belajar yang harus dilaluinya dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki.
2. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar.
3. Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes.

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME

(KODE : PTK-0059) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)




BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Suatu bangsa dikatakan telah memiliki kebudayaan yang maju jika masyarakatnya telah membiasakan diri dalam kegiatan literasi (baca-tulis). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Alwasilah (2003) mengungkapkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menulis. Menulis dapat dipersepsi sebagai bagian literasi yang dapat dijadikan media pengembangan diri. Namun, kondisi objektif yang terjadi pada masyarakat Indonesia hingga saat ini adalah masih membudayanya aliterasi yaitu masyarakat yang dapat membaca dan menulis, tetapi tidak suka membaca dan menulis. Oleh karena itu, keterampilan menulis tampaknya masih sangat sedikit mendapat perhatian. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan yang paling sedikit dilakukan jika dibandingkan dengan kegiatan menyimak, berbicara, dan mambaca. Sebagaimana hasil penelitian Rankin (dalam Cahyani, 2002:84) terhadap keterampilan berbahasa, memperlihatkan perbandingan yang cukup signifikan yaitu keterampilan menyimak 45%, berbicara 30%, membaca 16%, dan menulis 9%.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap siswa kelas VII SMPN X, siswa pada umumnya kurang menguasai bahkan tidak tahu sama sekali tentang karangan narasi. Siswa masih bingung membedakan berbagai jenis karangan. Untuk memulai menulis pun siswa masih kesulitan. Banyak alasan yang muncul mulai dari sulit menemukan ide sampai bingung harus memulai tulisan dari mana.
Memang disadari bahwa keterampilan menulis sangat diperlukan dalam kehidupan modern, tetapi pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum menguasai keterampilan menulis. Hal ini dikemukakan pula oleh Iis Handayani (2007:2) dalam skripsinya yang berjudul Pembelajaran Menulis Karangan Narasi Sugestif dengan Strategi Field-Trip (karyawisata) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Siswa Kelas VII SMP Negeri Z menunjukkan berdasarkan pengamatan di SMPN tersebut, masih banyak siswa yang belum menguasai keempat keterampilan berbahasa terutama keterampilam menulis. Siswa merasakan kesulitan menuangkan ide-ide karena keterbatasan penguasaan kosakata, siswa juga merasakan situasi pembelajaran menulis yang membosankan. Pembelajaran menulis yang sering diterapkan pada siswa sekadar teori saja dan selalu terfokus di dalam kelas. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mau berlatih dan malas menulis.
Berdasarkan hasil angket awal observasi yang dilakukan oleh Iis Handayani kepada siswa kelas VII SMP, pada umumnya mereka lebih menyukai jenis karangan narasi, tetapi setelah diberikan tes awal mengenai pengertian karangan serta unsur-unsur karangan narasi diperoleh data yaitu hanya 13% siswa yang mengetahui pengertian karangan, jenis-jenis karangan serta unsur-unsur karangan narasi selebihnya yaitu 87% mereka masih belum mengetahui pengertian karangan, jenis-jenis karangan, serta unsur-unsur karangan narasi. Keterampilan menulis memang tidak mudah, untuk itu minat menulis pada siswa hams selalu ditanamkan. Kondisi ini secara jujur diakui oleh para guru dan sekaligus merupakan tantangan baginya.
Novel Linda H.P. (2007:2) dalam skripsinya yang berjudul Pembelajaran Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Media Flash Card (Penelitian pada Siswa Kelas XI SMK Y) menunjukkan bahwa banyak siswa yang menganggap keterampilan menulis itu sulit. Masalah yang sekarang dilontarkan dalam pembelajaran mengarang adalah siswa menggunakan diksi yang tepat dan judul yang sejalan dengan tema dan jalan cerita, terutama untuk menulis karangan narasi. Adapun hambatan yang berhubungan dengan kurangnya minat siswa dalam hal tulis-menulis, yaitu sebagai berikut.
1) Mereka kesulitan mengungkapkan pendapatnya ke dalam sebuah bentuk tulisan.
2) Pada umumnya mereka sangat miskin dengan bahan yang akan mereka tulis.
3) Kurang memadainya kemampuan kebahasaan yang mereka miliki.
4) Kurang pengetahuan tentang kaidah-kaidah menulis.
5) Kurang kesadaran akan pentingnya latihan menulis.
Dalam kenyataannya, siswa selalu disibukkan dengan struktur kalimat yang baik dan benar. Hal ini menyebabkan siswa mengalami hambatan dalam menulis. Tulisan siswa menjadi kaku dan kurang santai untuk sebuah tulisan. Jarangnya melakukan latihanpun dapat mengakibatkan siswa kurang terampil dalam menulis. Padahal, menulis merupakan suatu proses yang tidak langsung menghasilkan sebuah produk yang bagus.
Selain itu juga, menurut Leni Mariana Kartiwi (2008:3) dalam skripsinya yang berjudul Penggunaan Teknik Wawancara dalam Pembelajaran Menulis Karangan Narasi pada Siswa Kelas XII SMPN W menjelaskan di dalam KTSP 2006 tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Ini berarti bahwa keterampilam bahasa Indonesia harus menghasilkan siswa-siswa yang terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Untuk mewujudkan hal itu, keempat aspek keterampilan berbahasa perlu diajarkan secara terpadu.
Dalam dunia pengajaran bahasa ada suatu ungkapan yang patut diperhatikan oleh seorang guru bahasa. Ungkapan itu berbunyi: "Teach not about the language." Semboyan ini cocok dan relevan dengan pengajaran keterampilan berbahasa. Mengajarkan bahasa atau berbahasa sangat berbeda dengan mengajarkan tentang bahasa. Mengajarkan berbahasa cocok untuk tujuan keterampilan berbahasa sedang mengajarkan tentang bahasa sesuai dengan tujuan pengajaran yang bersifat pengetahuan.
Menurut Beeby yang dituliskan oleh Tarigan (1986:98), salah satu kelemahan pengajar dalam kelas di Indonesia terletak pada komponen metode. Guru-guru cenderung mengajar secara rutin. Kurang variasi dalam penyampaian materi.
Cara guru mengajar mempengaruhi cara siswa belajar. Bila guru mengajar hanya dengan metode ceramah maka siswa pun belajar dengan cara mengahafal. Bila guru mengajar dengan memberikan banyak latihan maka siswa belajar melalui pengalaman. "Inti dari seluruh proses pendidikan dan hasil akhir dari seluruh rencana pendidikan letaknya dekat dengan hal ini jika bukan pada metode mengajar sendiri maka pada cara belajar yang lahir mengikutinya". (Beeby, 1979:85). Guru keterampilan berbahasa hendaknya jangan sampai tenggelam dalam penyakit lama, yakni, mengajar secara rutin, monoton, tanpa variasi.
Guru keterampilan yang mengetahui aneka ragam teknik pengajaran keterampilan berbahasa dan dapat mempraktikkannya sangat membantu yang bersangkutan dalam mengajarkan keterampilan berbahasa. Pendek kata, pemilihan dan penggunaan teknik pengajaran yang tepat, termasuk pengajaran keterampilan berbahasa, memberikan keuntungan bagi pelaksanaan proses belajar mengajar. Suasana yang menarik, merangsang, menimbulkan gairah belajar yang tinggi. Gairah belajar yang tinggi dapat menimbulkan prestasi belajar yang tinggi pula.
Pembelajaran dengan menggunakan teknik yang menarik memang lebih efektif. Seperti pada penelitian yang telah dilakukan oleh Dini Guswati pada tahun 2006 dengan judul Pembelajaran Menulis Karangan Narasi dengan menggunakan teknik Reka Cerita Gambar. Pada penelitiannya dihasilkan sebuah simpulan bahwa pembelajaran menulis narasi dengan menggunakan teknik reka cerita gambar cukup efektif meningkatkan kemampuan siswa menulis karangan narasi.
Bertolak dari permasalahan di atas peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Metode Konstruktivisme (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII SMPN X).

1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang akan menjadi bahan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Pengajaran menulis yang diharapkan oleh kurikulum masih belum berhasil dibuktikan dengan masih banyaknya siswa yang belum mampu menulis karangan narasi dengan baik.
2) Pengajaran menulis karangan di sekolah tidak dilaksanakan secara maksimal sehingga kemampuan siswa dalam menulis karangan masih kurang.
3) Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang kompleks dan sulit sehingga diperlukan latihan secara intensif.

1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah pada kesulitan siswa dalam menulis karangan narasi. Di sini peneliti memfokuskan jenis karangan narasi ekspositoris. Metode yang peneliti terapkan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu metode konstruktivisme. Konstruktivisme di sini dimaksudkan untuk mengajak siswa mengingat kembali pengalamannya untuk dijadikan ide di dalam menulis karangan narasi. Pengalaman di sini bisa didapatkan dari berbagai hal dan melalui banyak cara misalnya berdiskusi dengan teman, melihat gambar atau foto, mendengarkan musik, dll.

1.4 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana perencanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme?
2) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme?
3) Bagaimana hasil pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme?

1.5 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme .
2) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme.
3) Mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme.
Manfaat yang diharapkan setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Manfaat teoretis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah adanya teori-teori yang bisa diambil dengan menerapkan metode konstruktivisme dalam pembelajaran menulis karangan narasi yang selama ini belum pernah dilakukan oleh orang lain.
2) Manfaat praktis
Manfaat praktis adalah manfaat yang dapat langsung diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Beberapa manfaat praktis yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu:
(a) guru mampu membimbing siswa agar mudah mengeluarkan ide dalam menulis karangan narasi
(b) guru mampu membimbing siswa agar mudah mengembangkan unsur-unsur karangan agar karangan menjadi lebih menarik
(c) guru mampu membimbing siswa agar mudah memutuskan judul apa yang akan ia gunakan dalam pembelajaran menulis karangan narasi.

1.6 Hipotesis Tindakan
Metode konstruktivisme dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa.

1.7 Kriteria Keberhasilan
Dalam penelitian ini, kriteria keberhasilan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Pembelajaran menulis karangan narasi dikatakan berhasil apabila semua aspek dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sudah mencapai kriteria baik.
2) Pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi dikatakan berhasil apabila pelaksanaan berjalan lancar dan semua aspek penilaian proses pembelajaran sudah mencapai kriteria baik.
3) Hasil pembelajaran menulis karangan narasi dikatakan berhasil apabila terdapat kenaikan pada nilai siswa dari setiap siklusnya.

1.8 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman yang terjadi antara peneliti dengan pembaca dalam memahami proposal ini, peneliti akan menjelaskan istilah yang mendasar pada proposal ini sebagai berikut.
1) Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan kejadian yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu.
2) Pembelajaran menulis karangan narasi adalah suatu proses belajar atau pengalaman belajar agar seseorang itu terampil dalam menulis karangan narasi.
3) Metode konstruktivisme adalah suatu metode yang menuntut siswa untuk membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Di sini guru memanfaatkan pengalaman yang telah siswa alami untuk dijadikan sebuah karangan.

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME

(KODE : PTK-0059) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)




BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Suatu bangsa dikatakan telah memiliki kebudayaan yang maju jika masyarakatnya telah membiasakan diri dalam kegiatan literasi (baca-tulis). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Alwasilah (2003) mengungkapkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menulis. Menulis dapat dipersepsi sebagai bagian literasi yang dapat dijadikan media pengembangan diri. Namun, kondisi objektif yang terjadi pada masyarakat Indonesia hingga saat ini adalah masih membudayanya aliterasi yaitu masyarakat yang dapat membaca dan menulis, tetapi tidak suka membaca dan menulis. Oleh karena itu, keterampilan menulis tampaknya masih sangat sedikit mendapat perhatian. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan yang paling sedikit dilakukan jika dibandingkan dengan kegiatan menyimak, berbicara, dan mambaca. Sebagaimana hasil penelitian Rankin (dalam Cahyani, 2002:84) terhadap keterampilan berbahasa, memperlihatkan perbandingan yang cukup signifikan yaitu keterampilan menyimak 45%, berbicara 30%, membaca 16%, dan menulis 9%.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap siswa kelas VII SMPN X, siswa pada umumnya kurang menguasai bahkan tidak tahu sama sekali tentang karangan narasi. Siswa masih bingung membedakan berbagai jenis karangan. Untuk memulai menulis pun siswa masih kesulitan. Banyak alasan yang muncul mulai dari sulit menemukan ide sampai bingung harus memulai tulisan dari mana.
Memang disadari bahwa keterampilan menulis sangat diperlukan dalam kehidupan modern, tetapi pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum menguasai keterampilan menulis. Hal ini dikemukakan pula oleh Iis Handayani (2007:2) dalam skripsinya yang berjudul Pembelajaran Menulis Karangan Narasi Sugestif dengan Strategi Field-Trip (karyawisata) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Siswa Kelas VII SMP Negeri Z menunjukkan berdasarkan pengamatan di SMPN tersebut, masih banyak siswa yang belum menguasai keempat keterampilan berbahasa terutama keterampilam menulis. Siswa merasakan kesulitan menuangkan ide-ide karena keterbatasan penguasaan kosakata, siswa juga merasakan situasi pembelajaran menulis yang membosankan. Pembelajaran menulis yang sering diterapkan pada siswa sekadar teori saja dan selalu terfokus di dalam kelas. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mau berlatih dan malas menulis.
Berdasarkan hasil angket awal observasi yang dilakukan oleh Iis Handayani kepada siswa kelas VII SMP, pada umumnya mereka lebih menyukai jenis karangan narasi, tetapi setelah diberikan tes awal mengenai pengertian karangan serta unsur-unsur karangan narasi diperoleh data yaitu hanya 13% siswa yang mengetahui pengertian karangan, jenis-jenis karangan serta unsur-unsur karangan narasi selebihnya yaitu 87% mereka masih belum mengetahui pengertian karangan, jenis-jenis karangan, serta unsur-unsur karangan narasi. Keterampilan menulis memang tidak mudah, untuk itu minat menulis pada siswa hams selalu ditanamkan. Kondisi ini secara jujur diakui oleh para guru dan sekaligus merupakan tantangan baginya.
Novel Linda H.P. (2007:2) dalam skripsinya yang berjudul Pembelajaran Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Media Flash Card (Penelitian pada Siswa Kelas XI SMK Y) menunjukkan bahwa banyak siswa yang menganggap keterampilan menulis itu sulit. Masalah yang sekarang dilontarkan dalam pembelajaran mengarang adalah siswa menggunakan diksi yang tepat dan judul yang sejalan dengan tema dan jalan cerita, terutama untuk menulis karangan narasi. Adapun hambatan yang berhubungan dengan kurangnya minat siswa dalam hal tulis-menulis, yaitu sebagai berikut.
1) Mereka kesulitan mengungkapkan pendapatnya ke dalam sebuah bentuk tulisan.
2) Pada umumnya mereka sangat miskin dengan bahan yang akan mereka tulis.
3) Kurang memadainya kemampuan kebahasaan yang mereka miliki.
4) Kurang pengetahuan tentang kaidah-kaidah menulis.
5) Kurang kesadaran akan pentingnya latihan menulis.
Dalam kenyataannya, siswa selalu disibukkan dengan struktur kalimat yang baik dan benar. Hal ini menyebabkan siswa mengalami hambatan dalam menulis. Tulisan siswa menjadi kaku dan kurang santai untuk sebuah tulisan. Jarangnya melakukan latihanpun dapat mengakibatkan siswa kurang terampil dalam menulis. Padahal, menulis merupakan suatu proses yang tidak langsung menghasilkan sebuah produk yang bagus.
Selain itu juga, menurut Leni Mariana Kartiwi (2008:3) dalam skripsinya yang berjudul Penggunaan Teknik Wawancara dalam Pembelajaran Menulis Karangan Narasi pada Siswa Kelas XII SMPN W menjelaskan di dalam KTSP 2006 tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Ini berarti bahwa keterampilam bahasa Indonesia harus menghasilkan siswa-siswa yang terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Untuk mewujudkan hal itu, keempat aspek keterampilan berbahasa perlu diajarkan secara terpadu.
Dalam dunia pengajaran bahasa ada suatu ungkapan yang patut diperhatikan oleh seorang guru bahasa. Ungkapan itu berbunyi: "Teach not about the language." Semboyan ini cocok dan relevan dengan pengajaran keterampilan berbahasa. Mengajarkan bahasa atau berbahasa sangat berbeda dengan mengajarkan tentang bahasa. Mengajarkan berbahasa cocok untuk tujuan keterampilan berbahasa sedang mengajarkan tentang bahasa sesuai dengan tujuan pengajaran yang bersifat pengetahuan.
Menurut Beeby yang dituliskan oleh Tarigan (1986:98), salah satu kelemahan pengajar dalam kelas di Indonesia terletak pada komponen metode. Guru-guru cenderung mengajar secara rutin. Kurang variasi dalam penyampaian materi.
Cara guru mengajar mempengaruhi cara siswa belajar. Bila guru mengajar hanya dengan metode ceramah maka siswa pun belajar dengan cara mengahafal. Bila guru mengajar dengan memberikan banyak latihan maka siswa belajar melalui pengalaman. "Inti dari seluruh proses pendidikan dan hasil akhir dari seluruh rencana pendidikan letaknya dekat dengan hal ini jika bukan pada metode mengajar sendiri maka pada cara belajar yang lahir mengikutinya". (Beeby, 1979:85). Guru keterampilan berbahasa hendaknya jangan sampai tenggelam dalam penyakit lama, yakni, mengajar secara rutin, monoton, tanpa variasi.
Guru keterampilan yang mengetahui aneka ragam teknik pengajaran keterampilan berbahasa dan dapat mempraktikkannya sangat membantu yang bersangkutan dalam mengajarkan keterampilan berbahasa. Pendek kata, pemilihan dan penggunaan teknik pengajaran yang tepat, termasuk pengajaran keterampilan berbahasa, memberikan keuntungan bagi pelaksanaan proses belajar mengajar. Suasana yang menarik, merangsang, menimbulkan gairah belajar yang tinggi. Gairah belajar yang tinggi dapat menimbulkan prestasi belajar yang tinggi pula.
Pembelajaran dengan menggunakan teknik yang menarik memang lebih efektif. Seperti pada penelitian yang telah dilakukan oleh Dini Guswati pada tahun 2006 dengan judul Pembelajaran Menulis Karangan Narasi dengan menggunakan teknik Reka Cerita Gambar. Pada penelitiannya dihasilkan sebuah simpulan bahwa pembelajaran menulis narasi dengan menggunakan teknik reka cerita gambar cukup efektif meningkatkan kemampuan siswa menulis karangan narasi.
Bertolak dari permasalahan di atas peneliti bermaksud mengadakan penelitian dengan judul Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi dengan Menggunakan Metode Konstruktivisme (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas VII SMPN X).

1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang akan menjadi bahan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Pengajaran menulis yang diharapkan oleh kurikulum masih belum berhasil dibuktikan dengan masih banyaknya siswa yang belum mampu menulis karangan narasi dengan baik.
2) Pengajaran menulis karangan di sekolah tidak dilaksanakan secara maksimal sehingga kemampuan siswa dalam menulis karangan masih kurang.
3) Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang kompleks dan sulit sehingga diperlukan latihan secara intensif.

1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah pada kesulitan siswa dalam menulis karangan narasi. Di sini peneliti memfokuskan jenis karangan narasi ekspositoris. Metode yang peneliti terapkan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu metode konstruktivisme. Konstruktivisme di sini dimaksudkan untuk mengajak siswa mengingat kembali pengalamannya untuk dijadikan ide di dalam menulis karangan narasi. Pengalaman di sini bisa didapatkan dari berbagai hal dan melalui banyak cara misalnya berdiskusi dengan teman, melihat gambar atau foto, mendengarkan musik, dll.

1.4 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana perencanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme?
2) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme?
3) Bagaimana hasil pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme?

1.5 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme .
2) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme.
3) Mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode konstruktivisme.
Manfaat yang diharapkan setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Manfaat teoretis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah adanya teori-teori yang bisa diambil dengan menerapkan metode konstruktivisme dalam pembelajaran menulis karangan narasi yang selama ini belum pernah dilakukan oleh orang lain.
2) Manfaat praktis
Manfaat praktis adalah manfaat yang dapat langsung diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Beberapa manfaat praktis yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu:
(a) guru mampu membimbing siswa agar mudah mengeluarkan ide dalam menulis karangan narasi
(b) guru mampu membimbing siswa agar mudah mengembangkan unsur-unsur karangan agar karangan menjadi lebih menarik
(c) guru mampu membimbing siswa agar mudah memutuskan judul apa yang akan ia gunakan dalam pembelajaran menulis karangan narasi.

1.6 Hipotesis Tindakan
Metode konstruktivisme dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa.

1.7 Kriteria Keberhasilan
Dalam penelitian ini, kriteria keberhasilan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Pembelajaran menulis karangan narasi dikatakan berhasil apabila semua aspek dalam rencana pelaksanaan pembelajaran sudah mencapai kriteria baik.
2) Pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi dikatakan berhasil apabila pelaksanaan berjalan lancar dan semua aspek penilaian proses pembelajaran sudah mencapai kriteria baik.
3) Hasil pembelajaran menulis karangan narasi dikatakan berhasil apabila terdapat kenaikan pada nilai siswa dari setiap siklusnya.

1.8 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman yang terjadi antara peneliti dengan pembaca dalam memahami proposal ini, peneliti akan menjelaskan istilah yang mendasar pada proposal ini sebagai berikut.
1) Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan kejadian yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu.
2) Pembelajaran menulis karangan narasi adalah suatu proses belajar atau pengalaman belajar agar seseorang itu terampil dalam menulis karangan narasi.
3) Metode konstruktivisme adalah suatu metode yang menuntut siswa untuk membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Di sini guru memanfaatkan pengalaman yang telah siswa alami untuk dijadikan sebuah karangan.

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI PEMANFAATAN MEDIA BALOK CUISENAIRE

(KODE PTK-0058) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI PEMANFAATAN MEDIA BALOK CUISENAIRE




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak usia prasekolah dengan tujuan agar anak dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak dini sehingga mereka dapat berkembang secara wajar sebagai anak. Tujuan dari Pendidikan Anak Usia Dini adalah agar anak memperoleh rangsangan-rangsangan intelektual, sosial, dan emosional sesuai dengan tingkat usianya.
Masitoh (2005 : 1) mengungkapkan bahwa Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang memiliki peranan sangat penting untuk mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan jembatan antara lingkungan keluarga dengan masyarakat yang lebih luas yaitu Sekolah Dasar dan lingkungan lainnya. Sebagai salah satu bentuk pendidikan anak usia dini, lembaga ini menyediakan program pendidikan dini bagi sekurang-kurangnya anak usia empat tahun sampai memasuki jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini khususnya Taman Kanak-Kanak pada dasarnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak sebagaimana dikemukakan oleh Anderson (1993), "Early childhood education is based on a number of methodical didactic consideration the aim of which is provide opportunities for development of children personality". Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak memberi kesempatan untuk mengembangkan kepribadian anak, oleh karena itu pendidikan untuk anak usia dini khususnya di Taman Kanak-Kanak perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak (Masitoh dkk, 2005 :2).
Aspek pengembangan yang akan penulis teliti adalah aspek pengembangan kognitif. Dalam pedoman pembelajaran bidang pengembangan kognitif di Taman Kanak-Kanak (2007:3) disebutkan bahwa pengembangan kognitif adalah suatu proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan sesuatu. Dapat juga dimaknai sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencipta karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan.
Salah satu aspek dalam pengembangan kognitif ini adalah pengembangan pembelajaran matematika. Seperti yang telah dikemukakan oleh Sriningsih (2008:1) bahwa praktek-praktek pembelajaran matematika untuk anak usia dini di berbagai lembaga pendidikan anak usia dini baik jalur formal maupun non formal sudah sering dilaksanakan. Istilah-istilah yang dikenal diantaranya pengembangan kognitif, daya pikir atau ada juga yang menyebutnya sebagai pengembangan kecerdasan logika-matematika. Kegiatan pengembangan pembelajaran matematika untuk anak usia dini dirancang agar anak mampu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan matematika yang memungkinkan mereka untuk hidup dan bekerja pada abad mendatang yang menekankan pada kemampuan memecahkan masalah.
Berhitung merupakan bagian dari matematika, yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar (Depdiknas, 2007 :1). Berhitung di Taman Kanak-Kanak diharapkan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif saja, tetapi juga kesiapan mental, sosial dan emosional. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, berhitung di Taman Kanak-Kanak dilakukan secara menarik dan bervariasi.
Media yang akan menunjang pembelajaran berhitung di Taman Kanak-Kanak dengan cara yang menarik adalah Balok Cuisenaire. Eliyawati, dkk (2005:69) mengemukakan bahwa George Cuisenaire menciptakan balok Cuisenaire untuk mengembangkan kemampuan berhitung anak, pengenalan bilangan dan untuk peningkatan keterampilan anak dalam bernalar.
Dewasa ini, sebagaimana dapat kita saksikan bersama tuntutan berbagai pihak agar anak menguasai konsep dan keterampilan matematika semakin gencar, hal ini mendorong beberapa lembaga pendidikan anak usia dini untuk mengajarkan pengetahuan matematika secara sporadis dan radikal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sriningsih (2008), beberapa lembaga pendidikan anak usia dini mengajarkan konsep-konsep matematika yang lebih menekankan pada penguasaan angka dan operasi melalui metode drill dan praktek-praktek paper-pencil test (Sriningsih, 2008 :1).
Persoalan yang dipaparkan oleh Sriningsih di atas juga telah disaksikan oleh penulis sendiri. Penulis telah melakukan observasi di Taman Kanak-Kanak X mengenai proses pembelajaran matematika khususnya pada aspek kemampuan berhitung. Taman Kanak-Kanak X masih menekankan pengajaran yang berpusat pada guru. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peran guru yang terlalu menguasai kelas. Guru dengan spontan memberikan tugas kepada anak tanpa memberikan pilihan kegiatan kepada anak. Selain itu, kurangnya media dan sumber belajar yang digunakan oleh guru untuk menunjang pembelajaran berhitung.
Kurangnya media dan sumber belajar ini lebih disebabkan oleh minimnya ruangan kelas yang dimiliki oleh Taman Kanak-Kanak X, sehingga kepala sekolah beserta guru merasa kesulitan mencari tempat jika menambahkan media dan sumber belajar terlalu banyak. Permasalahan lain yang terjadi di Taman Kanak-Kanak X adalah metode yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode drill dan praktek-praktek paper-pencil test. Pada pengembangan kognitif khususnya pada pembelajaran berhitung, guru memberikan perintah kepada anak agar mengambil buku tulis dan pensil masing-masing. Selanjutnya guru memberikan contoh kepada anak membuat beberapa buah benda dan benda tersebut diberi lingkaran. Setelah itu, anak harus mengisi jumlah benda tersebut dengan sebuah angka yang cocok. Setelah anak mengerti, guru menyuruh anak untuk membuatnya sendiri jumlah benda tersebut beserta angkanya sebanyak mungkin. Diakui oleh guru di TK X, bahwa sampai saat ini para guru belum menemukan media yang tepat untuk membantu anak dalam kegiatan berhitung. Guru kurang memberikan media yang bervariasi dan juga masih menggunakan metode yang membuat anak merasa bosan dan tidak ada rasa antusias pada anak untuk aktif di dalam kelas. Sehingga kegiatan berhitung yang diterapkan di TK X masih menggunakan metode konvensional atau pengerjaan latihan di buku tulis.
Berdasarkan hasil refleksi awal melalui diskusi dengan gum, disepakati bahwa tindakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah melalui media balok Cuisenaire. Selain bermanfaat bagi anak dalam menemukan media dan metode baru yang dapat menumbuhkan rasa antusias atau minat anak terhadap pembelajaran, penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat juga sebagai bahan masukan bagi guru dalam memilih dan memanfaatkan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dalam mengajarkan berhitung pada anak Taman Kanak-Kanak.
Penelitian yang dilakukan oleh Widawati (2010 : 74-75) di Taman Kanak-Kanak Kenanga membuktikan bahwa penggunaan media pembelajaran yang diangkat dari pengalaman sehari-hari anak dapat membantu pemahaman anak terhadap konsep matematika khususnya berhitung. Melalui pendekatan matematika realistik, berhitung bagi anak bukan hanya menghitung deret angka saja, melaninkan sebuah proses yang lebih bermakna dan menyenangkan. Sedangan penelitian yang dilakukan oleh Andari,A (2008:120-122) di Taman Kanak-Kanak Juwita hasilnya menunjukkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran logika matematika melalui penggunaan balok. Respons anak terhadap materi pembelajaran logika matematika menjadi lebih antusias, hal ini karena sambil bermain balok, anak mampu mengenal dan menguasai materi pembelajaran logika matematika.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di TK X dan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk meneliti secara langsung pemanfaatan media balok Cuisenaire di TK X sebagai salah satu cara meningkatkan kemampuan berhitung dan dapat memperbaiki kondisi pembelajaran yang terjadi di TK X. Penulis menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan judul Upaya Meningkatkan Kemampuan Berhitung Anak Taman Kanak-Kanak melalui Pemanfaatan Media Balok Cuisenaire

B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Umum :
Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak melalui pemanfaatan media balok Cuisenaire?
2. Khusus :
a. Bagaimana kondisi objektif kemampuan berhitung anak sebelum digunakannya media balok Cuisenaire di TK X Kecamatan Y?
b. Bagaimana prosedur penggunaan media balok Cuisenaire dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak di TK X Kecamatan Y?
c. Bagaimana kemampuan berhitung anak TK X Kecamatan Y setelah digunakannya media balok Cuisenaire?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Umum :
Mengetahui upaya meningkatkan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak melalui pemanfaatan media balok Cuisenaire.
2. Khusus :
a. Mengetahui kondisi objektif kemampuan berhitung anak sebelum digunakannya media balok Cuisenaire di TK X Kecamatan Y.
b. Mengetahui prosedur penggunaan media balok Cuisenaire dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak di TK X Kecamatan Y.
c. Mengetahui kemampuan berhitung anak TK X Kecamatan Y setelah digunakannya media balok Cuisenaire.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait diantaranya :
1. Manfaat Teoritis
Memberikan sumbangan keilmuan dalam memahami upaya peningkatan kemampuan berhitung di Taman Kanak-Kanak melalui media balok Cuisenaire.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Anak
Memberikan pengalaman dan wawasan baru pada anak dalam meningkatkan kemampuan berhitung.
b. Bagi Guru
Sebagai bahan masukan bagi gum dalam memilih media yang tepat dan menyenangkan dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak.
c. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan serta mjukan dalam menentukan kebijakan dan program dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan media balok Cuisenaire dalam peningkatan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak.

E. Definisi Operasional Variabel
1. Kemampuan berhitung di Taman Kanak-Kanak dalam penelitian ini dikolaborasikan dari indikator yang terdapat dalam Kurikulum 2004 dan indikator yang terdapat di The National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) yaitu :
a. Menyebutkan umtan bilangan dari 1 sampai 20, yang terdiri dari : menyebutkan urutan bilangan 1-20 secara berurutan, menyebutkan urutan bilangan secara mundur dari 20-1, menyebutkan bilangan sebelum dan sesudah, misalnya sebelum 2 adalah 1, dan sesudah 1 adalah 2.
b. Menghubungkan lambang bilangan dengan balok cuisenaire dari 1 sampai 10, yang terdiri dari : menghubungkan kartu angka yang sesuai dengan balok Cuisenaire dari 1-10 secara berurutan dan acak.
c. Membilang dengan menunjukkan balok Cuisenaire dari 1 sampai 10, yang terdiri dari : menyebutkan nilai dan warna masing-masing balok Cuisenaire dari 1-10 secara berurutan dan acak.
d. Menunjukkan dua kumpulan balok cuisenaire yang lebih banyak dan lebih sedikit.
e. Menghitung dengan cakap yang terdiri dari : menyebutkan hasil penambahan sampai 10 dengan menggunakan balok Cuisenaire dan menyebutkan hasil pengurangan kurang dari 10 dengan menggunakan balok Cuisenaire.
2. Media balok Cuisenaire dalam penelitian ini adalah media yang diciptakan oleh George Cuisenaire yang terdiri dari balok-balok yang berukuran :
1 x 1 x 1 cm dengan warna putih
2 x 1 x 1 cm berwarna merah
3 x 1 x 1 cm berwarna hijau muda
4 x 1 x 1 cm berwarna ungu
5 x 1 x 1 cm berwarna kuning
6 x 1 x 1 cm berwarna hijau tua
7 x 1 x 1 cm berwarna hi tarn
8 x 1 x 1 cm berwarna coklat
9 x 1 x 1 cm berwarna biru tua
10 x 1 x 1 cm berwarna oranye.

F. Asumsi Penelitian
Asumsi pada penelitian ini adalah :
1. Solehuddin (1997) mengungkapkan bahwa "pembelajaran yang hanya menitik beratkan kepada penguasaan baca, tulis dan hitung merupakan sesuatu yang tidak lengkap dan berdampak negatif terhadap perkembangan anak karena hanya akan mengembangkan sebagian aspek dari kecapakan individu sembari "mematikan" pengembangan kecakapan lainnya. Dengan demikian, yang lebih dikehendaki adalah suatu pendekatan dan strategi pendidikan bagi anak yang lebih integratif dan komprehensif serta sesuai dengan dunia dan kebutuhannya" (Sriningsih, 2008 : 3-4).
2. Permainan berhitung merupakan bagian dari matematika, diperlukan untuk menumbuh kembangkan keterampilan berhitung yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar (Depdiknas, 2007).
3. Balok Cuisenaire merupakan media pembelajaran yang dapat membantu kegiatan pembelajaran dalam mengembangkan kemampuan berhitung anak, pengenalan bilangan dan untuk peningkatan keterampilan anak dalam bernalar (Eliyawati, dkk. 2005:69).

G. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang dipergunakan adalah metode penelitian kelas yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat setelah diterapkan pembelajaran dengan menggunakan media balok Cuisenaire terhadap kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak.
Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas (Suharsimi,A. 2002).

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI PEMANFAATAN MEDIA BALOK CUISENAIRE

(KODE PTK-0058) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK TAMAN KANAK-KANAK MELALUI PEMANFAATAN MEDIA BALOK CUISENAIRE




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak usia prasekolah dengan tujuan agar anak dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak dini sehingga mereka dapat berkembang secara wajar sebagai anak. Tujuan dari Pendidikan Anak Usia Dini adalah agar anak memperoleh rangsangan-rangsangan intelektual, sosial, dan emosional sesuai dengan tingkat usianya.
Masitoh (2005 : 1) mengungkapkan bahwa Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang memiliki peranan sangat penting untuk mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan jembatan antara lingkungan keluarga dengan masyarakat yang lebih luas yaitu Sekolah Dasar dan lingkungan lainnya. Sebagai salah satu bentuk pendidikan anak usia dini, lembaga ini menyediakan program pendidikan dini bagi sekurang-kurangnya anak usia empat tahun sampai memasuki jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini khususnya Taman Kanak-Kanak pada dasarnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak sebagaimana dikemukakan oleh Anderson (1993), "Early childhood education is based on a number of methodical didactic consideration the aim of which is provide opportunities for development of children personality". Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak memberi kesempatan untuk mengembangkan kepribadian anak, oleh karena itu pendidikan untuk anak usia dini khususnya di Taman Kanak-Kanak perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak (Masitoh dkk, 2005 :2).
Aspek pengembangan yang akan penulis teliti adalah aspek pengembangan kognitif. Dalam pedoman pembelajaran bidang pengembangan kognitif di Taman Kanak-Kanak (2007:3) disebutkan bahwa pengembangan kognitif adalah suatu proses berpikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan sesuatu. Dapat juga dimaknai sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencipta karya yang dihargai dalam suatu kebudayaan.
Salah satu aspek dalam pengembangan kognitif ini adalah pengembangan pembelajaran matematika. Seperti yang telah dikemukakan oleh Sriningsih (2008:1) bahwa praktek-praktek pembelajaran matematika untuk anak usia dini di berbagai lembaga pendidikan anak usia dini baik jalur formal maupun non formal sudah sering dilaksanakan. Istilah-istilah yang dikenal diantaranya pengembangan kognitif, daya pikir atau ada juga yang menyebutnya sebagai pengembangan kecerdasan logika-matematika. Kegiatan pengembangan pembelajaran matematika untuk anak usia dini dirancang agar anak mampu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan matematika yang memungkinkan mereka untuk hidup dan bekerja pada abad mendatang yang menekankan pada kemampuan memecahkan masalah.
Berhitung merupakan bagian dari matematika, yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar (Depdiknas, 2007 :1). Berhitung di Taman Kanak-Kanak diharapkan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif saja, tetapi juga kesiapan mental, sosial dan emosional. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, berhitung di Taman Kanak-Kanak dilakukan secara menarik dan bervariasi.
Media yang akan menunjang pembelajaran berhitung di Taman Kanak-Kanak dengan cara yang menarik adalah Balok Cuisenaire. Eliyawati, dkk (2005:69) mengemukakan bahwa George Cuisenaire menciptakan balok Cuisenaire untuk mengembangkan kemampuan berhitung anak, pengenalan bilangan dan untuk peningkatan keterampilan anak dalam bernalar.
Dewasa ini, sebagaimana dapat kita saksikan bersama tuntutan berbagai pihak agar anak menguasai konsep dan keterampilan matematika semakin gencar, hal ini mendorong beberapa lembaga pendidikan anak usia dini untuk mengajarkan pengetahuan matematika secara sporadis dan radikal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sriningsih (2008), beberapa lembaga pendidikan anak usia dini mengajarkan konsep-konsep matematika yang lebih menekankan pada penguasaan angka dan operasi melalui metode drill dan praktek-praktek paper-pencil test (Sriningsih, 2008 :1).
Persoalan yang dipaparkan oleh Sriningsih di atas juga telah disaksikan oleh penulis sendiri. Penulis telah melakukan observasi di Taman Kanak-Kanak X mengenai proses pembelajaran matematika khususnya pada aspek kemampuan berhitung. Taman Kanak-Kanak X masih menekankan pengajaran yang berpusat pada guru. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peran guru yang terlalu menguasai kelas. Guru dengan spontan memberikan tugas kepada anak tanpa memberikan pilihan kegiatan kepada anak. Selain itu, kurangnya media dan sumber belajar yang digunakan oleh guru untuk menunjang pembelajaran berhitung.
Kurangnya media dan sumber belajar ini lebih disebabkan oleh minimnya ruangan kelas yang dimiliki oleh Taman Kanak-Kanak X, sehingga kepala sekolah beserta guru merasa kesulitan mencari tempat jika menambahkan media dan sumber belajar terlalu banyak. Permasalahan lain yang terjadi di Taman Kanak-Kanak X adalah metode yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode drill dan praktek-praktek paper-pencil test. Pada pengembangan kognitif khususnya pada pembelajaran berhitung, guru memberikan perintah kepada anak agar mengambil buku tulis dan pensil masing-masing. Selanjutnya guru memberikan contoh kepada anak membuat beberapa buah benda dan benda tersebut diberi lingkaran. Setelah itu, anak harus mengisi jumlah benda tersebut dengan sebuah angka yang cocok. Setelah anak mengerti, guru menyuruh anak untuk membuatnya sendiri jumlah benda tersebut beserta angkanya sebanyak mungkin. Diakui oleh guru di TK X, bahwa sampai saat ini para guru belum menemukan media yang tepat untuk membantu anak dalam kegiatan berhitung. Guru kurang memberikan media yang bervariasi dan juga masih menggunakan metode yang membuat anak merasa bosan dan tidak ada rasa antusias pada anak untuk aktif di dalam kelas. Sehingga kegiatan berhitung yang diterapkan di TK X masih menggunakan metode konvensional atau pengerjaan latihan di buku tulis.
Berdasarkan hasil refleksi awal melalui diskusi dengan gum, disepakati bahwa tindakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah melalui media balok Cuisenaire. Selain bermanfaat bagi anak dalam menemukan media dan metode baru yang dapat menumbuhkan rasa antusias atau minat anak terhadap pembelajaran, penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat juga sebagai bahan masukan bagi guru dalam memilih dan memanfaatkan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dalam mengajarkan berhitung pada anak Taman Kanak-Kanak.
Penelitian yang dilakukan oleh Widawati (2010 : 74-75) di Taman Kanak-Kanak Kenanga membuktikan bahwa penggunaan media pembelajaran yang diangkat dari pengalaman sehari-hari anak dapat membantu pemahaman anak terhadap konsep matematika khususnya berhitung. Melalui pendekatan matematika realistik, berhitung bagi anak bukan hanya menghitung deret angka saja, melaninkan sebuah proses yang lebih bermakna dan menyenangkan. Sedangan penelitian yang dilakukan oleh Andari,A (2008:120-122) di Taman Kanak-Kanak Juwita hasilnya menunjukkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran logika matematika melalui penggunaan balok. Respons anak terhadap materi pembelajaran logika matematika menjadi lebih antusias, hal ini karena sambil bermain balok, anak mampu mengenal dan menguasai materi pembelajaran logika matematika.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di TK X dan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk meneliti secara langsung pemanfaatan media balok Cuisenaire di TK X sebagai salah satu cara meningkatkan kemampuan berhitung dan dapat memperbaiki kondisi pembelajaran yang terjadi di TK X. Penulis menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan judul Upaya Meningkatkan Kemampuan Berhitung Anak Taman Kanak-Kanak melalui Pemanfaatan Media Balok Cuisenaire

B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Umum :
Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak melalui pemanfaatan media balok Cuisenaire?
2. Khusus :
a. Bagaimana kondisi objektif kemampuan berhitung anak sebelum digunakannya media balok Cuisenaire di TK X Kecamatan Y?
b. Bagaimana prosedur penggunaan media balok Cuisenaire dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak di TK X Kecamatan Y?
c. Bagaimana kemampuan berhitung anak TK X Kecamatan Y setelah digunakannya media balok Cuisenaire?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Umum :
Mengetahui upaya meningkatkan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak melalui pemanfaatan media balok Cuisenaire.
2. Khusus :
a. Mengetahui kondisi objektif kemampuan berhitung anak sebelum digunakannya media balok Cuisenaire di TK X Kecamatan Y.
b. Mengetahui prosedur penggunaan media balok Cuisenaire dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak di TK X Kecamatan Y.
c. Mengetahui kemampuan berhitung anak TK X Kecamatan Y setelah digunakannya media balok Cuisenaire.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait diantaranya :
1. Manfaat Teoritis
Memberikan sumbangan keilmuan dalam memahami upaya peningkatan kemampuan berhitung di Taman Kanak-Kanak melalui media balok Cuisenaire.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Anak
Memberikan pengalaman dan wawasan baru pada anak dalam meningkatkan kemampuan berhitung.
b. Bagi Guru
Sebagai bahan masukan bagi gum dalam memilih media yang tepat dan menyenangkan dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak.
c. Bagi Kepala Sekolah
Hasil penelitian dapat dijadikan bahan pertimbangan serta mjukan dalam menentukan kebijakan dan program dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan media balok Cuisenaire dalam peningkatan kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak.

E. Definisi Operasional Variabel
1. Kemampuan berhitung di Taman Kanak-Kanak dalam penelitian ini dikolaborasikan dari indikator yang terdapat dalam Kurikulum 2004 dan indikator yang terdapat di The National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) yaitu :
a. Menyebutkan umtan bilangan dari 1 sampai 20, yang terdiri dari : menyebutkan urutan bilangan 1-20 secara berurutan, menyebutkan urutan bilangan secara mundur dari 20-1, menyebutkan bilangan sebelum dan sesudah, misalnya sebelum 2 adalah 1, dan sesudah 1 adalah 2.
b. Menghubungkan lambang bilangan dengan balok cuisenaire dari 1 sampai 10, yang terdiri dari : menghubungkan kartu angka yang sesuai dengan balok Cuisenaire dari 1-10 secara berurutan dan acak.
c. Membilang dengan menunjukkan balok Cuisenaire dari 1 sampai 10, yang terdiri dari : menyebutkan nilai dan warna masing-masing balok Cuisenaire dari 1-10 secara berurutan dan acak.
d. Menunjukkan dua kumpulan balok cuisenaire yang lebih banyak dan lebih sedikit.
e. Menghitung dengan cakap yang terdiri dari : menyebutkan hasil penambahan sampai 10 dengan menggunakan balok Cuisenaire dan menyebutkan hasil pengurangan kurang dari 10 dengan menggunakan balok Cuisenaire.
2. Media balok Cuisenaire dalam penelitian ini adalah media yang diciptakan oleh George Cuisenaire yang terdiri dari balok-balok yang berukuran :
1 x 1 x 1 cm dengan warna putih
2 x 1 x 1 cm berwarna merah
3 x 1 x 1 cm berwarna hijau muda
4 x 1 x 1 cm berwarna ungu
5 x 1 x 1 cm berwarna kuning
6 x 1 x 1 cm berwarna hijau tua
7 x 1 x 1 cm berwarna hi tarn
8 x 1 x 1 cm berwarna coklat
9 x 1 x 1 cm berwarna biru tua
10 x 1 x 1 cm berwarna oranye.

F. Asumsi Penelitian
Asumsi pada penelitian ini adalah :
1. Solehuddin (1997) mengungkapkan bahwa "pembelajaran yang hanya menitik beratkan kepada penguasaan baca, tulis dan hitung merupakan sesuatu yang tidak lengkap dan berdampak negatif terhadap perkembangan anak karena hanya akan mengembangkan sebagian aspek dari kecapakan individu sembari "mematikan" pengembangan kecakapan lainnya. Dengan demikian, yang lebih dikehendaki adalah suatu pendekatan dan strategi pendidikan bagi anak yang lebih integratif dan komprehensif serta sesuai dengan dunia dan kebutuhannya" (Sriningsih, 2008 : 3-4).
2. Permainan berhitung merupakan bagian dari matematika, diperlukan untuk menumbuh kembangkan keterampilan berhitung yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang merupakan juga dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar (Depdiknas, 2007).
3. Balok Cuisenaire merupakan media pembelajaran yang dapat membantu kegiatan pembelajaran dalam mengembangkan kemampuan berhitung anak, pengenalan bilangan dan untuk peningkatan keterampilan anak dalam bernalar (Eliyawati, dkk. 2005:69).

G. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang dipergunakan adalah metode penelitian kelas yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat setelah diterapkan pembelajaran dengan menggunakan media balok Cuisenaire terhadap kemampuan berhitung anak Taman Kanak-Kanak.
Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas (Suharsimi,A. 2002).

Ping your blog, website, or RSS feed for Free